Karena Ibuku Galak

Karena Ibuku Galak

InShot_20171217_222617578

Aku dan Ibuku

Ibuku galak. Bukan hanya menurut saya, tapi juga menurut teman-teman dan bahkan juga menurut bapak saya. Mengapa Ibuku bisa sampai menyandang predikat Ibu Galak? Setidaknya ada dua alasan. Yang pertama, ibu-ibu lain di kampung saya waktu itu  sebagian besar tentu akan membiarkan anaknya bermain setelah pulang sekolah. Tapi Ibuku tidak. Sebagai anak kecil, saya juga ingin bermain karet, congklak, atau bermain petak umpet bersama teman-teman. Tapi setiap pulang sekolah yang saya lakukan adalah memperlihatkan buku catatan pelajaran, ganti baju, sholat, makan, mengerjakan PR, dan lalu membaca kembali buku catatan pelajaran. Jika ketahuan keluar rumah, maka Ibu akan langsung mencari dan memanggil saya untuk pulang dengan nada marah. Saya bukannya tidak boleh bermain sama sekali, boleh saja bermain, tapi sore hari saat semua tugas dan tanggung jawab sudah dikerjakan. Meskipun Ibu terkenal galak dan sering melarang bermain, tapi banyak momen dimana Ibu menemani saya bermain. Saya masih ingat beberapa kali ibu menghampiri dan lalu membantu saya saat sedang membuat rumah-rumahan dari kayu-kayu kecil dengan daun-daun pisang sebagai atapnya. Ibu juga sering membantu saya membuatkan tungku kecil dari batu bata saat saya bermain masak-masakan.

Yang kedua, mengapa Ibuku terkenal galak adalah karena Ibu tidak suka mengulangi perintah dua kali. Setiap anak telah diberi tanggung jawab masing-masing. Misalnya kakak saya bertugas menyapu halaman, sedang saya bertugas mencuci piring. Dan itu memang harus dikerjakan. Jika tidak, Ibu akan mengerjakannya sendiri, lalu diam. Dan ini yang lebih menakutkan, saat Ibu marah dalam diam. Saya bisa tidak ditegur beberapa hari, dan ini membuat saya jadi serba salah.

Ya begitulah Ibuku. Dan setiap ibu mempunyai keunikan sendiri dalam mendidik dan membentuk karakter anak-anak sesuai yang diinginkannya. Begitu pula dengan Ibuku yang selalu menanamkan kemandirian, disiplin, dan bertanggung jawab. Ibu mengajarkan dengan memberi contoh banyak hal sejak saya kecil. Sehingga saya memiliki cukup banyak keahlian. Saya telah terbiasa mencuci sepeda, sepatu, tas, dan juga menyetrika seragam sekolah sendiri sejak kelas tiga SD. Saya juga mahir menjahit dengan tangan baju yang robek. Saya juga bisa membuat berbagai macam kerajinan tangan seperti bunga dari pita-pita, juga membuat hiasan dinding dari benang wol. Dan tahukah kamu kalau saya juga telah pandai bercocok tanam sejak kecil? Sejak kecil saya suka bercocok tanam, baik bunga maupun sayuran. Ibu membelikan saya bibit sayuran dan juga polybag untuk saya belajar bercocok tanam. Ibu juga membantu memasukkan tanah dalam polybag. Hasil panen tidak hanya untuk dikonsumsi sendiri, tapi sebagian juga dijual pada tetangga. Dan itu menyenangkan sekali.

Processed with VSCO with f2 preset

Saat berkunjung dan belajar Ecofarming di Kampung Tabrik, Cianjur bersama team blogger

