In Memorial of Teh Siti

Teh Siti…

Aku mengenalmu sekitar tujuh tahun yang lalu. Ya, tahun 2007 bulan Desember ketika aku jadi karyawan baru di PT. Fuji Spring Indonesia. Meskipun saat aku masuk Fuji Spring, dirimu sedang proses keluar dari perusahaan Jepang di kawasan KIIC karawang itu. Aku mengenalmu sebagai pribadi yang baik, murah senyum, dan tidak pernah memperlihatkan wajah yang suram. Dan saat itu, saat pertama kita bertemu kau belum memakai jilbab, rambut masih dicat warna pirang.

@kampung Daun

@kampung Daun

Meskipun kita tidak lagi bekerja di perusahaan yang sama, tapi kita masih sering main bersama, karena kau berteman baik dengan Mba Ozy teman sekamarku. Rumahmu yang tidak jauh dari kosan kami membuat kita tidak putus silaturahmi. Kau bahkan sering menginap di kosan saat akhir pekan. Kita bercerita hingga larut malam, dan kau selalu mengulang-ulang cerita yang sama setiap kali bertemu. Kita makan dan karaoke di Ramayana Karawang, kita bercerita tentang peluang usaha rumahan, kita bercerita sambil menikmati mangga yang kita petik langsung dari pohon di depan kamar kosan. Aku rindu saat-saat itu. Meskipun usia kita terpaut jauh, tapi kita berteman seperti tanpa ada jarak usia. Dan saat-saat setelah keluar dari Fuji Spring itulah, saat masalah berat sedang menghampirimu, kau memutuskan untuk memakai jilbab dan hidup lebih dekat denga Sang Maha.

@Lisung

@Lisung

Tahun berganti, Tahun 2009.

Tidak lama setelah Mba Ozy memutuskan keluar dari Fuji Spring aku pun ikut keluar, lalu memutuskan mengadu nasib di kota Bekasi. Dan silaturrahmi kita tetap tidak terputus. Kau beberapa kali mengunjungiku di Bekasi. Hanya sekedar untuk berbagi cerita. Kau juga bahkan pernah mengantarku interview ke Lembaga Bahasa yang menyebalkan itu di Kampung Melayu. Setelah itu kita berdiri lama menunggu bus arah Tanjung Priuk yang tak kunjung datang. Akhirnya setelah hampir satu jam berdiri, seorang tukang ojeg yang merasa kasihan menghampiri dan menyarankan kita untuk naik angkot saja karena bus yang kita tunggu memang jarang ada. Berkat kebaikan tukang ojeg dan supir angkot akhirnya kita bisa menemui Mba Ozy yang sedang menunggu Ayahnya di Rumah Sakit.

Tahun berganti, Tahun 2010.

Aku memutuskan kembali ke Bandung, kembali mengadu nasib di kota sejuk yang telah aku tinggali lebih dari 10 tahun ini. Dan pertemanan kita tidak berubah. Kau juga masih rajin menginformasikan kontak Mba Ozy yang sering kali menghilang. Kau masih sering menelponku berjam-jam menceritakan hal yang sama. Ya, hal yang sama yang telah aku dengar berulang-ulang kali sejak di Karawang. Tapi kali ini kau juga menambahkan cerita baru. Cerita seseorang yang tak kunjung meminangmu, dan kamu hampir lelah menunggu. Tapi aku tidak pernah lelah mendengar ceritamu, meskipun itu adalah cerita yang sama. Meskipun kau menelponku hingga larut malam saat orang lain telah dibuai mimpi.

@Lisung

@Lisung

Saat aku di Bandung, dua kali kau bersama lelaki yang kau ceritakan itu mengunjungiku. Kita berkeliling Bandung menikmati udara segar di Kampung Daun, kita juga menikmati kuliner malam di Dago Atas. Dia lelaki yang kau ceritakan itu, lelaki yang akhirnya meminangmu tahun lalu terlihat sangat melindungimu. Aku terkesan saat lelakimu rela kembali ke mobil hanya untuk mengambil jaket karena udara di Lisung sangat dingin. Aku merasa hidupmu sangat sempurna, membuatku sedikit merasa iri. Kau benar-benar seperti Cinderella modern, ya dan aku yakin semua wanita ingin sepertimu.

@Lisung

@Lisung

Di awal-awal kehamilanmu kau sering mengeluh tak bisa makan. Aku menyarankanmu banyak hal agar kuat saat hamil tapi kau tetap bilang tidak bisa. Kau juga mengeluhkan beberapa hal yang mengganggu mu, dan aku menyarankanmu agar kau tidak mengeluh, agar bayi dalam perutmu tetap sehat. Aku memintamu agar selalu bersyukur karena hidupmu yang jauh lebih sempurna dari orang lain, ya semakin sempurna dengan adanya mahluk kecil dalam rahimmu. Itulah pembicaraan terakhir kita di BBM, tanggal 27 Oktober 2014, dua hari sebelum kau kembali masuk rumah sakit. Sejak awal hamil hingga akhir hidupmu kau telah akrab dengan rumah sakit.

Hari senin 3 November 2014 pukul 10:25 malam aku mendengar beritamu dari Silfa. Kau sudah tak sadarkan diri setelah operasi caesar padahal usia kandunganmu baru tujuh bulan. Mereka bilang kau terus mengalami kontraksi dan tekanan darahmu tinggi hingga diputuskan untuk operasi. Setelah itu kau tertidur, dokter bilang kemungkinan mu sadar hanya 5%. Sejak hari itu aku menunggumu update status di BB, setiap hari aku bertanya bagaimana kabarmu. Hingga akhirnya aku mendengar berita dari Ubun malam ini tanggal 8 November 2014, Allah telah menyempurnakan kebahagiaanmu dengan memberikan tempat yang indah di sisi-Nya. Istirahat lah Teh Siti, di sana duniamu aku yakin akan jauh lebih indah. Murid-murid TK yang pernah kau ajar dan anak-anak yatim yang selalu kau santuni, anak yang kau lahirkan, pasti akan menuntunmu ke Surga-Nya. InsyaAllah..

Selamat Jalan Teh, We Love You and will always Miss You..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s