Camping at Segara Anakan, Sempu Island

Cagar Alam Pulau Sempu adalah kawasan alam yang berada di bawah naungan Balai Konservasi Sumberdaya Alam (BKSDA) Provinsi Jawa Timur. Pulau ini memiliki luas sekitar 877 hektar, berbatasan dengan Selat Sempu (Sendang Biru) dan berada dalam wilayah Kabupaten Malang, Jawa Timur. Selain Pulau Sempu, di Jawa Timur juga terdapat tempat wisata yang pasti sudah sebagian besar orang Indonesia tahu, yaitu Gunung Bromo. Gunung Bromo mempunyai ketinggian 2.392 meter di atas permukaan laut dan berada dalam empat wilayah, yakni Kabupaten Probolinggo, Pasuruan, Lumajang, dan Kabupaten Malang.

Tanggal 6 Juli 2012 kemarin saya mengunjungi kedua tempat wisata tersebut bersama anak-anak BPI (Backpacker Indonesia) Bandung, Jabodetabek, dan Surabaya. Total semua peserta yang ikut dalam perjalanan kemarin adalah 25 orang. Teman-teman yang berada di Jabodetabek berangkat dari Stasiun Senen Jakarta, sedangkan saya berangkat dari Stasiun Bandung menggunakan Kereta Api Malabar kelas ekonomi jurusan Bandung – Malang Kota Baru dengan tarif Rp. 115.000,- per orang. Kami berangkat dari Bandung pada tanggal 5 Juli 2012 pukul 15.30 dan sampai di stasiun malang pada pukul 07.30 keesokan harinya.

Setibanya di Stasiun Kota Baru Malang, saya langsung menghampiri warung makan yang pertama saya lihat ketika baru turun dari kereta, yaitu warung makan Bu Tawar. Saat itu saya memilih menu nasi kare yaitu nasi dengan campuran ayam santan bumbu kuning seharga Rp.12,000,-.

Sekitar pukul 08.30 rombongan dari Jabodetabek pun tiba di Stasiun Kota Baru Malang. Setelah perwakilan rombongan mengurus beberapa keperluan kami pun bersiap menaiki elf yang sudah disewa untuk membawa kami ke Pantai Sendang Biru. Kami menyewa dua elf, satu elf bisa memuat sekitar 15 orang. Satu rombongan langsung menuju Pantai Sendang Biru, sedangkan satu elf rombongan yang lain menuju malang untuk mengambil tenda, matras, dan peralatan camping lain yang sudah di-booking sebelumnya.

Bersama sebagian peserta dari Jakarta

Rombongan Joy Bromo

Sekitar pukul 13.30 kami pun tiba di Pantai Sendang Biru. Setelah tiba di sana, kami langsung mengurus perijinan masuk kawasan Pulau Sempu dan mengurus sewa kapal. Di kawasan Pantai Sendang Biru ini pun banyak pengunjung yang berwisata bersama keluarga. Sehingga tidak sulit untuk menemukan penjual makanan di sini.

Dalam perjalanan memasuki Pulau Sempu kami menyewa seorang pemandu yang akan memdampingi kami agar tidak tersesat. Karena banyak pula kasus rombongan yang salah jalan atau pun terpisah meskipun berangkat bersama dan sudah mengikuti jalan yang ‘terlihat’ biasa dilewati orang-orang.

 

Pantai Sendang Biru

Pantai Sendang Biru

 

Pantai Sendang Biru

Pantai Sendang Biru

 

Setelah semua urusan selesai dan peserta sudah berkumpul semua, saya dan rombongan pun bersiap menuju kapal yang akan membawa kami ke Pulau Sempu pada pukul 15.30. Satu kapal bisa memuat sekitar 10 sampai 15 orang dengan biaya PP Rp. 100.000 per kapal. Jangan lupa untuk mencatat no HP si pemilik kapal agar bisa dihubungi saat hendak pulang nanti. Menyeberang ke Pulau Sempu dari Pantai Sendang Biru, hanya menghabiskan waktu kurang dari 10 menit.

