Makan Sayur dan Buah Agar Sehat Sampai Tua

Makan Sayur dan Buah Agar Sehat Sampai Tua

Saya lahir dan menghabiskan masa kecil di pelosok Sumatera sebagai seorang anak petani buah-buahan. Bapak saya menanam beraneka ragam buah-buahan, seperti jeruk, rambutan, mangga, jambu batu, jambu air, duku, nanas, sawo, papaya, dan lain-lain di kebun. Sampai sekarang pohon buah-buahan itu sebagian besar masih ada dan bisa dinikmati anak cucu. Ibu saya juga rajin bercocok tanam sayuran dan TOGA (Tanaman Obat Keluarga) di sekitar rumah seperti kunyit, kencur, jahe, temulawak, lengkuas, dan lain-lain. Jadi sejak kecil saya sudah terbiasa makan buah dan sayuran dari kebun sendiri. Hampir semua buah-buahan dan sayuran saya suka. Selain itu, Ibu juga sering membuat minuman dari tanaman obat, seperti beras kencur, jahe, dan kunyit asam. Sehingga sekarang saya tidak takut dengan rasa asam maupun pahit sekalipun.

Kebun Paprika

Memetik Paprika

Saat dewasa dan tinggal di kota besar saya merasa heran. Ternyata tidak sedikit teman-teman saya yang tidak doyan makan sayur dan buah. Sementara saya selalu merasa ada yang kurang jika tidak makan sayur atau buah dua hari saja. Dan setelah saya tanya ternyata mereka tidak terbiasa makan sayur dan buah sejak kecil. Kebanyakan orang tua mereka adalah orang tua yang sibuk, sehingga jarang memasak sayuran sendiri. Mereka terbiasa makan makanan frozen yang tinggal goreng saat ingin dimakan, seperti sosis, nugget, dan ayam.

Bukan hanya itu saja, saya juga miris melihat teman-teman saya yang memiliki anak kecil dan sering sekali sakit-sakitan. Terkena hujan atau angin sedikit saja langsung demam, batuk, dan pilek. Dugaan saya mungkin karena banyak diantaranya karena anak-anak tidak mendapat ASI yang cukup, dan diperparah dengan jajanan berpengawet, kurangnya asupan gizi dari sayur mayur juga buah-buahan. Padahal kedua jenis pangan alami tersebut sangat dibutuhkan oleh anak-anak pada masa pertumbuhan. Anak-anak sekarang juga terlalu banyak diberi minum susu formula yang manis, sehingga mereka menjadi takut dengan rasa asam buah-buahan atau rasa pahit dari sayuran. Ini sangat memprihatinkan sekali jika terus dibiarkan.

Orang tua harus memiliki kesadaran pentingnya memberikan asupan buah dan sayuran pada anak-anak sejak kecil. Karena buah dan sayuran menawarkan banyak manfaat. Kandungan vitamin dan mineral yang terkandung di dalamnya sangat diperlukan oleh tubuh. Vitamin, mineral, serat, energi, antioksidan, dan air yang terkandung dalam sayur dan buah sangat diperlukan oleh tubuh. Selain dapat melindungi dari penyakit-penyakit berbahaya, juga dapat meningkatkan sistem kekebalan tubuh dalam melawan virus atau bakteri yang dapat menyebabkan penyakit. Jadi, sudah seharusnya mulai sekarang setiap orangtua memberikan contoh dan membiasakan anak makan buah dan sayur sejak dini. Karena kurang mengkonsumsi buah dan sayur akan merugikan orang tua dan diri anak sendiri. Selain bisa kekurangan vitamin dan mineral, anak yang kurang makan buah dan sayur juga lebih berisiko menderita penyakit tertentu saat dewasa. Bahkan penyakit kanker juga bisa diakibatkan karena kurang mengkonsumsi buah-buahan dan sayuran.

Sayuran Buah Organik

Sayuran Buah Organik

Saya sering menyarankan teman-teman saya untuk menanam sayur-sayuran sendiri di rumah agar keluarga dapat menikmati sayur-sayuram segar tanpa pestisida dari kebun sendiri. Tapi kebanyakan mereka beralasan tidak ada lahan dan tidak ada waktu untuk merawatnya. Hingga pada awal tahun 2015 yang lalu saya mulai tertarik pada dunia hidroponik untuk menjawab tantangan keterbatasan lahan untuk bercocok tanam di kota. Hidroponik adalah salah satu cara bercocok tanam yang dapat menjawab permasalahan saya dan permasalahan beberapa orang yang ingin berkebun di lahan yang sempit di perkotaan. Orang biasa menyebutnya dengan urban farming. Pengertian sederhana Hidroponik adalah budidaya menanam dengan memanfaatkan air tanpa menggunakan tanah dengan menekankan pada pemenuhan kebutuhan nutrisi bagi tanaman (Wikipedia, 2014). Sistem bercocok tanam ini sangat mudah. Karena medianya menggunkan air maka kita tidak perlu lahan yang luas. Dan peralatannya pun dapat menggunakan botol-botol bekas di sekitar kita.