Dan saya sangat bersyukur, karena Ibu Galak, saya bisa berlibur ke berbagai daerah di Indonesia tanpa harus mengeluarkan uang. Satu hal lagi cara Ibu mendidik yang sangat inspiratif. Saat saya kecil Ibu lebih suka membelikan buku atau majalah dongeng. Ibu juga membelikan buku untuk saya menulis diary. Ibu ingin anak-anaknya senang membaca buku dan juga gemar menulis. Katanya tidak ada warisan dari orang tua untuk anaknya yang lebih berharga daripada Kegemaran Membaca Buku. Dan saya bersyukur dia adalah Ibu Galakku. Berkat kegemaran membaca, sayapun akhirnya mempunyai bakat menulis dan telah beberapa kali memenangkan lomba menulis yang berhadiah liburan. Memang benar dengan membaca kita akan mengenal dunia, akan tahu banyak hal, menguasai banyak kata, luwes dan fasih dalam bertutur kata. Dengan banyak membaca, kita akan tahu banyak cerita dari orang-orang yang bahkan kita belum pernah bertemu, juga akan tahu tempat-tempat yang bahkan belum pernah kita datangi. Dan lalu dengan kegemaran menulis maka dunia akan mengenal kita. Kita bisa berbagi ilmu dan pengalaman dengan seluruh manusia di belahan dunia manapun. Dan mereka yang belum pernah bertemu pun dapat mengenal kita lewat tulisan.

 

Terima kasih Ibu, telah mengajarkan banyak hal. You’re my greatest inspiration and role model.

 

Advertisements
Mereka Tanya Kapan Kawin

Mereka Tanya Kapan Kawin

 

duniarahmi

duniarahmi – I am not afraid of to being alone

“Kapan kawin?”

Itu lah pertanyaan yang beberapa tahun terakhir ini sering saya dengar, tepatnya ketika memasuki usia yang seharusnya menikah –menurut standar orang lain-. Awalnya saya tidak merasa terganggu dengan pertanyaan-pertanyaan seperti itu. Toh saya masih merasa nyaman dengan status belum menikah. Dan lagi pula masih banyak hal-hal yang masih ingin saya lakukan di usia saya saat ini. Bukan mengejar karir, bukan pula soal mengejar dunia, tapi mengejar sesuatu yang membuat hati saya mencapai pucak bahagia.

Dulu, saat masih kuliah saya memiliki rencana ingin menikah saat usia 26 tahun. Namun semua orang tahu manusia hanya dapat berencana, Tuhan yang menentukan. Ketika selesai kuliah, saya langsung bekerja di sebuah perusahaan asing. Sejak saat itu kehidupan saya hanya fokus untuk bekerja bekerja dan bekerja demi membantu biaya sekolah kuliah adik-adik saya. Selain itu saya juga mulai menggandrungi hobi backpacker/traveling yang memang pernah jadi impian saya saat kecil. Sehingga saat hari libur saya gunakan untuk backpacker-an bersama teman-teman komunitas Backpacker Indonesia.

Seiring dengan kemajuan teknologi dan berkembangnya sosial media, saya dapat kembali bertemu dengan teman-teman saat sekolah dan saat masih berada di Sumatera dulu. Tentu saja saya merasa senang dapat berkomunikasi lagi dengan teman-teman lama. Bahkan kami sedikit banyak dapat saling melihat kehidupan masing-masing melalui berbagai sosial. Hal yang awalnya saya syukuri ini akhirnya malah membuat saya jengah. Pertanyaan “Kapan kawin?” semakin sering terdengar. Ada yang hanya sekedar bertanya, namun banyak juga yang berujung dengan ceramah panjang lebar. Ada yang menasehati dengan baik dan penuh empati, namun lebih banyak yang menghakimi. Dan yang paling membuat saya kesal adalah tuduhan bahwa saya belum menikah karena terlalu pilih-pilih dan mengejar kesempurnaan. Dan semua ini pada akhirnya membuat saya lebih sering menghindari acara-acara reuni dan tidak banyak berinteraksi lagi dengan teman-teman lama baik melalui dunia nyata maupun grup di sosial media. Saya lebih suka bertemu dengan orang-orang baru yang tidak pernah memusingkan soal kehidupan pribadi dan pilihan hidup.

Awalnya memang pertanyaan “Kapan kawin?” saya jawab dengan santai.

Ini beberapa contoh pertanyaan yang sering saya dengar,

“Kapan akan menikah?”

Saya akan jawab, “Besok kalau tidak hujan.” Atau “Tahun depan, ditunggu saja.”