Menuju kapal

Bersiap menyebrang ke Pulau Sempu

Teluk  di pintu masuk menuju Pulau Sempu di kenal dengan Teluk Semut. Kapal mengantar kami sampai sini. Dan ini lah pemandangan Pantai Sendang Biru dan Teluk Semut yang sempat saya abadikan. Aroma di sekitar teluk ini agak sedikit bau anyir.

Mendekati Teluk Semut , akses menuju Pulau Sempu

Teluk Semut , akses menuju Pulau Sempu

 

Yuk semangat menuju Sempu

Yuk semangat menuju Sempu

 

Sebenarnya tempat yang jadi tujuan utama kami adalah Danau Segara Anakan yang terdapat di Pulau Sempu ini. Menurut banyak orang danau ini tidak kalah indahnya jika dibanding dengan danau yang ada di Pulau Phi Phi Thailand. Perjalanan menuju Segara Anakan lebih kurang satu jam (musim kemarau), menyusuri hutan tropis dataran rendah. Dan kami sangat beruntung karena menurut sang pemandu sudah dua minggu di pulau tersebut tidak turun hujan. Sehingga jalanan menuju Segara Anakan cukup kering dan bisa dilewati walaupun hanya dengan menggunakan sandal gunung atau sepatu biasa. Bahkan ada beberapa orang yang berjalan tanpa alas kaki. Tapi sebenarnya sangat tidak disarankan, karena banyak terdapat bekas potongan akar dan juga batu-batu karang yang tajam. Saat musim hujan perjalanan ke Segara Anakan bisa memakan waktu hingga 3 – 4 jam. Masuk akal memang, karena kondisi jalan akan sangat berlumpur saat musim hujan. Bahkan dalam kondisi dua minggu tidak turun hujan pun masih ada beberapa spot jalan yang sedikit berlumpur. Saat kondisi jalan berlumpur disarankan untuk menyewa sepatu yang ada di Sendang Biru cukup dengan haraga Rp. 10.000.  Secara garis besar sebenarnya tidak begitu sulit melewati jalan menuju Segara Anakan ini saat musim kemarau, hanya ada beberapa spot saja yang memang ada kalanya kita butuh uluran tangan orang lain. Misalnya saja saat jalan begitu menurun atau terlalu menanjak dan saat harus menerobos atau melompati kayu yang melintang di tengah jalan.

 

Semangattt Kaka, jalanannya cukup menanjak nihh..

Semangattt Kaka, jalanannya cukup menanjak nihh..

 

Sore hari menjelang pukul 6

Semangat!

 

Setelah melewati perjalanan yang cukup melelahkan, mulai melihat ada tanda-tanda kehidupan. Air laut mulai terlihat di sisi-sisi jalan. Saat sudah hampir sampai ini lah medannya sedikit agak berat. Saat melewati jalan ini perlu ekstra hati-hati terutama di malam hari, agar tidak terperosok ke dalam jurang yang kedalamannya sekitar 1 sampai 3 meter. Saya sempat mulai khawatir karena hari sudah mulai gelap dan langit pun mulai menurunkan tetesan-tetesan kecil air hujan. Saya membayangkan di mana nanti saya akan berteduh, tenda belum didirikan, tempat tujuan belum juga terlihat. Saya juga khawatir bagaimana jika hujan tidak berhenti, bagaimana perjalanan pulang besok jika jalanan menjadi berlumpur.

