Backpacker Pulau Sempu – Bromo

Matahari Bromo

Dunia Rahmi @Bromo

Here we are

Wajah-wajah peserta Backpacker Joy Bromo

Perjalanan kali ini merupakan lanjutan dari perjalanan yang sudah saya tulis sebelumnya, cekidot perjalanan sebelumnya di sini.

Cerita ini dimulai dari Sendang Biru.

Setelah satu malam saya dan teman-teman BPI camping di Segara Anakan Pulau Sempu, kami pun melanjutkan backpacker kali ini ke Gunung Bromo. Elf yang kemarin mengantar saya dan teman-teman ke Sendang Biru harusnya datang menjemput kami pukul 14.00. Tapi sampai pukul 16.00 lebih elf yang di nanti tidak kunjung tiba. Ketika dihubungi sang supir memberikan banyak alasan, yang katanya macet lah, yang ada kecelakaan lah, dan ada lah lah yang lain. Hmmmp… Saya pun akhirnya memanfaatkan waktu penantian yang sangat panjang itu dengan berjalan-jalan di sekitar pantai Sendang Biru, makan sate, mengobrol dengan warga sekitar. Setelah ngobrol-ngobrol dengan warga setempat, saya mendapatkan informasi bahwa ternyata banyak supir elf yang sering berkelit seperti itu dengan tujuan agar si pemesan elf membatalkan sewa elf. Dengan demikian mereka dapat meraup keuntungan dari DP yang sudah dibayarkan oleh pemesan. Sebenarnya menurut beberapa orang, di Sendang Biru juga terdapat penyewaan mobil, jadi tidak perlu menyewa mobil PP dari Malang.

Waktu menunjukkan pukul 16.00 lebih, tapi kami tetap sabar menunggu sampai akhirnya elf itu datang sekitar pukul 17.00 kurang. “Mba mobil ini per-nya rusak, jadi harus hati-hati”, itu ucapan sopir elf kita hendak mengantarkan kami dari Sendang Biru  menuju Bromo. Haduhhhh ini sopir membuat saya jadi deg-degan selama perjalanan. Bukan hanya masalah yang katanya ‘per mobil rusak’, tapi cara sopir mengemudikan elf pun membuat jantung saya mau copot. Jalan yang berliku-liku dan curam ditambah dengan supir yang ugal-ugalan sungguh adonan yang sempurna bukan?😦 Tempat duduk sempit dan licin membuat posisi duduk sering merosot-merosot ke bawah juga menambah ‘nikmat’ nya perjalanan malam itu. Arghhhhh…

Sekitar pukul 21.00 kami meminta supir elf untuk membawa ke tempat makan, karena banyak dari kami yang mulai kelaparan. Tapi bukannya membawa kami ke tempat makan, elf malah membawa kami ke sebuah sudut kota malang yang sepi, gelap dan tak ada pedagang makanan satu pun yang terlihat, yang ada hanya dua atau tiga penjual kopi. Tiba-tiba ada elf lain yang mendekat, para supir sempat beradu mulut sebentar, suasana semakin horor saja. Lalu kami ‘dipaksa’ untuk pindah elf dengan alasan yang tidak jelas. Kami memindahkan sendiri barang-barang bawaan kami, bukan hanya itu supir elf juga meminta tambahan biaya dari yang sudah disepakati semula. Kami benar-benar dibawa ke ‘kandang macan’ dan dibuat tidak memiliki pilihan selain menuruti permintaan mereka untuk menambah biaya sewa elf. Banyak sekali ketegangan malam itu meskipun tidak sampai terjadi kekerasan.

Meskipun banyak menemui permasalahan dan kendala, tapi akhirnya sekitar pukul 01.00 dini hari kami sampai juga di Bromo. Udara sangat dingin sampai menusuk tulang, bulan menggantung di langit dengan santainya. Saat yang lain sibuk berfoto-foto dan belanja syal juga kupluk, saya memilih untuk berdiam di dalam elf. Rasa kantuk dan dingin sulit sekali dikalahkan malam itu.

Pos sebelum nanjak

Barang-barang bawaan kami tinggalkan di elf, karena kami tidak menyewa penginapan. Dan sekitar pukul 04.00 dini hari kami melanjutkan perjalanan memasuki kawasan Bromo untuk menyaksikan sunrise menggunakan Colt bak terbuka. Semula saya fikir perjalanan memasuki kawasan Bromo hanya bisa ditempuh dengan menggunakan Jeep, ternyata ada juga Colt bak terbuka, dan bahkan pengendara motor pun banyak yang dapat mencapai puncak kawasan bromo. Pemandangan hamparan perbukitan dan jurang di sepanjang perjalanan lebih bisa dinikmati dengan leluasa jika menggunakan colt bak terbuka. Meskipun udara cukup dingin tapi tidak begitu terasa, karena mata dan fikiran saya lebih fokus pada pemandangan taman langit jdan uga pemandangan di kanan kiri jalan. Selain itu dengan menggunakan Colt bak terbuka lebih dapat menghemat ongkos, karena kendaraan ini bisa menampung 10 – 15 orang.

Brrrrrr.... Di atas Colt bak terbuka

Mengejar matahari dengan colt bak, lebih nikmat daripada naik jeep..😀

Pukul 04.30 kami sudah sampai di spot tempat biasa orang-orang biasa menyaksikan sunrise. Sudah saya duga pengunjung hari itu benar-benar membludak, karena bertepatan dengan acara Jazz Bromo yang diselenggarakan pada malam sebelumnya. Hampir tidak ada tempat untuk sekedar berdiri di depan pagar pembatas, karena di sekitar pagar yang merupakan tempat paling nyaman untuk mengabadikan sunrise sudah dipenuhi dengan orang-orang, ada yg berdiri, ada yg duduk, bahkan ada yang berbaring. Diantara ratusan orang-orang yang sibuk dengan kamera untuk mengabadikan sunrise ternyata saya melihat sosok yang tidak asing lagi, yaitu TOMPI.  Dan ada satu lagi keberuntungan saya malam itu, yaitu saya termasuk salah satu orang yang bisa menyaksikan fenomena bintang jatuh yang waktunya begitu singkat.