Hidroponik

Hidroponik

Sejak setahun yang lalu saya mulai belajar cara bercocok tanam ini melalui berbagai grup di facebook dan mengikuti seminar juga pelatihan hidroponik. Setelah saya praktekkan sendiri ternyata memang mudah dan tidak membutuhkan banyak waktu dan tenaga. Selain itu sekarang bibit-bibit sayuran Cap Panah Merah juga semakin mudah di dapat karena telah tersedia di minimarket dan swalayan terdekat. Banyak jenis bibit sayuran Cap Panah Merah yang bisa dengan mudah kita dapatkan, seperti bibit bayam, pakchoy, caisim, kangkung, paria, tomat, kacang panjang, ketimun, dan lain-lain.

Tahun 2019 ini saya bertekad untuk kembali serius mengajak teman-teman di perkotaan untuk mulai menanam sayuran sendiri di rumah secara hidroponik. Karena ini akan banyak sekali manfaatnya. Setidaknya kita bisa memenuhi kebutuhan sayuran sehat untuk keluarga sendiri. Kita juga dapat mengenalkan bercocok tanam sejak dini pada anak-anak. Selain itu lingkungan rumah juga menjadi lebih hijau, dan botol-botol bekas dapat dipergunakan secara bijak yang secara tidak langsung kita turut mengurangi jumlah sampah botol plastik.

2019-01-18 22_03_16-super indo supermarket (@infosuperindo) • instagram photos and videos

IG @infosuperindo

#cappanahmerah #gobion2018 #generasimakansayurdanbuah

Advertisements
Tim Backpacker Garis Keras

Tim Backpacker Garis Keras

Ruang Tunggu Terminal 3 Soeta

Ruang Tunggu Terminal 3 Bandara Soeta

Setiap orang punya gaya traveling yang berbeda-beda sesuai dengan kepribadiannya. Begitupun dengan saya yang telah mencintai hobby ini sejak remaja. Untuk soal traveling saya lebih suka ala backpacker dengan segala sesuatu saya kerjakan sendiri dari awal. Biasanya ketika hendak memutuskan traveling ke suatu tempat maka langkah yang pertama saya lakukan adalah mencari travelmates. Saya tipe orang yang anti solo traveling. Prinsip saya adalah “Traveling is awesome. But, traveling with friends is more awesome”.

Meskipun anti solo traveling bukan berarti saya suka traveling dengan banyak teman. Saya lebih nyaman traveling dengan satu sampai tiga teman saja dan tidak lebih. Nah, setelah menemukan teman, langkah selanjutnya adalah mengumpulkan informasi tentang transportasi dan akomodasi. Untuk tempat tujuan yang membutuhkan tiket pesawat atau kereta maka saya bisa hunting berhari-hari untuk menemukan harga tiket yang termurah. Dan biasanya saya booking tiket maksimal dua minggu sebelum keberangkatan. Setelah tiket di tangan itu tandanya 98% rencana perjalanan siap dieksekusi.

Setelah itu langkah selanjutnya adalah mencari tempat penginapan yang recommended berdasarkan review di blog atau aplikasi booking penginapan. Penginapan saya booking minimal seminggu sebelum hari keberangkatan. Tapi untuk beberapa tempat yang banyak pilihan penginapannya saya lebih memilih untuk mencari penginapan saat telah sampai di tempat tujuan. Setelah itu, langkah selanjutnya adalah mengumpulkan informasi tentang trasnportasi selama di tempat tujuan. Dan untuk soal ini saya memilih untuk menyewa kendaraan roda dua agar lebih bebas saat mengeksplore tempat tujuan.