“Kapan nikah? Mau nunggu apa lagi? Usia sudah semakin bertambah, semakin banyak saingan yang muda-muda.”

Saya jawab, “Sabar. Saya saja yang menjalani sabar, kenapa kamu yang hanya tinggal nonton tidak sabar.”

“Kapan nikah? Apa mau sendiri terus? Nanti kalau tidak punya anak siapa yang akan mengurus kamu saat tua.”

Dan saya akan jawab, “jadi kamu punya anak hanya berharap ada yang megurus saat tua? Nih, tetangga saya, punya anak empat dan semuanya meninggal saat muda, dan akhirnya orang tuanya hidup sebatang kara saat tua. Banyak juga orang tua yang terlantar karena anaknya tidak mau mengurusnya. Masalah tua ada yang mengurus atau tidak, itu sudah jalan hidup yang tertulis.

Dan banyak cara bertanya yang kadang membuat saya marah. Biasanya pertanyaan ini muncul dari orang-orang yang sebenarnya tidak bahagia dalam pernikahannya. Biasanya mereka akan bertanya begini,

“Kapan nikah? Nikah tuh enak lho, orang bilang surganya dunia. Kalau tidur jadi hangat karena punya selimut berjari (awalnya saya tidak mengerti ungkapan ini). Dan Bla..bla..bla..”

Dan saat pernyataan seperti ini muncul, saya biasanya akan jawab, “Saya tidak seperti kamu, hidup hanya mengurusi soal selangkangan.” Dan mereka pun diam.

Suka-atau tidak suka, saya hidup di negara yang mayoritas penduduknya masih menganggap belum menikah saat kepala tiga itu hal yang memalukan bahkan mnyedihkan. Bahkan banyak stereotipe yang berkembang yang mengatakan perawan tua memiliki masalah psiklogis, mudah marah, jika menjadi guru ia akan menjadi guru yang killer, dan mereka akan selalu merasa dengki. Bahkan Ayu Utami dalam bukunya yang berjudul ‘Si Parasit Lajang’ mengatakan wanita yang belum menikah itu ibarat Parasit Lajang yang numpang di rumah orang tua, seharian bekerja, malam tidur, tanpa berfikir untuk masak atau mengurus taman.

Sebenarnya bagi saya hidup itu mengalir saja, yang penting bahagia. Dan hidup bahagia memiliki banyak cara, bukan hanya dengan menikah. Namun pertanyaan-pertanyaan “Kapan kawin?” yang terkadang melukai perasaan. Pertanyaan itu yang kadang memaksa saya untuk menyadari dan memikirkan sesuatu yang awalnya wajar-wajar saja. Meskipun saya juga masih berharap suatu saat nanti Tuhan akan mempertemukan dengan orang yang membuat saya merasa nyaman dan menjalani hidup bersama hingga mati. Namun saya tidak ingin memaksakan diri menikah hanya karena tidak sanggup lagi mendengar pertanyaan “Kapan kawin?”

Jadi, jangan tanya lagi kapan saya kawin! Bukankah lebih mulia mendoakan dalam hati dari pada bertanya sekedar basi-basi tapi sangat melukai.

DSC_5433

duniarahmi – LEARNING TO DANCE IN THE RAIN

In Memorial of Teh Siti

In Memorial of Teh Siti

Teh Siti…

Aku mengenalmu sekitar tujuh tahun yang lalu. Ya, tahun 2007 bulan Desember ketika aku jadi karyawan baru di PT. Fuji Spring Indonesia. Meskipun saat aku masuk Fuji Spring, dirimu sedang proses keluar dari perusahaan Jepang di kawasan KIIC karawang itu. Aku mengenalmu sebagai pribadi yang baik, murah senyum, dan tidak pernah memperlihatkan wajah yang suram. Dan saat itu, saat pertama kita bertemu kau belum memakai jilbab, rambut masih dicat warna pirang.

