Ketika Akhirnya Berdiri di Puncak Padar

Ketika Akhirnya Berdiri di Puncak Padar

Tahun 2018 masih bingung mau traveling kemana? Jangan bingung-bingung. Saat ini sudah banyak situs yang menyediakan artikel seputar travel dan wisata. Tapi ingat, agar tidak kecewa setelah jauh-jauh traveling ke tempat impian dan ternyata tidak sesuai dengan harapan atau menghadapi banyak permasalahan, maka pastikan untuk membaca artikel tentang travel dan tempat wisata yang terpercaya dan ter-update. Jangan lupa pula untuk mengumpulkan banyak informasi dan tips-tips sebelum menuju tempat yang kita impikan. Saya sendiri biasanya sebelum traveling selalu mengumpulkan informasi tentang cuaca atau iklim tempat tujuan, transportasi lokal, tempat-tempat yang keren, apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan, juga informasi tentang kuliner yang harus dicoba. Semakin banyak informasi yang dikumpulkan maka akan semakin banyak aktivitas pilihan yang bisa kita lakukan selama traveling.

Akhir tahun kemarin saya kembali mengunjungi destinasi impian banyak orang, yaitu Labuan Bajo di Nusa Tenggara Timur. Sebenarnya tahun 2014 saya sudah pernah traveling kesini, namun karena waktu itu kurang persiapan akhirnya saya merasa tidak maksimal mengeksplorasi tempat tersebut. Saat itu saya fikir cuaca akan panas selama live on board sehingga saya tidak membawa jaket dan saya juga lupa membawa obat-obatan. Tapi ternyata udara sangat dingin dan akhirnya saya pun masuk angin. Meskipun ini adalah penyakit yang dianggap sepele, tapi cukup mengganggu kenikmatan traveling. Dan karena saat itu kondisi saya kurang fit makanya selama 3 hari 2 malam saya hanya mengunjungi tiga tempat, yaitu Pulau Rinca, Pink Beach, dan Pulau Komodo.

Dermaga Labuan Bajo

Belajar dari kesalahan traveling sebelumnya, saya banyak mengumpulkan informasi terutama tentang kondisi cuaca dan tempat-tempat yang wajib di-eksplore selain ketiga tempat yang pernah saya kunjungi sebelumnya. Traveling kemarin saya pergi dengan hati senang. Kenapa? Karena, jika dulu saya hanya pergi berdua, kemarin saya pergi berempat dengan sahabat-sahabat dekat sehingga suasana lebih ramai dan menyenangkan. Persiapan juga lebih matang. Ketakutan mabuk laut dan tidak nafsu makan seperti dulu selama live on board sama sekali tidak terjadi. Banyak hal yang dulu tidak berani saya lakukan, kemarin justru jadi hal yang senang saya lakukan. Salah satunya adalah duduk di ujung kapal selama kapal berlayar.

 

Hari itu setibanya di Labuan Bajo kita langsung berlayar dan tempat pertama yang kami kunjungi adalah Pulau Kelor. Di Pulau Kelor terdapat sebuah bukit kecil, tapi cukup curam. Tidak mudah memang untuk sampai di puncaknya, dan kita pun harus berhenti beberapa kali untuk mengambil nafas. Apalagi tidak ada yang bisa dijadikan pegangan selain bebatuan yang kita jadikan sebagai pijakan juga. Tapi setelah sampai di atas bisa dilihat sendiri bagaimana indahnya pemandangan di bawah sana. Semakin syahdu oleh angin sepoi-sepoi yang berhembus di atas bukit pulau ini. Saat berada di puncak dengan lukisan alam seindah ini rasanya tidak ingin turun cepat-cepat, apalagi untuk menuruni bukit ini butuh tenaga lebih ekstra lagi. Karena kita benar-benar harus kuat menapakkan kaki pada batu pijakan sambil menahan beban tubuh dan bukan beban hidup. Hehe. Bahkan salah satu teman saya harus dipegangi oleh dua orang saat menuruni bukit ini. Kegiatan di tempat ini bukan hanya trekking ke atas bukit. Di tempat ini kita juga bisa melakukan aktivitas snorkeling. Kemarin setelah turun dari bukit saya memilih duduk santai di bawah pohon, setelah itu pindah duduk santai di atas pohon yang tumbuh di pinggir pantai sementara teman yang lain memilih snorkeling.

Setelah dari Pulau Kelor kita lanjut berlayar menuju Pulau Kalong. Tepat saat matahari mulai terbenam kita tiba di sana.  Dan sore yang indah itu saya ditemani kopi dan pisang goreng. Dengan udara yang semakin dingin kita memilih duduk-duduk di bagian atap kapal sambil menyaksikan ribuan bahkan mungkin jutaan kalong yang beterbangan di atas kepala dan di bawah langit yang berubah jingga. Saya tidak pernah membayangkan sebelumnya jika jumlah kalongnya sebayak itu dan sebesar-besar itu. Ini sungguh menakjubkan sekali. Dan malam itu kita bermalam di atas kapal di Pulau Kalong lengkap dengan sajian makan malam yang jika mengingatnya rasanya ingin kembali lagi dan lagi kesana.

 

Keesokan harinya kapal kembali berlayar menuju Pulau Padar. Ini pulau yang paling sangat ingin saya datangi. Karena keeksotisan pemandangannya membuat saya jatuh cinta berkali-kali meski awalnya hanya melihat di foto. Pulau Padar adalah pulau ketiga terbesar di kawasan Taman Nasional Komodo. Letaknya berada di antara Pulau Rinca dan Pulau Komodo. Untuk menikmati panorama yang seindah ini harus trekking dengan medan yang tidak sulit namun cukup panjang dan melelahkan. Dan pagi itu setelah subuh kita berlayar menuju Pulau Padar ditemani ikan-ikan Lumba-Lumba yang menari-nari tidak jauh dari kapal. Bisa dibayangkan bagaiman kerennya pagi itu! Lalu sekitar jam 07.00 pagi kita tiba di Pulau Padar dan langsung trekking ditemani matahari pagi tanah Flores yang sungguh luar biasa semangatnya. Apalagi saat itu suhu udara sedang tinggi, yaitu berkisar 36°C, membuat perjuangan untuk sampai ke puncak ini bukanlah perkara mudah. Tidak ada pohon rindang, jadi duduk dibalik bongkahan batu besar adalah cara paling nyaman untuk sejenak menghindari ganasnya sinar matahari. Tapi demi bisa mengabadikan momen dan membayar rasa penasaran, akhirnya dengan berat badan saya langkahkan kaki dengan penuh semangat. Meskipun harus berhenti berkali-kali saat menemukan lokasi yang strategis. Iya, berhenti di lokasi strategis untuk duduk, minum, dan selfie seperti ini.  Cekrek.. Cekrek.. Upload!

 

Puas rasanya akhirnya bisa berdiri di bukit Pulau Padar dengan pemandangan panorama “TIGA DANAU” di laut Flores yang fenomenal. Selain ke Pulau Kelor, Pulau Kalong, dan Pulau Padar, saya juga mengunjugi Pulau Komodo, Pulau Kanawa, Pink Beach, Goa Batu Cermin. Dan ini adalah salah satu traveling yang paling seru, keren, menyenangkan, berkesan, tak terlupakan, dan entah dengan kata apa lagi yang sepadan dengan perasaan puas saya pada traveling kali itu.

