My Beloved Sister

 

Dedicated for My Beloved Sister..

Hari ini tepat Tiga Tahun Empat Bulan dan Empat hari terhitung sejak 18 June 2009..

Ya tiga tahun lebih sejak kepergiannya, tapi tidak sedetik pun aku bisa melupakannya. Banyak alasan bergejolak dalam hati dan ingatanku.. Ada rasa tidak rela, ada rasa kehilangan yang luar biasa, ada rasa penyesalan, dan juga ada rasa kasihan. Meskipun aku tahu Tuhan memberikan jalan yang terbaik untuknya. Tapi apakah ini jalan terbaik untukku, dan untuk buah hatinya? Sungguh aku tidak tahu.

Terkadang aku masih saja meratapi kepergianya. Tuhan, begitu berat beban yang ia tanggung selama ini, dan aku belum sempat membuatnya bahagia. Aku belum puas bersamanya, mendengarkan kisah-kisahnya. Engkau tahu tidak banyak waktu yang kuhabiskan bersamanya. Masih banyak yang ingin kulakukan untuknya, masih banyak mimpi yang ingin aku raih bersamanya. Kenapa harus berkahir seperti ini dan secepat ini, Tuhan. Tidakkah Engkau lihat aku rapuh tanpanya, aku merasa sendiri tanpa teman berbagi tawa, canda, dan air mata. Tuhan tidakkah Engkau bisa memberikan waktu untukku menunaikan janji-janjiku untuknya? Tuhan aku ingin menemuinya dan akan kukatakan betapa besar rasa sayangku untuknya. Tuhan, entah sudah berapa banyak air mata ini yang telah tumpah sejak kepergiannya. Begitu besarnya rasa sayangku padanya hingga aku masih saja merasa berat hati  menerima jalan terbaik yang Engkau pilih untuknya.

 

Aku tidak pernah lupa bagaimana ini menjagaku sejak aku kecil. Bagaimana ia mencoba menghiburku saat aku jatuh sakit. Aku masih ingat bagaimana iya mencari koin yang mungkin terjatuh di sela-sela rumput sekolah dasar demi agar aku bisa membeli kerupuk opak ditaburi bumbu sate padang kesukaanku.  Aku juga tidak pernah lupa saat pagi itu iya mengajakku ke taman sekolah, ada yang hendak ia tunjukkan padaku. Yaitu sebuah batu bata, ketika ia mengangkat batu bata itu ada sebuah koin 100 rupiah yang masih terlihat sangat baru. Dan itu terus berulang entah sampai berapa lama. Setiap pagi ia mengajakku membuka batu bata itu, dan selalu saja ada koin di bawahnya. Dan ia selalu memberikan koin itu untukku. Sampai saat ini aku tidak mengerti kenapa bisa koin-koin itu ada di bawah batu bata itu.

Dia selalu aku banggakan, karena ia sangat ramah, pandai bergaul, mempunyai banyak teman, pandai berbisnis, dan banyak pria yang menyukainya. Kadang aku merasa iri dengan semua kelebihannya. Aku ingat saat itu aku kelas 1 SD dan ia kelas 2 SD, tapi ia tidak merasa malu membawa sekeranjang rambutan dan menjualnya di sekolah. Aku hanya duduk menemaninya saat itu. Dan saat itu aku masih ingat anak laki-laki bernama Primas mengambil satu ikat rambutan tanpa mau membayar. Dan aku hanya diam tanpa bisa melindunginya. Dia benar-benar selalu bersemangat dan penuh ide. Siang itu ia membawa teman-temannya ke rumah, ternyata ia menjual jambu, mangga, dan bibit bunga yang ia tanam dalam plastik-plastik kecil. Ia juga rajin membuat bunga dari pita jepang dan menjualnya di sekolah. Saat itu ia masih duduk di sekolah dasar. Ia punya banyak bakat, bagaimana mungkin aku tidak membanggakannya…

Tuhan, aku benar-benar merindukannya..

 

“Ya Allah ampunilah dosa-dosa kakakku semasa hidupnya, terimalah amalan ibadahnya, terangilah kuburnya, lapangkan lah kuburnya, permudahkanlah segala urusannya, beratkan lah timbangan amal ibadahnya, permudahkan lah hisabnya, dan tempatkanlah ia di tempat yang terbaik di sisi-Mu bersama orang-orang yang beriman. Amin..”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s