Luwansa Beach Resort Labuan Bajo

Luwansa Beach Resort Labuan Bajo

Setalah booking tiket, peginapan, dan sepeda motor beres, maka langkah selanjutnya adalah membuat itinerary. Saya mengumpulkan informasi tempat-tempat yang akan dikunjungi, rute perjalanan, suhu udara, dan lain-lain. Meskipun terkadang apa yang dilakukan saat di tempat tujuan tidak selalu sesuai dengan itinerary, tapi bagi saya itinerary itu penting agar tidak bingung apa yang akan dilakukan disana. Setelah itinerary dibuat maka saatnya membuat daftar barang bawaan. Ini juga hal penting yang tidak pernah saya lewatkan. Karena saya tidak suka ribet dan tidak suka membawa banyak barang saat bepergian. Makan daftar barang bawaan akan saya buat dengan rincian pakaian yang akan dipakai saat berangkat hingga pulang. Lalu pakaian-pakaian itu akan saya pisahkan dan masukkan ke dalam plastik klip sesuai harinya, misalnya pakaian hari pertama, kedua, dan seterusnya.

Selanjutnya list peralatan mandi dan skin care. Sabun cair, sampho, dan hand body saya masukkan dalam botol-botol kecil sekitar 10 hingga 20 ml saja. Dan selanjutnya perintilan yang lain seperti charger, powerbank, buku, jas hujan, tumbler, dan lain-lain sesuai kebutuhan. Dengan menulis daftar rincian saya benar-benar hanya akan membawa barang-barang yang memang saya butuhkan saat traveling. Setelah itu masukkan barang dalam kantong-kantong terpisah sesuai dengan jenisnya sebelum dimasukkan ke dalam ransel.

My Travel Essentials - DuniaRahmi

My Travel Essentials

Dengan mempersiapkan segala sesuatu sendiri sebelum traveling itu membuat saya lebih benar-merasa mengenal, dan memiliki kenangan dan ikatan bathin dengan tempat yang saya kunjungi. Saya pernah mencoba traveling bersama rombongan sekitar 20 orang yang diadakan oleh travel agent, dan setelah kembali pulang saya merasa traveling itu seperti hanya dalam mimpi dan tidak benar-benar saya lakukan. Dan sejak saat itulah saya lebih memilih untuk traveling secara mandiri dan menyiapkan segala sesuatunya sendiri.

Tips Bangun Pagi Untuk Anak Usia Sekolah

Tips Bangun Pagi Untuk Anak Usia Sekolah

Processed with VSCO with a6 preset

Tidur yang berkualitas adalah aktifitas yang sangat penting bagi anak, terutama bagi anak usia sekolah. Tidur malam bukan hanya sekedar waktu untuk mengistirahatkan badan, lebih dari itu tidur nyenyak mempunyai banyak manfaat untuk perkembangan fungsi-fungsi kognitif, menjaga kesehatan, menjaga suasana hati, dan merangsang pertumbuhan.  Hal ini tentunya akan sangat berpengaruh pada prestasi belajarnya di sekolah. Sebaliknya kurang tidur pada anak dapat berakibat buruk bagi si kecil, misalnya anak menjadi hiperaktif, kelelahan, juga terlambat dan tidak bersemangat pergi ke sekolah.

Anak usia sekolah 7-12 tahun membutuhkan waktu tidur malam 8-9 jam. Bila tidur malam anak tidak mencapai jumlah tersebut, maka anak akan sulit bangun di pagi hari dan rewel pada siang hari. Saya mempunyai tips agar anak dapat tidur dengan nyenyak pada malam hari, segar bugar saat bangun pada pagi hari. Dan yang terpenting anak tidak terlambat ke sekolah.

  1. Belajar, mengerjakan PR, dan mempersiapkan peralatan sekolah setelah makan malam sekitar pukul 07.00 malam. Hal ini berfungsi agar anak merasa tenang saat tidur karena semua tugas dan keperluan sekolah telah dipersiapkan.
  2. Minum segelas susu hangat sebelum tidur sekitar pukul 08.00 malam. Beberapa ahli gizi mengatakan susu mengandung asam amino tryptophan yang dapat membuat anak cepat tidur dengan nyenyak. Pilihlah susu yang rendah gula agar anak terhindar dari risiko obesitas, karies gigi, juga diabetes. Dancow FortiGro merupakan salah satu susu yang mengandung banyak nutrisi namun rendah gula.
  3. Mencuci wajah, tangan, kaki, mengganti baju, dan mengosok gigi sebelum tidur. Hal ini merupakan salah satu aktifitas yang dapat mempengaruhi kenyamanan tidur dan baik untuk kesehatan.
  4. Tutup pintu kamar, pasang selimut, dan matikan lampu kamar. Tidur dalam keadaan gelap baik untuk kesehatan, memberikan perasaan nyaman, dan rileks. Dengan begitu tubuh dan fikiran dapat sepenuhnya tidur dengan berkualitas.
  5. Nyanyikan lagu-lagu lembut sebelum tidur. Ibu menyanyikan lagu untuk si buah hati sebelum tidur akan menambah kenyamanan anak. Selain itu kita dapat pula memutar musik klasik yang menenangkan hingga anak tertidur.
  6. Bangunkan anak pada pukul 05.30 pagi, lalu berikan segelas air putih hangat. Ini akan baik untuk memperlancar buang air besar, mengeluarkan racun, dan banyak lagi manfaat lainnya.
  7. Setelah bangun segera mandi agar badan lebih segar. Lalu memakai seragam sekolah, sarapan secukupnya, dan tidak lupa minum susu untuk memberikan tenaga agar anak bersemangat ke sekolah.