 

Setiap tahun saya selalu punya resolusi destinasi baru yang ingin saya jelajahi. Dan Alhamdulilah banyak yang sudah terwujud. Itulah mengapa saya senang mengabadikan resolusi di dalam tulisan, karena yakin alam akan berkonspirasi untuk mewujudkannya. Dan tahun ini destinasi wisata yang masuk dalam resolusi saya adalah Jepang. Alasannya adalah karena saya bisa berbahasa Jepang. Ini serius. Meskipun kuliah di jurusan Bahasa Jepang tapi dulu saya tidak begitu tertarik pergi ke Jepang, karena lebih ingin pergi ke Italia. Sekarang saya ingin ke Jepang, ada banyak alasan, antara lain ingin mengeksplore kuliner dan tempat-tempat wisata warisan dunia di kota Nikko, Jepang. Keinginan itu tercipta setelah saya sering berkomunikasi dengan teman dunia maya yang merupakan orang Jepang dan tinggal di Nikko.

Resolusi 2018 Dunia Rahmi

Sebagai langkah awal untuk mewujudkan keinginan adalah seperti yang saya tulis di awal, yaitu mengumpulkan informasi sebanyak-banyaknya. Ada salah satu artikel yang sesuai dengan informasi yang saya cari, yaitu tentang Tips Traveling ke Jepang untuk Pemula: ”12 Hal yang perlu Anda Ketahui Sebelum Traveling ke Jepang untuk Pertama Kali” Informasi seperti ini sangat penting, apalagi untuk traveling ke luar negeri pertama kali yang secara bahasa, budaya, dan kebiasaannya jauh berbeda dengan negeri sendiri. Agar traveling dapat berjalan baik dan meninggalkan kesan yang menyenangkan maka banyak-banyak lah membaca berbagai informasi tentang destinasi yang akan kita tuju. Dan jika masih bingung ingin traveling kemana, maka rajin-rajin lah mencari informasi destinasi wisata yang sedang naik daun atau yang sesuai keinginan. Dan semua informasi itu bisa didapat di situs Liputan6.com, yaitu sebuah situs yang menyajikan beraneka ragam informasi pilihan bagi para penggunanya, dengan slogan: Aktual, Tajam, dan Terpercaya.

Happy Traveling and enjoy every journey!

 

Advertisements
Ini Tentang Tanjung Aan dan Batu Payung, Lombok

Ini Tentang Tanjung Aan dan Batu Payung, Lombok

20161104_152214-01

Perjalanan saya ke Lombok pada tanggal 4 – 6 November 2016 ini adalah dalam acara ‘Buka Insto Let’s Go’ Goes To LOMBOK bersama MY TRIP MY ADVENTURE.

 

Lombok, sebuah pulau yang termasuk ke dalam provinsi Nusa Tenggara Barat yang dipisahkan oleh Selat Lombok dari Bali di sebelah barat dan Selat Alas dari Sumbawa di sebelah timur. Lombok merupakan daerah tujuan wisata yang sudah dikenal secara internasional karena mempunyai banyak tempat wisata yang menganggumkan dan bervariatif. Mulai dari gunung, laut, danau, air terjun, taman, wisata budaya, kuliner, dan lain-lain semua ada di sini. Salah satu destinasi wisata yang mengagumkan saya adalah pantai Tanjung Aan, yaitu salah satu tempat diadakannya ritual masyarakat Lombok Bau Nyale yang dilakukan berdasarkan legenda Putri Mandalika.

Saat tiba di Lombok International Airport yang terletak di Tanak Awu, Lombok Tengah, tepatnya di sebelah tenggara Kota Mataram ibu kota provinsi Nusa Tenggara Barat kita akan langsung disuguhi beberapa booth wisata Lombok untuk berfoto. Jelas terlihat Lombok mulai berbenah mempersiapkan diri untuk menjadi destinasi wisata yang banyak diminati wisatawan seperti Bali. Meskipun ada beberapa celetukan yang saya dengar dari masyarakat NTB sendiri yang mengatakan NTB adalah kependekan dari “Nasib Tergantung Bali.” Karena untuk saat ini sebagaimana yang banyak orang ketahui memang beberapa wisatawan yang berkunjung ke Lombok adalah wisatawan yang sekedar singgah saat berkunjung ke Bali. Dengan kata lain Lombok masih menjadi pilihan ke dua setelah Bali. Namun dengan kerja keras dari pemerintah dan masyarakat kita berharap kedepannya NTB menjadi “Next Time Better.”

 

Pantai Tanjung Aan

Pantai ini terletak di pulau Lombok bagian tengah, yaitu sekitar 75 Kilometer dari Kota Mataram, atau sekitar 3 Kilometer dari Pantai Kuta Lombok. Jalan menuju pantai ini masih kurang layak, ditambah lagi dengan petunjuk jalan yang masih minim. Padahal pantai ini sangat indah dan masih terjaga kealamiannya. Hanya ada beberapa pengunjung dan penjual kain tenun saat saya tiba di pantai ini. Jika akses menuju Pantai Tanjung Aan diperbaiki pasti akan banyak wisatawan yang berkunjung ke tempat ini.

Yang unik dari pantai Tanjung Aan adalah pasirnya yang berbeda dan baru pertama saya temui. Pasir di sini tidak lembut seperti tepung, namun bulat-bulat seperti merica. Ada sensasi tersendiri saat menginjakkan kaki di pasir pantai ini. Bahkan karena keunikannya ini beberapa anak kecil mejual pasir ini dalam botol mineral seharga 5000 rupiah.

Di tanjung Aan ini juga terdapat sebuah bukit kecil yang merupakan spot favorit wisatawan untuk berfoto. Indah sekali menikmati pantai dan hamparan laut dari atas bukit tersebut. Angin yang bertiup cukup kencang juga menambah eksotis tempat ini. Di bukit ini saya memilih duduk bersantai di atas rumput sambil menikmati pemadangan kapal yang lalu lalang menuju pantai Batu Payung. Lalu berjalan ke sebelah kanan dan wow langsung disuguhi pemandangan pantai yang landai dengan hamparan pasir putih. Type pantai seperti ini sangat cocok untuk anak-anak bermain air. Dan ada sebuah ayunan di pinggir pantai seperti yang terdapat di Gili Trawangan. Jadi tidak salah jika mengajak keluarga untuk bermain di pantai ini.

 Processed with VSCO with c1 preset

 

Pantai Batu Payung

 

Setelah turun dari bukit, saya memutuskan menyebrang ke pantai Batu Payung menggunakan kapal dengan tarif Rp. 50.000 perorang. Harga yang cukup mahal menurut saya. Karena jarak menuju pantai tersebut tidaklah terlalu jauh, hanya butuh waktu sekitar 15 menit. Mengunjungi pantai Batu Payung adalah untuk memenuhi rasa penasaran saya dengan pantai yang terkenal karena pernah dijadikan lokasi syuting iklan sebuah produk rokok. Pantai ini memiliki ciri khusus yaitu batu karang yang menjulang tinggi.