Sekitar 10 menit dari semua rasa khawatir itu tiba lah saya di Segara Anakan, dan di sana sudah ada beberapa tenda yang yang berdiri. Banyak pula rombongan yang baru mulai mencari tempat untuk berkemah. Rasa capek saya semakin terasa, karena saya tidak menemukan danau seperti yang ada di internet😥  Yang saya lihat hanya lah hamparan pasir dan batu karang yang tidak terlalu besar. Ya sudah lah mungkin ada di sisi lain yang tersembunyi fikir saya mencoba menghibur diri. Tapi tetap saja yang ada difikiran saya bukan lagi bagaimana sebenarnya keindahan Segara Anakan, tapi bagaimana perjalanan pulang besok, apakah akan masih ada tenaga yang tersisa? Ingin segera pulang dan ingin segera tiba di Sendang Biru lagi. Dan ternyata ada beberapa teman juga yang memiliki fikiran sama dengan saya hahaha..

Setelah semua berkumpul kami pun mulai mencari tempat dan mendirikan tenda, dan mulailah ada ketenangan karena hujan tampaknya mulai reda. Setelah semua tenda (tujuh tenda) berdiri saya dan teman-teman pun mulai membereskan barang-barang bawaan kami. Setelah semua beres dan mendapatkan tenda, acara dilanjutkan dengan masak-memasak. Malam itu kami hanya makan mie rebus dan minum kopi hangat. Alhamdulillah cuaca semakin malam semakin membaik, di langit pun sudah mulai tampak beberapa bintang.

Laparrr

Akrabisasi

Samar-samar terdengar seperti air hujan yang mengenai tenda (ini serius), saya lihat jam sudah menunjukkan pukul 4 pagi. Saya mulai penasaran, apakah pagi ini hujan turun lagi? Berlahan tapi pasti saya buka pintu tenda, dan…. Subhanallah ternyata bukan suara air hujan yang beradu dengan dinding tenda, tapi suara angin dari sisi Segara Anakan. Dan saya semakin terpesona karena di samping bulan yang dengan gagahnya berdiri di tingginya langit, hamparan daratan pasir yang kemarin sore saya lihat kini sudah mulai terisi oleh air laut yang luar biasa jernihnya. Air Danau Segara Anakan ternyata berasal dari air Laut Samudera Hindia. Air itu masuk melalui lubang bulat besar di tebing bagian tenggara. Sehingga saat ombak masuk, air akan terlihat begitu indah tersembur sedikit demi sedikit melalui lubang itu seperti api yang keluar dari mulut naga. Dan semakin siang deburan ombak semakin besar dan kapasitas air yang masuk pun semakin  banyak.. Sungguh surga dunia.

Ngintip dulu yukk

Suasana Subuh di Segara Anakan

Setelah sholat subuh dan sarapan pagi saya pun tidak sabar untuk segera berjalan-jalan di sekitar Segara Anakan. Di pinggir danau sudah ada beberapa orang yang asyik berfoto, ada pula yang tampak menikmati aktifitas snorkeling. Di sudut lain ada banyak kera yang mulai bermunculan di pepohonan, tapi tenang saja karena kera-kera itu tidak mengganggu. Malah mungkin kita yang sebenarnya mulai mengganggu habitat mereka. Di atas tebing ada beberapa orang yang melakukan aktivitas memancing. Sementara yang lain ada pula yang sedang memasak.

Segara Anakan

Segara Anakan pagi hari

 

Lagi liatin yang masak

Muka Bangun Tidur

 

Ibu-ibu masak yukk

Masak Sarapan Dulu

Setelah menyusuri pesisir Segara Anakan, saya pun mulai tergoda untuk naik ke atas tebing dan mencari tahu apa yang ada di baliknya. Dari atas tebing di sisi Segara Anakan ini terlihat hamparan Samudera Hindia yang amat luas. Namun hamparan laut itu tak bisa tersentuh karena dalamnya mungkin ada sekitar 8 – 10 meter dengan ombak yang besar. Agak mengerikan memang jika berdiri terlalu dekat. Bila sampai terjatuh tidak akan ada yang bisa menolong selain Tuhan. Karena itu biasanya tidak diperbolehkan menaiki tebing tersebut. Dan dari semua itu saya hanya bisa bilang “Luar biasa keajaiban Tuhan yang disentuhkan pada Pulau Sempu ini.”