@kampung Daun

@kampung Daun

Meskipun kita tidak lagi bekerja di perusahaan yang sama, tapi kita masih sering main bersama, karena kau berteman baik dengan Mba Ozy teman sekamarku. Rumahmu yang tidak jauh dari kosan kami membuat kita tidak putus silaturahmi. Kau bahkan sering menginap di kosan saat akhir pekan. Kita bercerita hingga larut malam, dan kau selalu mengulang-ulang cerita yang sama setiap kali bertemu. Kita makan dan karaoke di Ramayana Karawang, kita bercerita tentang peluang usaha rumahan, kita bercerita sambil menikmati mangga yang kita petik langsung dari pohon di depan kamar kosan. Aku rindu saat-saat itu. Meskipun usia kita terpaut jauh, tapi kita berteman seperti tanpa ada jarak usia. Dan saat-saat setelah keluar dari Fuji Spring itulah, saat masalah berat sedang menghampirimu, kau memutuskan untuk memakai jilbab dan hidup lebih dekat denga Sang Maha.

@Lisung

@Lisung

Tahun berganti, Tahun 2009.

Tidak lama setelah Mba Ozy memutuskan keluar dari Fuji Spring aku pun ikut keluar, lalu memutuskan mengadu nasib di kota Bekasi. Dan silaturrahmi kita tetap tidak terputus. Kau beberapa kali mengunjungiku di Bekasi. Hanya sekedar untuk berbagi cerita. Kau juga bahkan pernah mengantarku interview ke Lembaga Bahasa yang menyebalkan itu di Kampung Melayu. Setelah itu kita berdiri lama menunggu bus arah Tanjung Priuk yang tak kunjung datang. Akhirnya setelah hampir satu jam berdiri, seorang tukang ojeg yang merasa kasihan menghampiri dan menyarankan kita untuk naik angkot saja karena bus yang kita tunggu memang jarang ada. Berkat kebaikan tukang ojeg dan supir angkot akhirnya kita bisa menemui Mba Ozy yang sedang menunggu Ayahnya di Rumah Sakit.

Tahun berganti, Tahun 2010.

Aku memutuskan kembali ke Bandung, kembali mengadu nasib di kota sejuk yang telah aku tinggali lebih dari 10 tahun ini. Dan pertemanan kita tidak berubah. Kau juga masih rajin menginformasikan kontak Mba Ozy yang sering kali menghilang. Kau masih sering menelponku berjam-jam menceritakan hal yang sama. Ya, hal yang sama yang telah aku dengar berulang-ulang kali sejak di Karawang. Tapi kali ini kau juga menambahkan cerita baru. Cerita seseorang yang tak kunjung meminangmu, dan kamu hampir lelah menunggu. Tapi aku tidak pernah lelah mendengar ceritamu, meskipun itu adalah cerita yang sama. Meskipun kau menelponku hingga larut malam saat orang lain telah dibuai mimpi.

@Lisung

@Lisung

Saat aku di Bandung, dua kali kau bersama lelaki yang kau ceritakan itu mengunjungiku. Kita berkeliling Bandung menikmati udara segar di Kampung Daun, kita juga menikmati kuliner malam di Dago Atas. Dia lelaki yang kau ceritakan itu, lelaki yang akhirnya meminangmu tahun lalu terlihat sangat melindungimu. Aku terkesan saat lelakimu rela kembali ke mobil hanya untuk mengambil jaket karena udara di Lisung sangat dingin. Aku merasa hidupmu sangat sempurna, membuatku sedikit merasa iri. Kau benar-benar seperti Cinderella modern, ya dan aku yakin semua wanita ingin sepertimu.

@Lisung

@Lisung

Di awal-awal kehamilanmu kau sering mengeluh tak bisa makan. Aku menyarankanmu banyak hal agar kuat saat hamil tapi kau tetap bilang tidak bisa. Kau juga mengeluhkan beberapa hal yang mengganggu mu, dan aku menyarankanmu agar kau tidak mengeluh, agar bayi dalam perutmu tetap sehat. Aku memintamu agar selalu bersyukur karena hidupmu yang jauh lebih sempurna dari orang lain, ya semakin sempurna dengan adanya mahluk kecil dalam rahimmu. Itulah pembicaraan terakhir kita di BBM, tanggal 27 Oktober 2014, dua hari sebelum kau kembali masuk rumah sakit. Sejak awal hamil hingga akhir hidupmu kau telah akrab dengan rumah sakit.