Processed with VSCO with c1 preset

DuniaRahmi Goes To Lombok

Awalnya saya mengira pantai di pulau kecil ini memiliki hamparan pasir putih yang nyaman untuk bersantai sambil menikmati sinar matahari. Namun ternyata pantai ini dipenuhi batu-batu besar, karang, dan dinding-dinding perbukitan. Perlu ekstra hati-hati saat turun dari kapal, karena batu karang dipenuhi lumut yang licin. Di kawasan pantai ini banyak anak-anak kecil dan para penjual kelapa muda yang menawarkan jasa photo dan membatu mengarahkan gaya untuk mendapatkan photo yang unik.

Berbicara soal anak-anak yang menawarkan jasa photo di Pantai Batu Payung. Jadi, saat tiba di pantai ini saya langsung disambut oleh anak-anak kecil usia sekolah dasar yang menawarkan jasa photo dengan cukup membayar minimal 5000 rupiah. Anak-anak ini sudah terlatih mempergunakan berbagai macam kamera handphone dan ahli dalam mengarahkan gaya untuk mendapatkan gaya photo yang unik. Katanya mereka sebelumnya sering dimintai tolong oleh para wisatawan asing, dan para wisatawan itu juga mengajarkan bagaimana cara mengambil photo yang bagus. Ini memang menguntungkan buat para solo traveller yang ingin difoto.

Processed with VSCO with c1 preset

Berjalan sedikit ke arah lokasi batu payung yang menjulang tinggi saya langsung disambut  pemuda dan bapak-bapak yang menawarkan kelapa muda. Saya sebenarnya agak sedikit merasa terganggu dengan anak-anak dan para pendagang di tanjung Aan maupun di Pantai Batu Payung. Karena mereka terus mengikuti dan cenderung memaksa dalam menawarkan jasa maupun dagangannya. Inilah menurut saya yang mesti sedikit diperbaiki di dunia pariwsata beberapa lokasi di Lombok. Berikan fasilitas pada para pedagang dan berikan rasa nyaman pada wisatawan. Untuk menjadi destinasi wisata yang banyak diminati pengunjung bukan hanya soal keindahan alam saja, tapi juga didukung oleh keramahtamahan penduduk lokal yang menjunjung tinggi nilai budaya daerah dan bangsa Indonesia. Dengan kerja keras dari pemerintah dan penduduk maka saya rasa pariwisata Lombok dapat lebih maju lagi seperti Bali. Keberhasilan suatu daerah wisata adalah yang membuat pengunjung selalu ingin kembali lagi, bahkan tidak ingin hanya sekedar singgah namun ingin menetap di sana. Semoga kisah ini bisa menginspirasi.  Maju pariwisata Indonesia.

 

Pesona Jambi Yang Terlewatkan

Pesona Jambi Yang Terlewatkan

IMG_9579

Jambi, salah satu provinsi di Indonesia yang terletak di pulau Sumatera bagian tengah. Di bagian selatan berbatasan dengan Sumatera Selatan dan di sebelah barat berbatasan dengan Sumatera Barat dan Bengkulu. Perjalanan menuju Jambi bisa di tempuh melalui jalur darat dan juga udara. Lama perjalanan darat menggunakan bus kurang lebih 25 jam dengan jarak tempuh Jakarta – Jambi sekitar 895 KM. Memang membutuhkan waktu yang lama jika menggunakan kendaraan umum dikarenakan jalan berkelok-kelok. Jika menggunakan jalur udara dari Jakarta waktu yang dibutuhkan hanya 1 jam 15 menit.

Maskapai yang melayani penerbangan Jakarta – Jambi yaitu Garuda Indonesia, Lion Air, Sriwijaya Air atau Nam Air, Citilink, dan Wings Air. Selain dari dan menuju Jakarta, bandara Sultan Thaha Jambi juga melayani penerbangan dari dan menuju Batam, Pekanbaru, dan Palembang. Dan selain bandara Sultan Thaha yang berada di ibu kota, provinsi Jambi juga memiliki bandara Muara Bungo yang terletak di Rimbo Tengah, Kabupaten Muara Bungo. Bandara ini melayani penerbangan Jakarta – Muara Bungo, Jambi – Muara Bungo dan sebaliknya. Lion Air adalah maskapai yang melakukan penerbangan Jakarta – Jambi paling sering, yaitu enam kali sehari.

Jambi kurang bertaring dalam industri pariwisata. Jauh tertinggal dibandingkan dengan daerah tetangganya Sumatera Barat. Masyarakat Indonesia sepertinya kurang tertarik berkunjung ke Jambi entah karena pemerintah yang belum maksimal mengembangkan sektor pariwisata, entah karena sebagian besar orang mengindentikkan keindahan alam dengan pantai, air terjun, danau, atau perbukitan. Sebenarnya jika mau menelisik lebih jauh, selain gunung Kerinci, Jambi juga punya pesona yang patut diperhitungkan.

Sungai Batanghari Dan Alirannya

Saat berkunjung ke Jambi kita akan menemui banyak jembatan dan sungai besar maupun kecil tersebar di berbagai daerah. Jambi merupakan daerah yang memiliki banyak sungai, salah satunya sungai Batanghari yang merupakan sungai terpanjang di Sumatera, yaitu sekitar 800 km. Ada 22 sungai yang terdiri dari 12 sungai induk dan 10 anak sungai, dan semua sungai tersebut bermuara ke sungai Batanghari. Anak sungai yang menjadi aliran sungai Batanghari antara lain: Sungai Batang Merao, Batang Ning, Batang Manungkal, Batang Lempur, Batang Tabir, Batang Merangin, Batang Limun, Batang Asai, Batang Pelepat, Batang Jujuhan, Batang Bungo, Batang Tebo, dan lain-lain.

Salah satu usaha pemerintah untuk mengembangkan potensi wisata sungai Batanghari adalah dengan membangun Jembatan Pedestrian atau jembatan khusus penyebarangan orang yang memilik lebar 4,5 meter dan membentang sepanjang 503 meter di atas Sungai Batanghari, kota Jambi. Pada momen-momen peringatan kemerdekaan Indonesia atau HUT kota Jambi biasaya warga atau pemerintah setempat mengadakan lomba pacu perahu tradisional dibeberapa sungai besar di Jambi. Meskipun sungai-sungai besar lain di Jambi telah banyak mengalami sedimentasi akibat aktifitas pertambangan dan eksploitasi hutan, Batanghari dan alirannya masih merupakan pesona alam yang bisa kita jelajahi. Sungai-sungai besar dan kecil tersebar di pelosok daerah masih meyimpan keindahan. Kekayaan hasil sungai juga masih bisa kita nikmati. Sungai merupakan bagian pesona alam Indonesia yang masih menjadi urat nadi kehidupan masyarakat.

