Ketika Emosi Sudah Di Ubun-ubun

Sejak pagi tadi emosi ini sudah memuncak mencapai ubun-ubun. Rasa lapar, lelah, kecewa, dan ketidakpuasan menjadi umpan terbaik yang memancing emosi saya pagi ini. Rasanya ingin memaki, mengumpat, dan melempar apapun yang ada di dekat saya. Tapi semua keinginan itu hanya berupa keinginan yg berputar di kepala dan bertentangan dengan hati. Hasilnya yang tampak di wajah hanyalah kerutan di dahi dan beberapa tetes air mata.

Kadang kala sangat ingin memaki atas ketidakbenaran yang saya terima, tapi selalu saja sulit diucapkan. Semua makian itu hanya sebatas berputar-putar di kepala. Rasanya sudah ingin meledak kepala dan hati ini menahan kemarahan yang terus bertumpuk tanpa bisa dikeluarkan dengan bebas. Terlepas benar atau tidak apa yang saya lakukan, kenyataan selalu seperti ini yang bisa saya lakukan. Saya menangis bukan lagi karena hati saya sedih atau terluka, tapi karena kemarahan saya yang sudah tidak lagi bisa saya tahan.

Ada yang lebih menyakitkan, saya bukan saja tidak bisa melampiaskan kemarahan saya, tapi saya juga tidak mampu menjelaskan apa yang sebenarnya membuat saya marah. Bahkan dalam buku harian pun saya tidak bisa benar-benar jujur mengakui apa sebenarnya penyebab kemaran dan kesedihan saya. Itu lah kadang yang membuat orang lain tidak bisa memahami saya dan tidak tahu harus berbuat apa. Saya bukanya tidak punya alasan kenapa saya memilih diam. Tapi karena dalam hati kecil terkadang masih ragu apakah benar kemarahan saya ini karena kesalahan orang lain atau karena kesalahan saya sendiri? Apakah orang lain yang terlalu egois atau kah saya sendiri yang kurang sabar? Apakah pantas saya marah? Apakah boleh saya marah? Apakah benar kalau saya marah? Apakah saya akan menyakiti hatinya kalau saya marah? Semua pertanyaan-pertanyaan itu yang membuat saya diam karena saya tidak benar-benar tahu jawabanya. Dan akhirnya airmata lah yang bicara..

Huftt.. Bahkan ketika saya sedang tidak enak hati begini pun saya tidak sanggup menolak permintaan tolong Pak Amin untuk menerjemahkankan drawing bahasa Jepang.. Terpaksa luapan hati ini cukup sampai di sini..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s