Joy Bromo Go to Situ Patenggang – Bandung

Joy Bromo

22 September 2012

Sejak tahun 1998 saya sudah menginjakkan kaki di Bumi Parahyangan Bandung, tapi baru kali ini bisa mengunjungi Situ Patenggang. Situ Patenggang (atau sering juga disebut Situ Patengan) merupakan sebuah danau cantik yang terletak di daerah Ciwidey, Jawa Barat.  Kawasan wisata ini berada di dataran tinggi dengan ketinggian sekitar 1600 meter dari permukaan laut dan berada di kaki Gunung Patuha. Karena posisinya yang tinggi, kita akan merasakan udara yang dingin dan segar saat mengunjungi danau ini. Hamparan kebun teh yang membentang sepanjang perjalanan menuju situ ini juga semakin menambah keasrian kawasan wisata Situ Patenggang. Lokasi danau ini juga terletak tidak jauh dari kawasan wisata Kawah Putih. Jadi, jika anda mengunjungi Kawah Putih jangan lupa untuk mampir juga ke Situ Patenggang. Hanya dibutuhkan waktu sekitar limabelas sampai duapuluh menit dari Kawah Putih menuju danau ini dengan menggunakan kendaraan roda dua atau roda empat.

Kebun Teh Ciwidey

Kebun Teh Ciwidey

Selain hamparan kebun teh yang nyaman dipandang mata, Situ Patenggang juga memiliki daya tarik lain yaitu keberadaan Batu Cinta. Sebuah lokasi yang berada di tengah danau dengan sebuah batu besar yang menjadi penandanya. Batu inilah yang disebut dengan Batu Cinta. Batu Cinta berasal dari sebuah legenda masyarakat Jawa Barat. Konon di tempat inilah Ki Santang dan Dewi Rengganis, sepasang kekasih yang harus melewati perjalanan sulit dalam percintaan mereka akhirnya bertemu kembali di tempat ini setelah sebelumnya terpisah. Air yang mengisi danau ini menurut mitos masyarakat Patengan berasal dari deraian air mata kedua manusia tersebut.

Pukul 13.00 saya sudah tiba di Pintu Gerbang Kawah Putih. Meskipun saya sudah pernah mengunjungi Kawah Putih sebelumnya, tapi mengunjungi tempat sesejuk ini tidak akan pernah membosankan. Ada yang berubah dengan kondisi Kawah Putih hari itu, yaitu disebabkan kemarau yang berkepanjangan air kawah pun menjadi surut, dan bau belerang pun sangat tajam tercium. Namun hal ini tidak mengurangi jumlah penggunjung dan juga tidak mengurangi keindahannya.

Kawah Putih saat kemarau

Sekitar pukul 16.45 kami pun meninggalkan kawasan Kawah Putih dan meluncur menuju Situ Patenggang. Karena hari sudah semakin gelap saya pun tidak sempat banyak berhenti untuk mengabadikan keindahan pemandangan kebun teh yang membentang sepanjang perjalanan menuju Situ Patenggang. Padahal kabut sore itu menambah indahnya perbukitan kebun teh. Saya juga tidak sempat menikmati nikmatnya mie rebus dan buah strawberry yang banyak dijajakan di sepanjang menuju Situ Patenggang. Mie instan yang rasanya selalu lebih nikmat dari biasanya.

Kebun Teh Ciwidey

Kebun Teh Ciwidey

Sekitar pukul 17.00 kami sudah tiba di pintu gerbang Situ Patenggang. Kabut semakin tebal turun seiring kepergian matahari. Setelah membayar biaya masuk sebesar Rp.4000 perorang dan biaya sepeda motor Rp.6000 per unit sepeda motor, kami pun langsung mencari tempat parkir yang nyaman. Yang tidak boleh dilewatkan adalah mencicipi gorengan, mie rebus, atau siomay di sekitar danau karena rasanya sangat enak. Bukan karena ada resep spesial, tapi karena udara yang dingin membuat perut cepat lapar dan makanan apapun rasanya menjadi duakali lipat lebih enak. Dan menyantap makanan hangat di tengah cuaca berkabut itu rasanya sperti menemukan oase di gurun pasir.