 

Tebo Yang Belum Tersentuh Pembangunan

Beberapa daerah di provinsi Jambi masih banyak yang jauh dari sentuhan pembangunan, Kabupaten Tebo salah satunya. Tebo merupakan pemekaran Kabupaten Bungo Tebo pada tanggal 12 Oktober 1999.Masih daerah ini banyak ditemukan jalan-jalan tak beraspal dan tanpa lampu penerangan jalan. Listrik tidak selalu menyala 24 jam, selalu saja padam diwaktu-waktu yang tidak beraturan. Di beberapa daerah penduduk bahkan harus mempunyai kendaraan sendiri untuk menunjang mobilitasnya, karena hampir tidak ada kendaraan umum yang beroperasi. Untuk persediaan air bersih kebanyakan penduduk memiliki sumur sendiri.

Sebagian besar masyarakat Tebo bergantung pada hasil pertanian dan perkebunan. Karet dan kelapa sawit menjadi tanaman perkebunan terbanyak bahkan masih terus bertambah. Tidak heran jika sepanjang jalan bahkan di sekitar rumah penduduk banyak ditemukan kebun karet dan kelapa sawit. Perkebunan kelapa sawit meskipun kadang menjadi salah satu permasalahan daerah, tapi dapat juga menjadi pemandangan alam yang indah. Ya menurut saya setidaknya daerah ini masih dipenuhi pepohonan dan bukan gedung-gedung pencakar langit. Saya pribadi sangat suka bermain di perkebunan, karena sejuk dan banyak aliran sungai yang jernih.

IMG_9575

Perkebunan Sawit Sejauh Mata Memandang

Selain berkebun, penduduk asli Jambi juga gemar beternak sapi dan kerbau. Sistem pemeliharaanya masih tradisional yaitu sistem lepas tanpa kendali. Tidak jarang kita harus berbagi jalan dengan binatang ternak. Ini adalah hal unik yang mungkin tidak ditemuai di kota-kota besar lain. Ada istilah di kalangan masyarakat Jambi yaitu “Umo bekandang siang sapi bekandang malam pagar tigo sebeban.” Artinya sawah dan ladang harus dipagar yang kuat, jika ternak masuk sawah/ladang pada siang hari maka ternak tidak boleh disalahkan. Itu masih berlaku hingga sekarang.

IMG_6653

Berbagi Jalan Dengan Ternak

Jadi, menurut saya pesona alam Indonesia bukan hanya keindahan pantai dan gunung. Tapi segala bentang alam termasuk segala unsur yang ada di dalamnya adalah kekayaan dan pesona alam Indonesia yang patut kita banggakan. Jika kalian ingin merasakan suasana alam yang tak tersentuh pembangunan; kehidupan masyarakat yang masih memegang erat adat dan budaya maka berkunjunglah ke pedalaman Jambi.

Galeri pesona Jambi :

 

 


Menjelajahi Kuliner Negeri Laskar Pelangi

Menjelajahi Kuliner Negeri Laskar Pelangi

Sudah tahu liburan akhir tahun ini mau kemana? Jika belum, cobalah untuk mengunjungi Belitung negerinya para Laskar Pelangi. Daerah seribu pantai penghasil timah ini memang tidak diragukan lagi keindahan alamnya. Destinasi wisata alam yang menjadi primadona antara lain Pulau Lengkuas dengan mercusuarnya, Pantai Pasir dengan bintang lautnya, Pulau Batu Berlayar, Pantai Laskar Pelangi yang merupakan lokasi syuting film Laskar Pelangi, dan lain-lain. Sedangkan wisata sejarah, pendidikan, dan budaya yang terkenal di Belitung antara lain Vihara Budhayana Dewi Kwan Im, Sanggar Batik De Simpor, Museum Kata Andrea Hirata, Rumah Adat, replika SD Muhammadiyah Gantong, dan lain-lain.

Selain wisata alam dan kebudayaan, Belitung juga memiliki kekayaan kuliner yang menjadi kebanggaan masyarakat Belitung. Perkembangan kuliner setiap daerah berbeda-beda dipengaruhi oleh faktor geografis, kebudayaan, sumber daya alam, dan lain-lain. Kuliner Belitung sendiri memiliki pengaruh dari budaya Melayu dan Cina. Beberapa kuliner yang sempat saya coba saat ke Belitung antara lain :

Mie Belitung “Atep”

Berkunjung ke Belitung tidak mabrur tanpa mencicipi Mie Belitung “Atep”. Lokasinya ada di Jl. Sriwijaya No. 27, Tanjung Pandan.  Atep sendiri konon merupaka nama seorang wanita pemilik kedai  keturunan Tionghoa. Kedai ini telah dikelola turun temurun lebih dari 40 tahun. Tidak heran jika mie belitung mendapat pengaruh kuat dari cita rasa Cina. Kuliner Mie belitung merupakan sajian mie kuning dengan udang, potongan tahu, kentang rebus, mentimun, tahu, tauge, emping melinjo, lalu disiram kuah kental dari kaldu udang berwarna kecoklatan. Setelah mencicipi satu sendok kuah mie belitung rasanya memang berbeda dengan kebanyaka mie yang lain. Jika kebanyakan mie berasa gurih maka mie belitung memiliki cita rasa asam manis. Pertama mencicipi rasanya memang sedikit asing di lidah. Tapi setelah dicampur dengan sedikit sambal rasanya menjadi lebih nikmat. Kaldu udang yang terasa sedikit amis pun bisa diimbangi dengan segarnya potongan timun. Mie Belitung Atep memang pantas dicoba untuk siapapun yang mengunjungi negeri Laskar Pelangi ini.

006

Mie Belitung Atep

Sup Ikan “Gangan”

Belitung merupakan salah satu daerah yang memiliki banyak pantai. Tentu saja daerah ini juga memiliki hasil laut yang melimpah, ikan salah satunya. Daerah ini memiliki olahan ikan yang berbeda dengan derah lain pada umunya, yaitu sup ikan atau dikenal dengan ‘gangan’. Sup berwarna kuning ini merupakan olahan ikan segar diracik dengan bumbu sederhana yang menawarkan rasa gurih, asam, dan pedas. Bumbunya antara lain adalah kemiri, bawang merah, bawang putih, lengkuas, cabe rawit, jeruk nipis, dan kunyit yang membuat kuah sup berwarna kuning. Jenis ikan yang biasa digunakan adalah ikan Ketarap segar dengan tekstur daging yang renyah dan empuk. Selain ikan, sup ini juga diberi irisan buah nanas yang merupakan ciri khas kuliner Melayu. Bisa dibayangkan rasa gangan ini, asam manis dari buah nanas, pedas dari cabe rawitnya, dan gurih dari kaldu ikannya. Rasanya sederhana tapi nikmat. Jika kalian mengunjungi Belitung pastikan untuk mencicipi Gangan. Menu ini tidak sulit untuk ditemukan, karena ada di hampir semua tempat makan. Saya mencicipi gangan ini di Fega Seafood Restaurat yang terletak di tepi Danau/Kolong Bendung di Jalan Jendral Sudirman, Manggar, dan juga di rumah makan Belitong Timpok Duluk, Kampung Parit.