Hari senin 3 November 2014 pukul 10:25 malam aku mendengar beritamu dari Silfa. Kau sudah tak sadarkan diri setelah operasi caesar padahal usia kandunganmu baru tujuh bulan. Mereka bilang kau terus mengalami kontraksi dan tekanan darahmu tinggi hingga diputuskan untuk operasi. Setelah itu kau tertidur, dokter bilang kemungkinan mu sadar hanya 5%. Sejak hari itu aku menunggumu update status di BB, setiap hari aku bertanya bagaimana kabarmu. Hingga akhirnya aku mendengar berita dari Ubun malam ini tanggal 8 November 2014, Allah telah menyempurnakan kebahagiaanmu dengan memberikan tempat yang indah di sisi-Nya. Istirahat lah Teh Siti, di sana duniamu aku yakin akan jauh lebih indah. Murid-murid TK yang pernah kau ajar dan anak-anak yatim yang selalu kau santuni, anak yang kau lahirkan, pasti akan menuntunmu ke Surga-Nya. InsyaAllah..

Selamat Jalan Teh, We Love You and will always Miss You..

Please VOTE for Me

Kita semua bisa menjadi reporter yang bisa membantu orang lain dgn postingan di sosial media.
“The Most Inspiring Social Media Reporter” adalah hasil karya dengan jumlah voting tertinggi pada setiap kategori.
Dan buat yang berhasil menjadi “The Most Inspiring Social Media Reporter” berhak mendapatkan hadiah menjelajahi Asia! 😀 Semoga mimpi kali ini pun menjadi nyata.
Voting hasil karyaku sudah bisa dimulai dari hari inii lho!!
Periode voting adalah : 22 Okt – 10 Nov 2014.
Teman bantu aku  untuk mewujudkan mimpiku dengan memberikan VOTE.
Voting bisa dilakukan dengan cara, yaitu :
Buat voters kamu yang paling aktif, berhak mendapatkan hadiah Gadget keren dari !

IMG_30401 Screenshot 2014-10-23 12.25.522 Screenshot 2014-10-23 12.23.50 Screenshot 2014-10-23 12.24.22

Vote via online bisa dilakukan di http://telkomsel.com/youreverydaydiscoveries

Dunia Rahmi mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya untuk semua yang telah memberikan VOTE nya.

The Weakness in Me

The Weakness in Me

Joan Armatrading

@komodoisland

I’m not the sort of person who falls in and quickly out of love
But to you, I give my affection, right from the start.
I have a lover who loves me, how could I break such a heart?
Yet still you get my attention.

Why do you come here, when you know I’ve got troubles enough?
Why do you call me, when you know I can’t answer the phone?
Make me lie when I don’t want to.
And make someone else some kind of an unknowing fool.
You make me stay when I should not.
Are you so strong or is all the weakness in me?
Why do you come here, and pretend to be just passing by?
When I mean to see you,, And I mean to hold you,, Tightly..

Feeling quilty,, Worried.. 
Waking from tormented sleep,
This old love has me bound, but the new love cuts deep. 
If I choose now, I’ll lose out, one of you has to fall… 
And I need you,, And you

Why do you come here, when you know I’ve got troubles enough?
Why do you call me, when you know I can’t answer the phone?
Make me lie when I don’t want to,
And make someone else some kind of an unknowing fool?
You make me stay when I should not?
Are you so strong or is all the weakness in me.
Why do you come here, and pretend to be just passing by?
When I mean to see you,, And I mean to hold you,, Tightly.

©duniarahmi

 

Good morning, my beloved sister..

