Good morning, my beloved sister..

 

Kita

Kita

18th June 2014

Hari ini tepat lima tahun kepergianmu.. Apa kabarmu hari ini Mba? Apa semuanya baik-baik saja di sana? Apa semuanya indah di sana? Apakah bunga-bunga di sana lebih indah dari bunga-bunga yang pernah kita tanam? Apakah buah-buahan yang ada di sana lebih manis dari buah-buahan di kebun kita? Apa makanan di sana lebih enak dari makanan-makanan yang pernah kita buat? Apakah Mba memakai baju-baju yang bagus dan wangi di sana, lebih bagus dan wangi di banding dulu? Ceritakan padaku bagaimana kehidupanmu di sana, aku akan senang mendengarnya seperti dulu aku selalu setia mendengar cerita-ceitamu. Karena aku tau dan percaya hanya DIA yang paling bisa menyembuhkan luka dan menghapus kesedihanmu, lalu membuatmu bahagia. Karena aku yakin kebahagianmu telah berlipat ganda di sana. Ceritakan padaku, aku rindu mendengar ceritamu.

Mba, rasa rinduku sampai detik ini masih sama seperti dulu. Masih sama seperti ketika kamu masih ada. Masih sama seperti ketika kamu pergi. Semuanya masih sama, tidak berubah sedikitpun. Dan Mba juga masih selalu hadir di dalam mimpiku, dan akupun menghadirkanmu dalam setiap doaku. Aku masih memakai pakai baju tidur mu, dan aku masih mendengarkan berulang-ulang lagu ‘Merindunya’ Pingkan Mamboo.

Tuhan kembalikan dia padaku, karena ku tak sanggup berada jauh darinya. Kirimkan malaikat cinta untuk nya, sampaikan pesan dariku yang selalu merindunya.”

Ini sudah lima tahun sejak kamu pergi Mba, tapi aku tetap tidak bisa sedetik saja tidak mengingatmu. Tolong sampaikan pada Nya, jika sampai saat ini aku masih saja menangis itu bukan meratapi kepergianmu, tapi aku tidak bisa menahan rindu ini. Aku rindu berbagi cerita denganmu, aku rindu jalan-jalan bersama, aku rindu tidur bersama, aku rindu masak bersama, aku rindu menanam bunga dan sayur bersama, aku rindu bermain di sungai bersammu, aku rindu melakukan banyak hal dengan mu. Aku rindu mendengar cerita-cerita cintamu. Aku rindu ingin mewujudkan mimpi-mimpi kita yang belum sempat terwujud. Apa Mba masih ingat impian kita untuk membangun taman bacaan anak-anak di rumah, membangun bimbingan belajar, membuat taman bunga dan kebun sayuran, apa Mba masih ingat semua mimpi-mimpi kita dulu? Aku tidak tau apa aku bisa melakukannya sendiri tanpamu.

Mba,, Akhir-akhir ini aku sering merasa sedih. Semuanya semakin sulit, dan aku tidak punya Mba lagi tempat aku berbagi cerita. Ternyata terkadang begitu melelahkan menjadi seorang kakak tertua. Merasa memegang tanggung jawab atas kebahagiaan adik-adikny. Apakah dulu Mba juga merasa begitu? Aku ingat, dulu aku juga tidak mau tau, aku selalu merasa bahwa apa yang aku butuhkan adalah tanggung jawabmu. Dulu aku tidak mau tau Mba dapatkan dari mana apa-apa yang aku inginkan. Dan engkau tidak pernah mengeluh, selalu saja mendapatkan apa yang aku mau, dan aku tidak tau sekeras apa engkau berjuang mendapatkannya. I feel blessed to have a sister like you. Maafkan aku, pasti dulu aku sangat merepotkanmu. Dan sekarang aku merasakannya, menjadi kakak tertua yang ingin berjuang agar adik-adiknya bahagia, bisa hidup lebih baik, bisa mendapatkan pendidikan yang layak. Aku merasa punya tanggung jawab dengan masa depan dan kebahagiaan mereka. Meskipun yang aku lakukan ini belum seberapa, tapi aku sudah berusaha melakukan semampu yang aku bisa. Terkadang harus menahan rasa sakit, ketika apa yang telah kulakukan tidak dihargai, malah sebaliknya menuduhku merusak masa depannya. Ini benar-benar menyakitkan Mba. Meski seorang kakak tidak berharap adiknya membalas apa yang telah dilakukannya, dan tidak mengapa jika mereka tidak bisa membalasnya, tapi paling tidak jangan melukai perasaannya. Aku mempertaruhkan banyak hal dalam hidupku yang mereka tidak tau. Terkadang aku merasa lelah. Mba maafkan aku berkeluh kesah seperti ini. Aku hampir tidak kuat lagi menanggung semuanya sendirian.