IMG_4879

Sup Ikan “Gangan”

Kopi Ake

Belitung terkenal dengan budaya ngopi warganya. Terbukti dengan banyaknya warung kopi di kota ini. Kedai Kopi Ake salah satunya. Katanya Ake merupakan kedai kopi tertua di Tanjung Pandan. Kedai ini dikelola oleh warga keturunan Tionghoa sejak tahun 1922. Menurut cerita yang beredar, kebiasaan ngopi dimulai oleh warga Tionghoa yang bekerja sebagai kuli tambang timah. Mereka biasa berkumpul untuk minum kopi sambil mengobrol sebelum dan setelah pulang kerja. Sebenarnya tidak ada yang istimewa dari kopi di sini, hanya kopi hitam ditambah sedikit susu. Rasanya sama saja dengan kopi di daerah Sumatera yang lain. Tapi ngopi bagi masyarakat Belitung bukan hanya soal rasa, melainkan momen untuk saling bercerita dan tukar informasi. Seperti yang diungkapkan oleh Andrea Hirata, “Kopi bagi orang Melayu, rupanya bukan sekedar air gula, berwarna hitam, tapi pelarian dan kegembiraan. Segelas kopi bak dua gelas teguk kisah hidup.Bubuk hitam yang larut disiram air mendidih, pelan-pelan mengungkapkan rahasia nasib.” Kini warung kopi di Belitung telah menjadi salah satu daya tarik wisata. Katanya tak lengka mengunjungi Belitung tanpa mencicipi kopinya. Jadi, pastikan mencicipi secangkir kopinya lalu resapi filosofi kopi orang Melayu saat ke Belitung.

IMG_5230

Waroeng Kopi Ake

Untuk menuju Belitung kita bisa menggunakan jalur udara. Beberapa maskapai yang melayani penerbangan dari Jakarta menuju bandara Tanjung Pandan yaitu, Garuda Indonesia, Citilink, Lion Air, dan Sriwijaya Air. Sriwijaya Air merupakan maskapai yang melayani penerbangan Jakarta – Belitung sebanyak tiga kali dalam sehari. Untuk mendapatkan tiket pesawat dengan harga promo termurah saya biasa pesan melalui website atau aplikasi mobile di android. Proses pemesanannya sangat mudah. Yang kita perlukan hanyalah jaringan internet dan metode pembayaran seperti kartu kredit/debit dan transfer bank. Jadi, tunggu apa lagi? Mari berkunjung ke Belitung dan jelajahi kulinernya. Ingat kuliner merupakan salah satu warisan kekayaan dan kebanggaan bangsa yang harus terus dijaga keeksistensiannya. Aku cinta kuliner Indonesia, Aku cinta Indonesia.

Galeri kuliner Belitung lainnya :

Itinerary Menjamah Bali 3H2M

Itinerary Menjamah Bali 3H2M

20160407_102546 (2)

Salah Satu Icon Bali

Bali adalah salah satu destinasi wisata paling popular di Indonesia. Hingga saat ini pulau yang terkenal dengan julukan Pulau Dewata dan Pulau Seribu Pura ini masih menjadi primadona di Indonesia. Bukan hanya menjadi primadona di negeri sendiri tapi juga terkenal di dunia. Bali memiliki banyak sekali pantai yang indah seperti Pantai Kuta, Sanur, Lovina, Pandawa, Padang Padang, Nusa Dua, Jimbaran, Karma Kandara, Pantai Tanah Lot, Dreamland, dan masih banyak lagi. Wisata lain yang sangat terkenal antara lain Pura Luhur Tanah Lot, Pura Besakih, Pura Uluwatu, Danau Berantan Bedugul, Garuda Wisnu Kencana, Monumen Bardja Sandhi, Ubud, Kintamani, dan yang lainnya.

Bali memang merupakan tempat yang ideal untuk melepas kepenatan dari rutinitas pekerjaan yang kadang melelahkan. Bali akan memanjakan kita dengan wisata alamnya yang luar biasa, keramahan penduduknya, dan kebersihan kotanya. Tidak akan cukup waktu satu bulan untuk benar-benar menikmati seluruh sudut pulau ini. Tapi kali ini saya akan berbagi tips dan itinerary menjamah Bali Selatan yaitu  daerah yang memiliki tempat wisata indah dan terkenal di Bali. Bali Selatan ini mencakup area Kuta, Uluwatu, Nusa Dua, Jimbaran, Ungasan, Pecatu, dan area lainnya.

Hari Keberangkatan (Jumat Malam)

16.15 – 19.00 : Berangkat dari Bandara Husein Sastranegara Bandung dan tiba di Ngurah Rai International Airport Bali menggunakan Lion Air.

19.00  –  20.00 : Check in, bersantai dan istirahat di penginapan.

Catatan:

  • Pilihlah keberangkatan pada hari jumat sore atau malam agar tidak terlalu banyak mengambil cuti dari pekerjaan.
  • Agar dapat langsung beristirahat di penginapan ada baiknya untuk memesan penginapan melalui pegipegi.com sebelum hari H. Saya sendiri memilih untuk mencari penginapan yang tidak jauh dari bandara atau pun di sekitar Kuta. Banyak sekali penginapan di sekitar Kuta, mulai dari yang mahal hingga yang murah. Misalnya The Kubu Hotel yang memiliki harga dibawah IDR 200.000 dan terletak di Jalan Poopies, Kuta Legian.
  • Gunakan taksi bandara untuk menuju penginapan. Tarif taksi dari bandara menuju Kuta berkisar antara IDR 45.000 hingga IDR 50.000.

 

Hari Pertama (Sabtu)

Hari pertaman di Bali kita akan mengunjungi daerah wisata yang tidak biasa dikunjungi oleh wisatawan, yaitu Denpasar dengan menggunakan sepeda motor.

06.30 – 07.30 : Sarapan pagi dan siap-siap menuju Denpasar.

08.30 – 10.00 : Mengunjungi Monumen Perjuangan Rakyat Bali (Bajra Sandhi).

10.30 – 12.00 : Mengunjungi Museum Lukisan Sidik Jari dan makan siang.

12.30 – 14.00 : Mengunjungi Museum Bali Denpasar. 

15.00 – 17.30 : Mengunjungi Tanah Lot dan menunggu sunset.

18.00 – 20.00 : Makan malam, kembali ke penginapan, dan istirahat.

Catatan:                                          

  • Penginapan di Bali sebagian besar menyewakan sepeda motor dengan tarif IDR 50.000 per hari. Kita juga bisa mengembalikan sepeda motor di bandara tegantung kesepakatan.
  • Perjalanan dari Kuta ke Denpasar memakan waktu sekitar 30 – 50 menit.
  • Monumen Bajra Sandhi terletak di Jalan Raya Puputan No. 142, Denpasar Timur. Tiket masuk untuk WNI adalah IDR 10.000. Seperti Monas, monumen ini berfungsi sebagai tugu peringatan.
  • Museum Lukisan Sidik Jari terletak di Jalan Hayam Wuruk 175/201. Tidak dipungut biaya untuk masuk ke museum ini. Di dalam museum terdapat café dan wantilan untuk beristirahat. Dalam museum ini menyediakan tempat untuk mendalami seni Bali seperti lukis dan tari.
  • Museum Bali Denpasar terletak di Jalan Mayor Wisnu Denpasar. Museum ini menyimpan banyak sekali pengetahuan tentang peradapan manusia terutama masyarakat Bali.
  • Dari Denpasar menuju Tanah Lot jaraknya cukup jauh, sekitar 18 KM dan memakan waktu sekitar 1 jam. Tapi perjalanan tersebut tidak akan membosankan karena kita akan disuguhi pemandangan persawahan dan kebun. Dan rasa lelah juga akan terbayar setelah kita sampai di Pura Tanah Lot. Sore hari yang cerah antara pukul 16.00 – 19.00 adalah waktu yang tepat untuk menikmati keindahan sunset di Tanah Lot.