Awalnya kami tidak akan menyebrang ke Batu Cinta, karena hari mulai gelap dan kabut sangat tebal sore itu. Tapi karena rasa penasaran akhirnya kami pun memutuskan untuk menyebrang menuju Batu Cinta. Untuk mencapai Batu Cinta ini kita bisa menyewa kapal dengan biaya sekitar Rp.100.000 yang dapat memuat sekitar 14 orang. Cukup menegangkan menurut saya, karena kapal ini tidak menggunakan mesin tapi dengan dayung kayu biasa. Jika penumpang terlalu banyak bergerak maka kapal akan oleng. Meskipun menurut teman saya hal itu tidak akan membuat kapal terbalik namun tetap saja saya sangat tegang. Waktu penyebrangan sekitar limabelas menit saja, tapi rasanya seperti satu tahun. Seru sih, tapi super menegangkan (pendapat pribadi)!

Situ Patengang

Situ Patengang

Situ Patengang

Situ Patengang

Ready to Go!

Sampai di Batu Cinta langsung disambut oleh batu-batu besar yang entah dari mana asalnya. Kondisi batu-batu di sana penuh dengan coretan dan debu menutupi hampir semua permukaan batu. Semua terlihat kering dan berdebu akibat kemarau yang berkepanjangan. Matahari telah kembali ke peraduan, membuat keindahan batu cinta tak bisa terlihat jelas. Sejauh mata memandang hanya lah kabut. Keindahan danau pun sulit dinikmati, membuat saya bingung hendak melakukan apa di sana selain foto-foto dengan latar yang juga tak jelas terlihat. Ada beberapa saung tapi telah dipenuhi oleh muda mudi yang mungkin percaya akan mitos bahwa pasangan yang berkunjung ke batu itu, cinta mereka akan abadi.

Batu Cinta

Batu Cinta

Perhatikan photo di bawah ini:

Dia yang bikin masalah

Sesuai rencana sebelum azan magrib kembali menaiki kapal dan meninggalkan Batu Cinta. Tapi gara-gara Si Anne yang sibuk eksis sana sini sampai tidak sadar Blackberry-nya jatuh (saat blackberry masih jadi barang mewah), kita semua jadi sibuk mencari keberadaan si Blackberry hingga hari semakin gelap. Dan parahnya dia baru menyadarai BB-nya tidak ada setelah kapal sudah mulai berlayar meninggalkan tepian. Akhirya kapal memutar haluan lagi dan beberapa pasukan diturunkan untuk mencari si BB. Alhamdulillah ternyata proses pencarian tidak lama, karena BB terjatuh di sekitaran tempat terakhir kita berfoto-foto. Dan kita kembali lagi berlayar dengan cuaca yang sudah sangat gelap, gelapnya mengalahkan kabut asap kebakaran hutan di sumatera. Tidak ada lampu atau cahaya apapun, jarak pandang sangat pendek karena selain hari sudah gelap, kawasan danau juga diliputi kabut tebal. Entah bagaimana juru kapal tersebut bisa khatam jalan pulang, padahal keadaan sangat gelap sekali. bahkan air danau pun nyaris tak terlihat. Saya jadi ngeri sendiri karena terbayang kisah-kisah hantu di danau yang ada di buku-buku cerita Goosebumps yang dulu sering saya baca semasa SMP.

Sampai di pelataran parkir suasana sudah sangat sepi, bahkan petugas parkir sudah masuk rumah. Setelah membayar biaya parkir kami langsung melaju menuju penginapan yang ada di taman unyil. Tidak ada seorangpun yang mandi malam itu, airnya sangat dingin nyaris seperti air es. Acara malam hari dilanjutkan dengan masak mie rebus dan bakar jagung. I’m gonna miss that moment. 

Penginapan Ciwidey

DuniaRahmi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s