Itulah kurang lebih tips tidur nyenyak dan tidak terlambat ke sekolah untuk si buah hati menurut saya. Kualitas tidar anak adalah tanggung jawab orang tua. Semoga bermanfaat.

Ketika Akhirnya Berdiri di Puncak Padar

Ketika Akhirnya Berdiri di Puncak Padar

Tahun 2018 masih bingung mau traveling kemana? Jangan bingung-bingung. Saat ini sudah banyak situs yang menyediakan artikel seputar travel dan wisata. Tapi ingat, agar tidak kecewa setelah jauh-jauh traveling ke tempat impian dan ternyata tidak sesuai dengan harapan atau menghadapi banyak permasalahan, maka pastikan untuk membaca artikel tentang travel dan tempat wisata yang terpercaya dan ter-update. Jangan lupa pula untuk mengumpulkan banyak informasi dan tips-tips sebelum menuju tempat yang kita impikan. Saya sendiri biasanya sebelum traveling selalu mengumpulkan informasi tentang cuaca atau iklim tempat tujuan, transportasi lokal, tempat-tempat yang keren, apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan, juga informasi tentang kuliner yang harus dicoba. Semakin banyak informasi yang dikumpulkan maka akan semakin banyak aktivitas pilihan yang bisa kita lakukan selama traveling.

Akhir tahun kemarin saya kembali mengunjungi destinasi impian banyak orang, yaitu Labuan Bajo di Nusa Tenggara Timur. Sebenarnya tahun 2014 saya sudah pernah traveling kesini, namun karena waktu itu kurang persiapan akhirnya saya merasa tidak maksimal mengeksplorasi tempat tersebut. Saat itu saya fikir cuaca akan panas selama live on board sehingga saya tidak membawa jaket dan saya juga lupa membawa obat-obatan. Tapi ternyata udara sangat dingin dan akhirnya saya pun masuk angin. Meskipun ini adalah penyakit yang dianggap sepele, tapi cukup mengganggu kenikmatan traveling. Dan karena saat itu kondisi saya kurang fit makanya selama 3 hari 2 malam saya hanya mengunjungi tiga tempat, yaitu Pulau Rinca, Pink Beach, dan Pulau Komodo.

Dermaga Labuan Bajo

Belajar dari kesalahan traveling sebelumnya, saya banyak mengumpulkan informasi terutama tentang kondisi cuaca dan tempat-tempat yang wajib di-eksplore selain ketiga tempat yang pernah saya kunjungi sebelumnya. Traveling kemarin saya pergi dengan hati senang. Kenapa? Karena, jika dulu saya hanya pergi berdua, kemarin saya pergi berempat dengan sahabat-sahabat dekat sehingga suasana lebih ramai dan menyenangkan. Persiapan juga lebih matang. Ketakutan mabuk laut dan tidak nafsu makan seperti dulu selama live on board sama sekali tidak terjadi. Banyak hal yang dulu tidak berani saya lakukan, kemarin justru jadi hal yang senang saya lakukan. Salah satunya adalah duduk di ujung kapal selama kapal berlayar.