 

Hari Kedua (Minggu)

Hari kedua masih dengan sepeda motor kita akan mengunjungi Bali selatan dan bermain air di pantai-pantainya. Perjalanan kita mulai dari tempat yang paling dekat dengan Kuta.

06.30 – 07.30 : Sarapan pagi dan siap-siap menuju Bali Selatan.

08.00 – 09.30 : Mengunjungi Garuda Wisnu Kencana

10.00 – 12.00 : Bermain air di pantai Padang Padang

12.30 – 14.00 : Mengunjungi pantai Pandawa dan makan siang   

15.00 – 17.30 : Mengunjungi Pura Luhur Uluwatu

18.00 – 20.00 : Makan malam, Kembali ke penginapan, dan istirahat

Catatan:

  • Garuda Wisnu Kencana atau yang lebih dikenal dengan GWK adalah sebuah taman budaya yang berada di Jalan Raya Uluwatu, desa Ungasan. Daya tarik utamanya adalah Patung Garuda Wisnu yang berukuran besar yang di pahat oleh seniman terkenal I Nyoman Nuarta. GWK buka dari jam 08:00 – 22:00 dengan harga tiket IDR 60.000 per orang.
  • Pantai Padang Padang dikenal juga dengan pantai Labuan Sait, merupakan salah satu lokasi syuting film Hollywood Eat Pray Love, yang dibintangi Julia Robets. Lokasinya berada di Jalan Labuan Sait, desa Pecatu sekitar 30 menit dari GWK. Tiket masuknya adalah IDR 5000 saja. Di sini kita akan bermain air sepuasnya. Pantai ini masih sepi pengunjung jadi kita bisa bebas menikmatinya.
  • Pantai Pandawa salah satu pantai berpasir putih yang wajib dikunjungi. Pantai ini sangat ramai pengunjung, dan banyak terdapat tempat makan di sekitarnya. Jadi kita akan makan siang sambil menikmati pemandangan pantai. Setelah makan siang kita dapat bermain air dengan menyewa kano seharga IDR 25.000 per orang, durasi 1 jam. Harga tiket masuk ke kawasan Pandawa ini adalah IDR 8000 per orang.
  • Pura Luhur Uluwatu terletak di di Desa Pecatu, Kecamatan Kuta Selatan, Kabupaten Badung Bali. Pura Uluwatu terletak di atas bukit karang dengan ketinggian 97 meter di atas permukaan laut. Di sini kita bisa menyaksikan tarian Kecak Uluwatu yang biasanya dipentaskan pada pukul 18.00-19.00. Di sekitar tempat parkir banyak penjual makanan dan minuman, jadi tidak perlu khawatir jika tidak membawa makanan. Tiket masuk kawasan ini adalah IDR 20.000. 

 20160407_122246

Hari Ketiga (Senin)

Hari ketiga masih dengan sepeda motor kita akan mengunjungi tempat yang tidak terlalu jauh dari kuta dan mencari oleh-oleh.

05.00 – 07.30 : Mengejar matahari terbit dan bersantai di Sanur.

08.30 – 10.30 : Belanja oleh-oleh.

11.00 – 12.00 : Kembali ke penginapan dan siap-siap check out.

12.30 – 13.30 : Makan siang di sekitar Kuta  

14.00 – 16.00: Jalan-jalan di sekitar Kuta dan Legian

16.30 – 18.00 : Bersantai di pantai Kuta menikmati sunset.

18.30 – 19.00 : Menuju bandara Ngurah Rai dan kembali ke Bandung.

Catatan :

  • Untuk bisa menikmati sunrise di Sanur kita harus bangun lebih pagi. Perjalanan dari Kuta ke Sanur sekitar 15 – 30 menit.
  • Check out jam 12, tapi kita bisa menitipkan barang kita dulu dan mengambilnya sore hari saat mengembalikan motor dan bersiap menuju bandara. Untuk menuju bandara kita bisa menggunakan taksi atau minta diantar oleh pihak penginapan dengan tarif sekitar IDR 50.000

Menjelajahi Bali menggunakan sepeda motor menurut saya lebih menyenangkan. Yang penting dari sebuh perjalanan adalah Enjoy every trip and make it fun. Setelah pulang liburan semoga mood dan semangat kita bisa kembali lagi.

page1

Pedestrian & Gentala Arasy Ikon Baru Kota Jambi

Pedestrian & Gentala Arasy Ikon Baru Kota Jambi

 

IMG_20160110_133154

Jembatan Pedestrian

Jambi adalah salah satu kota sederhana di pulau Sumatera. Namanya tidak terlalu diperhitungkan dalam urusan wisata. Dan belum menjadi tempat favorit para wisatawan lokal apalagi mancanegara. Potensi wisata jauh tertinggal jika dibandingkan dengan daerah tetangganya yaitu Sumatera Barat, apalagi jika dibanding dengan Lombok, Bali, ataupun Flores. Jika ditanya wisata apa yang terkenal di Jambi? Jawabannya tidak jauh dari gunung Kerinci, sungai Batanghari, dan kawasan Suku Anak Dalam. Gunung Kerinci adalah gunung tertinggi di Sumatera, gunung berapi tertinggi di Indonesia, dan puncak tertinggi di Indonesia di luar Papua. Sungai Batanghari adalah sungai terpanjang di pulau Sumatera sekitar 800 km. Di Jambi ada sekitar 22 sungai yang terdiri dari 12 sungai induk dan 10 anak sungai, dan semua sungai tersebut bermuara ke sungai Batanghari. Suku Anak Dalam atau Orang Rimba atau dikenal juga dengan Suku Kubu adalah salah satu suku bangsa minoritas yang hidup di Pulau Sumatera, tepatnya di Provinsi Jambi dan Sumatera Selatan. Namun ketiga potensi wisata unggulan tersebut masih belum terlalu banyak menarik wisatawan lokal maupun asing. Padahal tempat wisata di Jambi menawarkan pemandangan indah dengan banyaknya keunikan alam dan budaya yang dimilikinya.