My Beloved Sissy

My Beloved Sissy

Dulu bersusah payah kita berjuang bersama untuk bisa berjalan di jalan yang baik. Bersusah payah kita berusaha untuk mendapatkan pendidikan yang lebih baik. Berjuang keras demi kehidupan yang lebih baik. Apa yang dulu kita lakukan tidak lah mudah. Usiaku waktu itu baru 12 tahun dan engkau 14 tahun, dan kita harus berjuang berdua di negeri orang jauh dari orang tua. Berapa banyak air mata yang menetes saat itu menahan derita. Itu sama sekali tidak mudah buatku dan terlebih buatmu yang harus menjagaku. Tapi pada akhirnya engkau tidak mendapatkan kebahagiaan, semuanya menjadi kacau dan berantakan. Entah apa yang Tuhan rencanakan pada hidup kita. Penderitaanmu hingga akhir hidupmu aku tidak benar-benar bisa merasakannya. Aku tidak pernah benar-benar tau seberat apa beban hidup yang selama itu Mba tanggung sendiri. Maafkan aku yang dulu tidak pernah berdamai dengan pilihan hidupmu, maafkan aku yang pernah tidak mau memahami cara berfikirmu. Maafkan aku yang pernah selalu menyalahkanmu atas segala hal yang tidak mampu aku lakukan. Jika ada yang bertanya penyesalan terbesar dalam hidupku aku akan katakana pada mereka, penyesalan terbesarku adalah aku tidak sempat memelukmu dan menciummu saat-saat terakhir hidupmu, dan aku tidak sempat menemani tidurmu di hari-hari terakhirmu, karena aku terlalu sibuk menjaga buah hatimu. Dan karena pada saat itu aku yakin Mba akan baik-baik saja, aku tidak mau memikirkan kemungkinan terburuk saat itu. Seandainya waktu bisa diputar kembali, aku akan kembali pada waktu itu. Tak akan kutinggalkan Mba sendirian sedetik saja, aku akan berada di sampingmu siang dan malam sepanjang hari. Tidak pernah kulihat orang sesabar dirimu menghadapi segala takdir hidup yang Tuhan gariskan. Maafkan aku Mba.. Maafkan aku yang tidak mampu meringankan bebanmu😥

Mba saat ini kehidupanku semakin kacau dan tidak berarah. Sejak engkau pergi, aku merasa bingung dan hidup dalam kegelapan. Aku tersesat semakin jauh dan sulit bagiku menemukan jalan pulang. Sepertinya aku berjalan di jalan yang salah, aku telah mencoba kembali mencari ujung jalan yang terlihat cahaya. Tapi, aku masih belum menemukannya, semuanya gelap dan semakin gelap. Mba tolong sampaikan pada Nya, aku ingin kembali pada jalan yang seharusnya. Aku akan terus berjuang mendapatkan apa yang pantas aku dapatkan, agar kelak aku bisa menceritakan cerita-cerita bahagia pada mu. I miss you my beloved sister. I miss you so bad.

Hanya ini saja ceritaku hari ini. Nanti akan kutulis lagi surat buatmu, akan kuceritakan cerita-cerita yang lain. Akan ku ceritakan tentang kabar Mamak dan Bapak, dan akan kuceritakan tentang putri kecilmu.. Jangan khawatir, aku akan menjaga putrimu dengan baik. Istirahat yang tenang ya Mba, aku selalu berdoa untuk kebahagiaanmu di sana.. We love you..

We are Family

We are Family

Allah Tuhan semesta alam, aku mohon ampunilah dosa-dosa kakakku, terimalah amalan ibadahnya, lapangkan dan terangilah kuburnya, permudahkan lah urusannya, beratkanlah timbangan amalan ibadahnya, dan tempatkan lah ia di sisi Mu, di surga Mu bersama orang-orang yang beriman. May Allah pour all his love and warmth on you. Amin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s