 

Hari itu setibanya di Labuan Bajo kita langsung berlayar dan tempat pertama yang kami kunjungi adalah Pulau Kelor. Di Pulau Kelor terdapat sebuah bukit kecil, tapi cukup curam. Tidak mudah memang untuk sampai di puncaknya, dan kita pun harus berhenti beberapa kali untuk mengambil nafas. Apalagi tidak ada yang bisa dijadikan pegangan selain bebatuan yang kita jadikan sebagai pijakan juga. Tapi setelah sampai di atas bisa dilihat sendiri bagaimana indahnya pemandangan di bawah sana. Semakin syahdu oleh angin sepoi-sepoi yang berhembus di atas bukit pulau ini. Saat berada di puncak dengan lukisan alam seindah ini rasanya tidak ingin turun cepat-cepat, apalagi untuk menuruni bukit ini butuh tenaga lebih ekstra lagi. Karena kita benar-benar harus kuat menapakkan kaki pada batu pijakan sambil menahan beban tubuh dan bukan beban hidup. Hehe. Bahkan salah satu teman saya harus dipegangi oleh dua orang saat menuruni bukit ini. Kegiatan di tempat ini bukan hanya trekking ke atas bukit. Di tempat ini kita juga bisa melakukan aktivitas snorkeling. Kemarin setelah turun dari bukit saya memilih duduk santai di bawah pohon, setelah itu pindah duduk santai di atas pohon yang tumbuh di pinggir pantai sementara teman yang lain memilih snorkeling.

Setelah dari Pulau Kelor kita lanjut berlayar menuju Pulau Kalong. Tepat saat matahari mulai terbenam kita tiba di sana.  Dan sore yang indah itu saya ditemani kopi dan pisang goreng. Dengan udara yang semakin dingin kita memilih duduk-duduk di bagian atap kapal sambil menyaksikan ribuan bahkan mungkin jutaan kalong yang beterbangan di atas kepala dan di bawah langit yang berubah jingga. Saya tidak pernah membayangkan sebelumnya jika jumlah kalongnya sebayak itu dan sebesar-besar itu. Ini sungguh menakjubkan sekali. Dan malam itu kita bermalam di atas kapal di Pulau Kalong lengkap dengan sajian makan malam yang jika mengingatnya rasanya ingin kembali lagi dan lagi kesana.

 

Keesokan harinya kapal kembali berlayar menuju Pulau Padar. Ini pulau yang paling sangat ingin saya datangi. Karena keeksotisan pemandangannya membuat saya jatuh cinta berkali-kali meski awalnya hanya melihat di foto. Pulau Padar adalah pulau ketiga terbesar di kawasan Taman Nasional Komodo. Letaknya berada di antara Pulau Rinca dan Pulau Komodo. Untuk menikmati panorama yang seindah ini harus trekking dengan medan yang tidak sulit namun cukup panjang dan melelahkan. Dan pagi itu setelah subuh kita berlayar menuju Pulau Padar ditemani ikan-ikan Lumba-Lumba yang menari-nari tidak jauh dari kapal. Bisa dibayangkan bagaiman kerennya pagi itu! Lalu sekitar jam 07.00 pagi kita tiba di Pulau Padar dan langsung trekking ditemani matahari pagi tanah Flores yang sungguh luar biasa semangatnya. Apalagi saat itu suhu udara sedang tinggi, yaitu berkisar 36°C, membuat perjuangan untuk sampai ke puncak ini bukanlah perkara mudah. Tidak ada pohon rindang, jadi duduk dibalik bongkahan batu besar adalah cara paling nyaman untuk sejenak menghindari ganasnya sinar matahari. Tapi demi bisa mengabadikan momen dan membayar rasa penasaran, akhirnya dengan berat badan saya langkahkan kaki dengan penuh semangat. Meskipun harus berhenti berkali-kali saat menemukan lokasi yang strategis. Iya, berhenti di lokasi strategis untuk duduk, minum, dan selfie seperti ini.  Cekrek.. Cekrek.. Upload!

 

Puas rasanya akhirnya bisa berdiri di bukit Pulau Padar dengan pemandangan panorama “TIGA DANAU” di laut Flores yang fenomenal. Selain ke Pulau Kelor, Pulau Kalong, dan Pulau Padar, saya juga mengunjugi Pulau Komodo, Pulau Kanawa, Pink Beach, Goa Batu Cermin. Dan ini adalah salah satu traveling yang paling seru, keren, menyenangkan, berkesan, tak terlupakan, dan entah dengan kata apa lagi yang sepadan dengan perasaan puas saya pada traveling kali itu.