Seperti daerah lain, pemerintah Jambi pun terus berusaha membangun dan mengembangkan potensi wisata yang telah ada untuk menarik lebih banyak wisatawan yang berkunjung. Dan yang baru-baru ini diresmikan oleh Wakil Presiden (wapres) Jusuf Kalla tepatnya tanggal 28 Maret 2015 yang lalu adalah Jembatan Pedestrian atau jembatan khusus penyebarangan orang. Jembatan ini memilik lebar 4,5 meter dan membentang sepanjang 503 meter di atas Sungai Batanghari, kota Jambi. Jembatan Pedestrian dibangun dengan konsep konstruksi cable stayed/kabel penahan yang ditopang oleh 2 buah tiang pancang setinggi 60 meter. Pembangunannya menghabiskan dana sekitar 77 milyar dan memakan waktu sekitar dua tahun. Bentuknya yang menyerupai huruf “S” ini membuantnya unik dan berbeda dengan kebanyakan jembatan di Indonesia. Jika selama ini wisatawan hanya bisa menikmati keindahan Batanghari dari pinggir sungai saja. Kini panorama sungai Batanghari sebagai sungai terpanjang di Sumatera ini bisa dinikmati dari atas jembatan. Sensasi panjang dan derasnya aliran sungai Batanghari semakin bisa dirasakan dengan berjalan di atas jembatan yang menghubungkan dua wilayah yaitu Kota Jambi dan wilayah Sebrang Kota Jambi. Selain itu jembatan berkelok-kelok ini juga cocok digunaka sebagai tempat jogging sambil menikmati udara sejuk pagi hari. Dan pagi juga termasuk waktu yang ideal untuk mengabadikan keindahan sungai Batanghari dalam kamera.

Bersamaan dengan peresmian Pedestrian, kota Jambi juga meresmikan Menara Gentala Arasy (jam gadang Jambi). Letaknya berada tepat di ujung jembatan Pedestrian wilayah Seberang Kota Jambi, desa Mudung Laut, Kecamatan Danau Teluk yang merupakan kawasan cagar budaya. Gentala Arasy dibangun sejak tahun 2012 dan memiliki tinggi sekitar 32 meter. Pada lantai dasar menara Gentala Arasy tersebut terdapat museum mini yang menyimpan berbagai informasi tentang masuk dan berkembangnya agama Islam di Jambi. Dari atas ketinggian menara ini wisatawan juga bisa menikmati sungai Batanghari dan pemandangan alam kota Jambi secara keseluruhan. Lingkungan di sekitar Menara Gentala Arasy juga mulai menjadi sentra wisata kuliner lengkap dengan floating restaurant/restoran terapung yang siap memanjakan wisatawan dengan sajian kuliner khas Jambi. Sehingga pengunjung dapat bersantai menikmati keindahan alam sekaligus menikmati kuliner jambi dari pinggir sungai. Tentu saja hal ini membuat betah siapapun yang berkunjung ke tempat ini. Sore hingga malam hari adalah waktu yang sempurna untuk menikmati keindahan wisata baru di Jambi ini. Kini kedua bangunan mewah tersebut menjadi ikon wisata dengan konsep Waterfront City Park yang lengkap dengan kekayaan nilai religi, budaya, dan kuliner khas Jambi. Dan semua keindahan ini dapat kita nikmati secara gratis tanpa dipungut biaya.

Dua ikon baru wisata kota Jambi ini sangat mudah dijangkau, karena letaknya yang berada di pusat kota Jambi dan berada tidak jauh dari Bandara Sultan Thaha Jambi. Bandara Sultan Thaha terletak persis di pinggir jalan raya, sehingga aksesnya sangat mudah. Bandara Sultan Thaha melayani penerbangan dari dan menuju Ibu Kota Jakarta, Batam, Pekanbaru, dan Palembang. Maskapainya pun sudah cukup beragam, dari yang murah sekitar empat ratus ribuan hingga yang mahal sekitar satu jutaan. Maskapai tersebut antara lain adalah Garuda Indonesia, Lion Air, Sriwijaya Air atau Nam Air, Citilink, dan Wings Air. Lama penerbangan dari Jakarta menuju Jambi sekitar 1 jam 15 menit saja.

Jarak tempuh ke dari Bandara Sultan Thaha ke pusat kota adalah sekitar 5-6 kilometer. Ada beberapa pilihan angkutan untuk menuju kota Jambi dan sekitarnya, termasuk ke jembatan Pedestrian dan Gentala Arasy. Yaitu antara lain:

  • Taksi Bandara. Taksi di bandara Sultan Thaha Jambi rata-rata belum dikelola dengan rapi. Sebagian besar taksi tidak menggunakan Argo dalam operasionalnya. Tarif taksi ditentukan berdasarkan tawar-menawar antara calon penumpang dan pengemudi. Tarif dari Bandara menuju Kota Jambi berkisar antara Rp. 50.000 sampai dengan Rp. 100.000.
  • Bus Damri. Bus Damri di bandara Sultan Thaha tidak seperti di kota-kota lain yang berupa bus besar. Di sini Damri hanya berupa minibus Mitsubishi L-300. Tiket Damri dapat dibeli di counter pada pintu kedatangan di bandara. Jadwal keberangkatannya mengikuti jadwal pesawat yang mendarat. Adapun rute dan tarif bus damri
  1. Bandara Sultan Thaha –> Jambi Timur –> Petaling dan sekitarnya, Tarif Rp. 25.000,-
  2. Bandara Sultan Thaha –> Kotabaru –> Tempino dan sekitarnya, Tarif Rp. 30.000,-
  3. Bandara Sultan Thaha –> Telanai –> Mendalo dan sekitarnya, Tarif Rp. 35.000,-
  4. Bandara Sultan Thaha –> Telanai –> Aurduri dan sekitarnya, Tarif Rp. 40.000,-
  • Angkot dan Ojeg. Dan ini menurut saya angkutan yang paling praktis. Bila kita akan menggunakan Angkutan Kota atau Ojek kita dapat langsung berjalan keluar Bandara dan menunggu angkutan atau ojek yang ada di pinggir jalan halaman depan bandara. Tarif angkot adalah sekitar Rp. 3000 sedangkan tarif ojek sesuai kesepakatan antara Rp.5000 sampai dengan Rp. 10.000 tergantung kesepakatan tawar menawar.

Bagi yang berminat mengunjungi kota Jambi pada long weekeng awal Februari 2016 nanti, harga tiket yang paling murah berkisar 400ribuan dengan menggunakan maskapai Lion Air. Harga maskapai lain dapat langsung dicek di website www.vokamo.com. Selain menyediakan tiket pesawat, Vokamo.com juga menyediakan jasa sewa mobil dengan atau tanpa supir dengan harga yang hemat di kota Bali, Lombok, dan Balikpapan. Selain itu kita juga bisa memesan hotel dan paket makan di restoran melalui website Vokamo.

Ya, jika ditanya destinasi wisata mana lagi yang ingin saya kunjungi tahun ini, saya akan jawab ‘LOMBOK’. Lombok kini menjadi salah satu primadona destinasi wisata di Indonesia setelah Bali. Daerah yang terletak di NTB ini memiliki pantai-pantai yang tidak kalah indahnya. Selain itu akses menuju Lombok juga semakin mudah. Beberapa maskapai dari Jakarta yang menuju Lombok antara lain Garuda Indonesia, Lion Air, dan Batik Air. Bahkan saat ini Citilink melayani rute dari Bandung langsung menuju Lombok dengan harga terjangkau. Ada beberapa destinasi wisata di Lombok yang ingin saya kunjungi. Salah satunya adalah Pulau-pulau Gili yang terletak di lepas barat laut Pulau Lombok. Ada tiga pulau di kawasan ini yang keindahannya tidak diragukan, yaitu Gili Air, Gili Meno, dan Gili Trawangan. Pemandangannya sangat indah, pasirnya berwarna putih, dan biota lautnya beraneka ragam. Selain itu beberapa destinasi wajib seperti Pantai Kuta, Senggigi, Batu Bolong, Batu Layar, dan banyak tempat wisata lain di Lombok yang juga sayang jika dilewatkan.