With Tompi

Ketemu artis Tompi setelah acara ‘Jazz gunung’

Jangan khawatir bagi yang belum sarapan, karena di sekitar tempat tersebut banyak pedagang yang menjajakan makanan dan minuman hangat. Yang paling banyak dijual adalah pop mie dan kentang goreng yang ditusuk seperti sate. Banyak penjual kentang karena memang banyak penduduk yang menanam kentang di sekitar kawasan Bromo. Meskipun hanya kentang goreng tanpa ada rasa asin atau gurih tapi lumayan untuk menambah energi. Pedangan syal, kupluk, dan baju pun juga ada banyak disana.

Tanda-tanda kemunculan Sang Matahari

Jingga

Awan tumpah

Pemandangan menuju kawah

Setelah semuanya berkumpul kami pun langsung kembali menaiki Colt bak dan segera meluncur menuju penanjakan. Jalan menuju penanjakan cukup curam dan mengerikan. Jalanannya masih berbatu, tikungan curam dan jurang yang sangat dalam di sisi jalan cukup membuat jantung berdetak kencang. Tapi lagi-lagi pemandangan yang sungguh luar biasa bisa mengalahkan semua rasa ketakutan saya. Dan ini lah salah satu keuntungan lagi dengan menaiki mobil Colt bak terbuka, yaitu saya bisa berdiri dan mengabadikan pemandangan di sepanjang jalan menuju penanjakan yang sulit dilakukan jika naik jeep. Saya bisa menikmati seluruh pemandangan tanpa terhalang apapun. Dan yang lebih nikmat adalah sinar matahari bisa mengenai seluruh tubuh yang tadi hampir beku. Perjalanan dari spot menunggu sunrise menuju penanjakan memakan waktu sekitar 30 menit.

IMG_3242

Negeri di atas awan

Wedus gembel

IMG_3229

Bromo

Luar biasa bentuk perbukitan begitu teratur dikelilingi awan putih yang tebal, sungguh bagai negeri diatas awan. Setelah kurang lebih 20 menit melewati pemandangan perbukitan hijau dan awan putih, akhirnya sampai juga di kawasan sekitar penanjakan. Nah kalau sudah ketemu tanah berdebu berarti sudah hampir tiba di penanjakan. Kendaraan roda empat tidak bisa mendekati tangga penanjakan. Area parkir sangat luas, karena itu ingatlah dengan jelas di mana tempat parkir kendaraan yang anda pakai agar tidak tertukar. Untuk menuju penanjakan bisa ditempuh dengan jalan kaki, sewa kuda, atau naik ojeg motor. Jika ditempuh dengan jalan kaki kira-kira akan memakan waktu sekitar 15-20 menit. Ini baru sampai di bawah tangga penanjakan, sedangkan untuk mencapai puncak kawah harus dilalui dengan menaiki sekitar 250 anak tangga. Di sekitar penanjakan tepatnya di sebelah kiri tempat parkir kendaraan ada fasilitas toilet yang bersih dan cukup nyaman. Banyak juga penjual makanan sehingga tidak perlu takut kelaparan bagi yang tidak sempat sarapan.

Penanjakan tampak dari area parkir

Penanjakan tampak dari area parkir

Masih di dekat penanjakan

Masih di sekitar penanjakan

Cantikkkk orang dan langitnya :D

Dunia Rahmi…!

 

Penanjakan

Sampah oh sampah

Penanjakan padat merayap

Penanjakan padat merayap

Pemandangan dilihat dari penanjakan

Pemandangan dilihat dari penanjakan

Penampakan setelah turun dari kawah

Penampakan setelah turun dari kawah

Pukul 10.00 rombongan backpacker yang akhirnya kita namakan “Joy Bromo” akhirnya bersiap-siap meninggalkan penanjakan dan kembali ke Desa Wonokitri. Meskipun masih banyak tempat di kawasan bromo ,seperti hamparan pasir yang dikenal lewat film Pasir Berbisik dan Gurun Savana, yang tidak sempat kami kunjungi karena keterbatasan waktu. Tiba di Wonokitri kami langsung naik elf dan kembali ke Stasiun Kota Baru Malang. Sebenarnya dalam perjalanan menuju stasiun pun kita masih “dikerjain” oleh supir elf yang berujung dengan “UANG”. Setelah mengecek barang barulah disadari ternyata banyak terjadi kehilangan, mulai dari baju, jaket, camera, makanan, dan juga dua buah matras yang kami sewa. Terpaksa harus bayar ganti rugi atas kehilangan tersebut, dan menurut pemilik penyewaan matras kasus kehilangan seperti ini cukup sering terjadi. Karena itu WASPADALAH.. WASPADALAH.. Jaga barang-barang bawaan anda dengan benar, agar kejadian seperti ini tidak terus berulang.

Rincian Share cost:

  • Elf 2 unit Sendang Biru – Bromo – Malang :  Rp. 1.926.000,-
  • Sewa Colt bak 2 unit : Rp. 800.000,-
  • Denda penyewaan alat camping  : Rp. 250.000,-
  • Tiket masuk Bromo : Rp. 50.000, – (kena tipu, seharusnya tidak perlu bayar)
  • Total share cost :  Rp. 3.026.000,-
  • Biaya per orang : Rp. 121.040,-

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s