 

Setiap tahun saya selalu punya resolusi destinasi baru yang ingin saya jelajahi. Dan Alhamdulilah banyak yang sudah terwujud. Itulah mengapa saya senang mengabadikan resolusi di dalam tulisan, karena yakin alam akan berkonspirasi untuk mewujudkannya. Dan tahun ini destinasi wisata yang masuk dalam resolusi saya adalah Jepang. Alasannya adalah karena saya bisa berbahasa Jepang. Ini serius. Meskipun kuliah di jurusan Bahasa Jepang tapi dulu saya tidak begitu tertarik pergi ke Jepang, karena lebih ingin pergi ke Italia. Sekarang saya ingin ke Jepang, ada banyak alasan, antara lain ingin mengeksplore kuliner dan tempat-tempat wisata warisan dunia di kota Nikko, Jepang. Keinginan itu tercipta setelah saya sering berkomunikasi dengan teman dunia maya yang merupakan orang Jepang dan tinggal di Nikko.

Resolusi 2018 Dunia Rahmi

Sebagai langkah awal untuk mewujudkan keinginan adalah seperti yang saya tulis di awal, yaitu mengumpulkan informasi sebanyak-banyaknya. Ada salah satu artikel yang sesuai dengan informasi yang saya cari, yaitu tentang Tips Traveling ke Jepang untuk Pemula: ”12 Hal yang perlu Anda Ketahui Sebelum Traveling ke Jepang untuk Pertama Kali” Informasi seperti ini sangat penting, apalagi untuk traveling ke luar negeri pertama kali yang secara bahasa, budaya, dan kebiasaannya jauh berbeda dengan negeri sendiri. Agar traveling dapat berjalan baik dan meninggalkan kesan yang menyenangkan maka banyak-banyak lah membaca berbagai informasi tentang destinasi yang akan kita tuju. Dan jika masih bingung ingin traveling kemana, maka rajin-rajin lah mencari informasi destinasi wisata yang sedang naik daun atau yang sesuai keinginan. Dan semua informasi itu bisa didapat di situs Liputan6.com, yaitu sebuah situs yang menyajikan beraneka ragam informasi pilihan bagi para penggunanya, dengan slogan: Aktual, Tajam, dan Terpercaya.

Happy Traveling and enjoy every journey!

 

Karena Ibuku Galak

Karena Ibuku Galak

InShot_20171217_222617578

Aku dan Ibuku

Ibuku galak. Bukan hanya menurut saya, tapi juga menurut teman-teman dan bahkan juga menurut bapak saya. Mengapa Ibuku bisa sampai menyandang predikat Ibu Galak? Setidaknya ada dua alasan. Yang pertama, ibu-ibu lain di kampung saya waktu itu  sebagian besar tentu akan membiarkan anaknya bermain setelah pulang sekolah. Tapi Ibuku tidak. Sebagai anak kecil, saya juga ingin bermain karet, congklak, atau bermain petak umpet bersama teman-teman. Tapi setiap pulang sekolah yang saya lakukan adalah memperlihatkan buku catatan pelajaran, ganti baju, sholat, makan, mengerjakan PR, dan lalu membaca kembali buku catatan pelajaran. Jika ketahuan keluar rumah, maka Ibu akan langsung mencari dan memanggil saya untuk pulang dengan nada marah. Saya bukannya tidak boleh bermain sama sekali, boleh saja bermain, tapi sore hari saat semua tugas dan tanggung jawab sudah dikerjakan. Meskipun Ibu terkenal galak dan sering melarang bermain, tapi banyak momen dimana Ibu menemani saya bermain. Saya masih ingat beberapa kali ibu menghampiri dan lalu membantu saya saat sedang membuat rumah-rumahan dari kayu-kayu kecil dengan daun-daun pisang sebagai atapnya. Ibu juga sering membantu saya membuatkan tungku kecil dari batu bata saat saya bermain masak-masakan.

Yang kedua, mengapa Ibuku terkenal galak adalah karena Ibu tidak suka mengulangi perintah dua kali. Setiap anak telah diberi tanggung jawab masing-masing. Misalnya kakak saya bertugas menyapu halaman, sedang saya bertugas mencuci piring. Dan itu memang harus dikerjakan. Jika tidak, Ibu akan mengerjakannya sendiri, lalu diam. Dan ini yang lebih menakutkan, saat Ibu marah dalam diam. Saya bisa tidak ditegur beberapa hari, dan ini membuat saya jadi serba salah.