 

Kita

Kita

18th June 2014

Hari ini tepat lima tahun kepergianmu.. Apa kabarmu hari ini Mba? Apa semuanya baik-baik saja di sana? Apa semuanya indah di sana? Apakah bunga-bunga di sana lebih indah dari bunga-bunga yang pernah kita tanam? Apakah buah-buahan yang ada di sana lebih manis dari buah-buahan di kebun kita? Apa makanan di sana lebih enak dari makanan-makanan yang pernah kita buat? Apakah Mba memakai baju-baju yang bagus dan wangi di sana, lebih bagus dan wangi di banding dulu? Ceritakan padaku bagaimana kehidupanmu di sana, aku akan senang mendengarnya seperti dulu aku selalu setia mendengar cerita-ceitamu. Karena aku tau dan percaya hanya DIA yang paling bisa menyembuhkan luka dan menghapus kesedihanmu, lalu membuatmu bahagia. Karena aku yakin kebahagianmu telah berlipat ganda di sana. Ceritakan padaku, aku rindu mendengar ceritamu.

Mba, rasa rinduku sampai detik ini masih sama seperti dulu. Masih sama seperti ketika kamu masih ada. Masih sama seperti ketika kamu pergi. Semuanya masih sama, tidak berubah sedikitpun. Dan Mba juga masih selalu hadir di dalam mimpiku, dan akupun menghadirkanmu dalam setiap doaku. Aku masih memakai pakai baju tidur mu, dan aku masih mendengarkan berulang-ulang lagu ‘Merindunya’ Pingkan Mamboo.

Tuhan kembalikan dia padaku, karena ku tak sanggup berada jauh darinya. Kirimkan malaikat cinta untuk nya, sampaikan pesan dariku yang selalu merindunya.”

Ini sudah lima tahun sejak kamu pergi Mba, tapi aku tetap tidak bisa sedetik saja tidak mengingatmu. Tolong sampaikan pada Nya, jika sampai saat ini aku masih saja menangis itu bukan meratapi kepergianmu, tapi aku tidak bisa menahan rindu ini. Aku rindu berbagi cerita denganmu, aku rindu jalan-jalan bersama, aku rindu tidur bersama, aku rindu masak bersama, aku rindu menanam bunga dan sayur bersama, aku rindu bermain di sungai bersammu, aku rindu melakukan banyak hal dengan mu. Aku rindu mendengar cerita-cerita cintamu. Aku rindu ingin mewujudkan mimpi-mimpi kita yang belum sempat terwujud. Apa Mba masih ingat impian kita untuk membangun taman bacaan anak-anak di rumah, membangun bimbingan belajar, membuat taman bunga dan kebun sayuran, apa Mba masih ingat semua mimpi-mimpi kita dulu? Aku tidak tau apa aku bisa melakukannya sendiri tanpamu.

Mba,, Akhir-akhir ini aku sering merasa sedih. Semuanya semakin sulit, dan aku tidak punya Mba lagi tempat aku berbagi cerita. Ternyata terkadang begitu melelahkan menjadi seorang kakak tertua. Merasa memegang tanggung jawab atas kebahagiaan adik-adikny. Apakah dulu Mba juga merasa begitu? Aku ingat, dulu aku juga tidak mau tau, aku selalu merasa bahwa apa yang aku butuhkan adalah tanggung jawabmu. Dulu aku tidak mau tau Mba dapatkan dari mana apa-apa yang aku inginkan. Dan engkau tidak pernah mengeluh, selalu saja mendapatkan apa yang aku mau, dan aku tidak tau sekeras apa engkau berjuang mendapatkannya. I feel blessed to have a sister like you. Maafkan aku, pasti dulu aku sangat merepotkanmu. Dan sekarang aku merasakannya, menjadi kakak tertua yang ingin berjuang agar adik-adiknya bahagia, bisa hidup lebih baik, bisa mendapatkan pendidikan yang layak. Aku merasa punya tanggung jawab dengan masa depan dan kebahagiaan mereka. Meskipun yang aku lakukan ini belum seberapa, tapi aku sudah berusaha melakukan semampu yang aku bisa. Terkadang harus menahan rasa sakit, ketika apa yang telah kulakukan tidak dihargai, malah sebaliknya menuduhku merusak masa depannya. Ini benar-benar menyakitkan Mba. Meski seorang kakak tidak berharap adiknya membalas apa yang telah dilakukannya, dan tidak mengapa jika mereka tidak bisa membalasnya, tapi paling tidak jangan melukai perasaannya. Aku mempertaruhkan banyak hal dalam hidupku yang mereka tidak tau. Terkadang aku merasa lelah. Mba maafkan aku berkeluh kesah seperti ini. Aku hampir tidak kuat lagi menanggung semuanya sendirian.