Gallery Keindahan Provinsi Jambi

Negeri Para Laskar Pelangi

Negeri Para Laskar Pelangi

Setiap kali melihat harga tiket pesawat sedang diskon, otak petualang dengan cepat merespon dan mencari-cari objek wisata yang ingin dikunjungi. Seperti yang saya alami bulan Juni 2015 kemarin, tepatnya beberapa hari sebelum memasuki Ramadhan. Siang itu saat jam kerja sedang sibuk-sibuknya, tiba-tiba saya menerima pesan singkat dari seorang teman. “Tiket pesawat Garuda tujuan Belitung lagi diskon, hayu kita ke sana. Aku pengen ngerasain naik Garuda”, begitulah kira-kira isi BBM-nya. “Apa? Jadi tujuan utamanya kali ini bukan piknik tapi naik Garuda?”, jawab saya. Tapi saya pun seperti terhipnotis, langsung menyetujui perjalanan yang tanpa perencanaan itu. Satu sisi demi menyenangkan teman yang sangat ingin naik Garuda, dan di sisi lain Belitung memang layak dikunjungi. Selain Garuda Indonesia ada beberapa maskapai yang melayani penerbangan dari Jakarta menuju Belitung atau Tanjung pandan yaitu, Citilink, Lion Air, dan Sriwijaya Air.

Seperti kebanyakan orang yang mengunjungi Belitung, saya pun tidak melewatkan kesempatan untuk mencicipi Mie Belitung Atep. Mie kuning dengan campuran potongan tahu, kentang rebus, mentimun, tahu, tauge, emping melinjo, lalu disiram dengan kuah kental berwarna kecoklatan dari kaldu udang ini kini jadi kuliner andalan Belitung. Rasanya asam manis. Awalnya memang agak aneh di lidah menurut saya, tapi setelah diberi sedikit sambal rasanya jadi lebih nikmat. Selain mie Belitung, kuliner Belitung yang saya cicipi adalah sup ikan atau dikenal dengan sebutan ‘gangan’. Ikan segar diracik dengan bumbu sederhana yang menawarkan rasa gurih, asam, dan pedas. Jenis ikan yang biasa digunakan adalah ikan Ketarap dengan tekstur dagingny renyah dan empuk.

Hari pertama di Belitung kami lebih banyak mengunjungi tempat kuliner dan tempat-tempat bersejarah. Yang pertama kami kunjungi adalah Vihara Budhayana Dewi Kwan Im. Vihara bernuansa merah ini terletak di desa Burung Mandi, kabupaten Belitung Timur. Konon katanya bangunan ini telah berdiri sejak dua setengah abad yang lalu. Tepatnya sekitar tahun 1747, dan masih digunakan untuk beribadah hingga sekarang.

Vihara Dewi Kwan Im

Vihara Dewi Kwan Im

Tempat yang kami kunjungi selanjutnya adalah Sanggar Batik De Simpor milik ibunda Gubernur Jakarta Bapak Ahok, dan Museum Kata milik Andrea Hirata penulis novel Laskar Pelangi yang fenomenal. Berkat novel ini lah Belitung semakin dilirik wisatawan lokal dan asing. Kedua tempat ini letataknya berdekatan yaitu di daerah Gantung, kabupaten Belitung Timur. Dan menjelang sore kami bermain-main di replika SD Muhammadiyah Gantong yang merupakan latar belakang utama novel Laskar Pelangi. Semakin hari semakin banyak saja wisatawan yang berkunjung ke sini. Tempatnya yang sejuk dan jauh dari keramaian membuat saya betah berlama-lama di tempat ini.

Replika SD Muhammadiyah

Replika SD Muhammadiyah

Keesokan harinya saatnya menikmati keindahan alam dan pantai yang dimiliki Pulau Belitung. Meskipun cuaca mendung dan sempat turun hujan tapi tidak mengurangi keindahan pantai-pantai di sini. Tujuan kami yang pertama adalah Pulau Lengkuas. Yang membuat pulau ini istimewa dan menarik adalah keberadaan mercusuar tua yang memiliki 18 lantai dan merupakan peninggalan Belanda yang telah dibangun sejak tahun 1882. Dari atas mercusuar ini kita bisa menikmati pemandangan gradasi warna air laut yang indah. Keindahan pulau ini semakin lengkap dengan banyaknya batu granit yang berdiri kokoh dan sangat menakjubkan.

Pulau Lengkuas

Pulau Lengkuas

Pulau Lengkuas

Pulau Lengkuas

Selain Pulau Lengkuas masih banyak pulau-pulau dan pantai lain yang kami kunjungi hari itu. Salah satunya adalah Pulau Batu Berlayar yang dari namanya saja sudah dapat kita banyangkan pulau ini dipenuhi dengan batu-batu besar yang nyaris menyerupai layar. Selain itu juga ada Pantai Laskar Pelangi yang merupakan lokasi pengambilan adegan di film Laskar Pelangi. Pantai ini tidak kalah indahnya, dan seperti pantai yang lain, pantai ini juga didominasi oleh batu-batu besar yang berdiri kokoh.

Saat ini saya lebih mencintai pantai dari pada gunung. Meskipun telah bermain dibanyak pantai di Pulau Belitung ini tapi saya masih tetap ingin bermain air di pantai yang lain. Jika ditanya destinasi wisata mana lagi yang ingin saya kunjungi saya akan jawab ‘LOMBOK’. Lombok kini menjadi salah satu primadona destinasi wisata di Indonesia setelah Bali. Daerah yang terletak di NTB ini memiliki pantai-pantai yang tidak kalah indahnya. Selain itu akses menuju Lombok juga semakin mudah. Beberapa maskapai dari Jakarta yang menuju Lombok antara lain Garuda Indonesia, Lion Air, dan Batik Air. Bahkan saat ini Citilink melayani rute Bandung langsung menuju Lombok dengan harga terjangkau.

Ada beberapa destinasi wisata di Lombok yang ingin saya kunjungi. Salah satunya adalah Pulau-pulau Gili yang terletak di lepas barat laut Pulau Lombok. Ada tiga pulau di kawasan ini yang keindahannya tidak diragukan, yaitu Gili Air, Gili Meno, dan Gili Trawangan. Pemandangannya sangat indah, pasirnya berwarna putih, dan biota lautnya beraneka ragam. Selain itu beberapa destinasi wajib seperti Pantai Kuta, Senggigi, Batu Bolong, Batu Layar, dan banyak tempat wisata lain di Lombok yang juga sayang jika dilewatkan.

Saat mengunjungi Lombok suatu hari nanti saya akan kembali memilih maskapai Garuda Indonesia untuk mengantarkan saya ke sana. Meskipun harganya lebih tinggi dibanding maskapai yang lain, tapi itu sebanding dengan kenyamanan yang didapatkan. Bisa memotret awan di ketinggian ribuan kaki berdampingan dengan sayap Garuda adalah sudatu seni tersendiri menurut saya. Semoga saja impan ini kembali dapat dengan cepat terwujud. Amin!