Ya begitulah Ibuku. Dan setiap ibu mempunyai keunikan sendiri dalam mendidik dan membentuk karakter anak-anak sesuai yang diinginkannya. Begitu pula dengan Ibuku yang selalu menanamkan kemandirian, disiplin, dan bertanggung jawab. Ibu mengajarkan dengan memberi contoh banyak hal sejak saya kecil. Sehingga saya memiliki cukup banyak keahlian. Saya telah terbiasa mencuci sepeda, sepatu, tas, dan juga menyetrika seragam sekolah sendiri sejak kelas tiga SD. Saya juga mahir menjahit dengan tangan baju yang robek. Saya juga bisa membuat berbagai macam kerajinan tangan seperti bunga dari pita-pita, juga membuat hiasan dinding dari benang wol. Dan tahukah kamu kalau saya juga telah pandai bercocok tanam sejak kecil? Sejak kecil saya suka bercocok tanam, baik bunga maupun sayuran. Ibu membelikan saya bibit sayuran dan juga polybag untuk saya belajar bercocok tanam. Ibu juga membantu memasukkan tanah dalam polybag. Hasil panen tidak hanya untuk dikonsumsi sendiri, tapi sebagian juga dijual pada tetangga. Dan itu menyenangkan sekali.

Processed with VSCO with f2 preset

Saat berkunjung dan belajar Ecofarming di Kampung Tabrik, Cianjur bersama team blogger

Dan saya sangat bersyukur, karena Ibu Galak, saya bisa berlibur ke berbagai daerah di Indonesia tanpa harus mengeluarkan uang. Satu hal lagi cara Ibu mendidik yang sangat inspiratif. Saat saya kecil Ibu lebih suka membelikan buku atau majalah dongeng. Ibu juga membelikan buku untuk saya menulis diary. Ibu ingin anak-anaknya senang membaca buku dan juga gemar menulis. Katanya tidak ada warisan dari orang tua untuk anaknya yang lebih berharga daripada Kegemaran Membaca Buku. Dan saya bersyukur dia adalah Ibu Galakku. Berkat kegemaran membaca, sayapun akhirnya mempunyai bakat menulis dan telah beberapa kali memenangkan lomba menulis yang berhadiah liburan. Memang benar dengan membaca kita akan mengenal dunia, akan tahu banyak hal, menguasai banyak kata, luwes dan fasih dalam bertutur kata. Dengan banyak membaca, kita akan tahu banyak cerita dari orang-orang yang bahkan kita belum pernah bertemu, juga akan tahu tempat-tempat yang bahkan belum pernah kita datangi. Dan lalu dengan kegemaran menulis maka dunia akan mengenal kita. Kita bisa berbagi ilmu dan pengalaman dengan seluruh manusia di belahan dunia manapun. Dan mereka yang belum pernah bertemu pun dapat mengenal kita lewat tulisan.

 

Terima kasih Ibu, telah mengajarkan banyak hal. You’re my greatest inspiration and role model.

 

Mereka Tanya Kapan Kawin

Mereka Tanya Kapan Kawin

 

duniarahmi

duniarahmi – I am not afraid of to being alone

“Kapan kawin?”

Itu lah pertanyaan yang beberapa tahun terakhir ini sering saya dengar, tepatnya ketika memasuki usia yang seharusnya menikah –menurut standar orang lain-. Awalnya saya tidak merasa terganggu dengan pertanyaan-pertanyaan seperti itu. Toh saya masih merasa nyaman dengan status belum menikah. Dan lagi pula masih banyak hal-hal yang masih ingin saya lakukan di usia saya saat ini. Bukan mengejar karir, bukan pula soal mengejar dunia, tapi mengejar sesuatu yang membuat hati saya mencapai pucak bahagia.

Dulu, saat masih kuliah saya memiliki rencana ingin menikah saat usia 26 tahun. Namun semua orang tahu manusia hanya dapat berencana, Tuhan yang menentukan. Ketika selesai kuliah, saya langsung bekerja di sebuah perusahaan asing. Sejak saat itu kehidupan saya hanya fokus untuk bekerja bekerja dan bekerja demi membantu biaya sekolah kuliah adik-adik saya. Selain itu saya juga mulai menggandrungi hobi backpacker/traveling yang memang pernah jadi impian saya saat kecil. Sehingga saat hari libur saya gunakan untuk backpacker-an bersama teman-teman komunitas Backpacker Indonesia.