Ini tebingnya

Ini sebenarnya cukup tinggi

 

Samudera Hindia

Samudera Hindia

 

Mancing mania mantappp

Mancing Mania Mantapp

Dan yang juga luar biasa amazing-nya adalah pemandangan Segara Anakan yang dinikmati dari atas tebing.

 

Segara Anakan

Menjelang siang air semakin penuh

 

Cheeeeess

Segara Anakan dilihat dari atas tebing

Setelah puas berdiri di atas tebing, saya pun kembali lagi ke Segara Anakan. Karena semakin siang air semakin pasang, dan keindahaan danau itu pun semakin sempurna. Airnya yang bening membuat ikan-ikan kecil terutama ikan cucut terlihat dengan sangat jelas. Air yang dangkal dan bening ini membuat Segara Anakan memukau setiap pengunjungnya.

Pasir Putih

Pantai Segara Anakan

 

love this spot

Lubang tempat masuknya air dari samudera Hindia

 

Pukul 09.30 kami bersiap-siap untuk meninggalkan Pulau Sempu meskipun belum puas menikmati pesonanya. Padahal sebenarnya pada jam-jam tersebut keindahan Segara Anakan terlihat sempurna.

Diperjalanan pulang saya bertemu dengan banyak orang yang menuju Segara Anakan, bukan hanya orang dewasa, bahkan ada seorang Bapak yang mengajak anaknya yang masih balita. Selain wisatawan lokal banyak pula wisatawan asing yang sepertinya penasaran dengan keindahan Segara Anakan.

 Note:

Rincian share cost

Sarden 2 kaleng                                  : Rp. 84.000

Sewa Tenda dll                                   : Rp. 440.000

Air Mineral                                           : Rp. 240.000

Sewa Elf Malang – Sdg Biru PP         : 1.250.000

Minyak Tanah                                     : Rp. 15.000

Tiket Masuk Sendang Biru                 : Rp. 145.000

SIMAKSI                                             : Rp. 100.000

Kapal Sdg Biru – Teluk Semut PP     : Rp. 200.000

Sewa Guide 2 hari                              : Rp. 250.000

Jasa penitipan barang                        : Rp. 20.000

Total  : Rp. 2.744.000 => @ Rp. 109.760

 

Tips

  1. Jika ingin menyewa elf /mobil dari Malang ke Sendang Biru,  cari lah di biro travel yang jelas dan terpercaya. Berhati-hatilah terhadap supir elf ‘liar’! Lebih baik sewa angkot daripada elf!
  2. Bawalah air mineral lebih jika ingin menginap di Pulau Sempu, karena di sana tidak terdapat air tawar.
  3. Pisahkan barang-barang berharga dalam tas kecil dan bawalah kemana saja anda pergi, karena ada beberapa kasus kehilangan barang.
  4. Yang sebaiknya dibawa adalah obat-obatan pribadi, senter, makanan ringan penahan lapar, pop mie, dan coklat (katanya bisa mencegah buang air besar, karena di sana tidak ada toilet.
  5. Tidak ada salahnya membawa jas hujan yang tipis, jika anda ke Pulau Sempu saat musim hujan.
  6. JANGAN membuang sampah sembarangan.
  7. Dan yang tidak kalah penting yang harus dibawa adalah Kamera

Find more photos https://www.facebook.com/media/set/?set=a.3951568040985.151269.1633665380&type=3

7 thoughts on “Camping at Segara Anakan, Sempu Island

  1. Teh dr stasiun ke sendang biru sy denger bisa pake kereta api, bener ga itu? Terus buat pembayaran tiket masuk sendang biru sama simaksi itu per orang biayanya berapa ya? Saya sama temen2 ada rencana kesana🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s