My Beloved Sissy

My Beloved Sissy

Dulu bersusah payah kita berjuang bersama untuk bisa berjalan di jalan yang baik. Bersusah payah kita berusaha untuk mendapatkan pendidikan yang lebih baik. Berjuang keras demi kehidupan yang lebih baik. Apa yang dulu kita lakukan tidak lah mudah. Usiaku waktu itu baru 12 tahun dan engkau 14 tahun, dan kita harus berjuang berdua di negeri orang jauh dari orang tua. Berapa banyak air mata yang menetes saat itu menahan derita. Itu sama sekali tidak mudah buatku dan terlebih buatmu yang harus menjagaku. Tapi pada akhirnya engkau tidak mendapatkan kebahagiaan, semuanya menjadi kacau dan berantakan. Entah apa yang Tuhan rencanakan pada hidup kita. Penderitaanmu hingga akhir hidupmu aku tidak benar-benar bisa merasakannya. Aku tidak pernah benar-benar tau seberat apa beban hidup yang selama itu Mba tanggung sendiri. Maafkan aku yang dulu tidak pernah berdamai dengan pilihan hidupmu, maafkan aku yang pernah tidak mau memahami cara berfikirmu. Maafkan aku yang pernah selalu menyalahkanmu atas segala hal yang tidak mampu aku lakukan. Jika ada yang bertanya penyesalan terbesar dalam hidupku aku akan katakana pada mereka, penyesalan terbesarku adalah aku tidak sempat memelukmu dan menciummu saat-saat terakhir hidupmu, dan aku tidak sempat menemani tidurmu di hari-hari terakhirmu, karena aku terlalu sibuk menjaga buah hatimu. Dan karena pada saat itu aku yakin Mba akan baik-baik saja, aku tidak mau memikirkan kemungkinan terburuk saat itu. Seandainya waktu bisa diputar kembali, aku akan kembali pada waktu itu. Tak akan kutinggalkan Mba sendirian sedetik saja, aku akan berada di sampingmu siang dan malam sepanjang hari. Tidak pernah kulihat orang sesabar dirimu menghadapi segala takdir hidup yang Tuhan gariskan. Maafkan aku Mba.. Maafkan aku yang tidak mampu meringankan bebanmu 😥

Mba saat ini kehidupanku semakin kacau dan tidak berarah. Sejak engkau pergi, aku merasa bingung dan hidup dalam kegelapan. Aku tersesat semakin jauh dan sulit bagiku menemukan jalan pulang. Sepertinya aku berjalan di jalan yang salah, aku telah mencoba kembali mencari ujung jalan yang terlihat cahaya. Tapi, aku masih belum menemukannya, semuanya gelap dan semakin gelap. Mba tolong sampaikan pada Nya, aku ingin kembali pada jalan yang seharusnya. Aku akan terus berjuang mendapatkan apa yang pantas aku dapatkan, agar kelak aku bisa menceritakan cerita-cerita bahagia pada mu. I miss you my beloved sister. I miss you so bad.

Hanya ini saja ceritaku hari ini. Nanti akan kutulis lagi surat buatmu, akan kuceritakan cerita-cerita yang lain. Akan ku ceritakan tentang kabar Mamak dan Bapak, dan akan kuceritakan tentang putri kecilmu.. Jangan khawatir, aku akan menjaga putrimu dengan baik. Istirahat yang tenang ya Mba, aku selalu berdoa untuk kebahagiaanmu di sana.. We love you..

We are Family

We are Family

Allah Tuhan semesta alam, aku mohon ampunilah dosa-dosa kakakku, terimalah amalan ibadahnya, lapangkan dan terangilah kuburnya, permudahkan lah urusannya, beratkanlah timbangan amalan ibadahnya, dan tempatkan lah ia di sisi Mu, di surga Mu bersama orang-orang yang beriman. May Allah pour all his love and warmth on you. Amin