Seiring dengan kemajuan teknologi dan berkembangnya sosial media, saya dapat kembali bertemu dengan teman-teman saat sekolah dan saat masih berada di Sumatera dulu. Tentu saja saya merasa senang dapat berkomunikasi lagi dengan teman-teman lama. Bahkan kami sedikit banyak dapat saling melihat kehidupan masing-masing melalui berbagai sosial. Hal yang awalnya saya syukuri ini akhirnya malah membuat saya jengah. Pertanyaan “Kapan kawin?” semakin sering terdengar. Ada yang hanya sekedar bertanya, namun banyak juga yang berujung dengan ceramah panjang lebar. Ada yang menasehati dengan baik dan penuh empati, namun lebih banyak yang menghakimi. Dan yang paling membuat saya kesal adalah tuduhan bahwa saya belum menikah karena terlalu pilih-pilih dan mengejar kesempurnaan. Dan semua ini pada akhirnya membuat saya lebih sering menghindari acara-acara reuni dan tidak banyak berinteraksi lagi dengan teman-teman lama baik melalui dunia nyata maupun grup di sosial media. Saya lebih suka bertemu dengan orang-orang baru yang tidak pernah memusingkan soal kehidupan pribadi dan pilihan hidup.

Awalnya memang pertanyaan “Kapan kawin?” saya jawab dengan santai.

Ini beberapa contoh pertanyaan yang sering saya dengar,

“Kapan akan menikah?”

Saya akan jawab, “Besok kalau tidak hujan.” Atau “Tahun depan, ditunggu saja.”

“Kapan nikah? Mau nunggu apa lagi? Usia sudah semakin bertambah, semakin banyak saingan yang muda-muda.”

Saya jawab, “Sabar. Saya saja yang menjalani sabar, kenapa kamu yang hanya tinggal nonton tidak sabar.”

“Kapan nikah? Apa mau sendiri terus? Nanti kalau tidak punya anak siapa yang akan mengurus kamu saat tua.”

Dan saya akan jawab, “jadi kamu punya anak hanya berharap ada yang megurus saat tua? Nih, tetangga saya, punya anak empat dan semuanya meninggal saat muda, dan akhirnya orang tuanya hidup sebatang kara saat tua. Banyak juga orang tua yang terlantar karena anaknya tidak mau mengurusnya. Masalah tua ada yang mengurus atau tidak, itu sudah jalan hidup yang tertulis.

Dan banyak cara bertanya yang kadang membuat saya marah. Biasanya pertanyaan ini muncul dari orang-orang yang sebenarnya tidak bahagia dalam pernikahannya. Biasanya mereka akan bertanya begini,

“Kapan nikah? Nikah tuh enak lho, orang bilang surganya dunia. Kalau tidur jadi hangat karena punya selimut berjari (awalnya saya tidak mengerti ungkapan ini). Dan Bla..bla..bla..”

Dan saat pernyataan seperti ini muncul, saya biasanya akan jawab, “Saya tidak seperti kamu, hidup hanya mengurusi soal selangkangan.” Dan mereka pun diam.

Suka-atau tidak suka, saya hidup di negara yang mayoritas penduduknya masih menganggap belum menikah saat kepala tiga itu hal yang memalukan bahkan mnyedihkan. Bahkan banyak stereotipe yang berkembang yang mengatakan perawan tua memiliki masalah psiklogis, mudah marah, jika menjadi guru ia akan menjadi guru yang killer, dan mereka akan selalu merasa dengki. Bahkan Ayu Utami dalam bukunya yang berjudul ‘Si Parasit Lajang’ mengatakan wanita yang belum menikah itu ibarat Parasit Lajang yang numpang di rumah orang tua, seharian bekerja, malam tidur, tanpa berfikir untuk masak atau mengurus taman.

Sebenarnya bagi saya hidup itu mengalir saja, yang penting bahagia. Dan hidup bahagia memiliki banyak cara, bukan hanya dengan menikah. Namun pertanyaan-pertanyaan “Kapan kawin?” yang terkadang melukai perasaan. Pertanyaan itu yang kadang memaksa saya untuk menyadari dan memikirkan sesuatu yang awalnya wajar-wajar saja. Meskipun saya juga masih berharap suatu saat nanti Tuhan akan mempertemukan dengan orang yang membuat saya merasa nyaman dan menjalani hidup bersama hingga mati. Namun saya tidak ingin memaksakan diri menikah hanya karena tidak sanggup lagi mendengar pertanyaan “Kapan kawin?”

Jadi, jangan tanya lagi kapan saya kawin! Bukankah lebih mulia mendoakan dalam hati dari pada bertanya sekedar basi-basi tapi sangat melukai.

DSC_5433

duniarahmi – LEARNING TO DANCE IN THE RAIN