Itinerary Menjamah Bali 3H2M

Itinerary Menjamah Bali 3H2M

20160407_102546 (2)

Salah Satu Icon Bali

Bali adalah salah satu destinasi wisata paling popular di Indonesia. Hingga saat ini pulau yang terkenal dengan julukan Pulau Dewata dan Pulau Seribu Pura ini masih menjadi primadona di Indonesia. Bukan hanya menjadi primadona di negeri sendiri tapi juga terkenal di dunia. Bali memiliki banyak sekali pantai yang indah seperti Pantai Kuta, Sanur, Lovina, Pandawa, Padang Padang, Nusa Dua, Jimbaran, Karma Kandara, Pantai Tanah Lot, Dreamland, dan masih banyak lagi. Wisata lain yang sangat terkenal antara lain Pura Luhur Tanah Lot, Pura Besakih, Pura Uluwatu, Danau Berantan Bedugul, Garuda Wisnu Kencana, Monumen Bardja Sandhi, Ubud, Kintamani, dan yang lainnya.

Bali memang merupakan tempat yang ideal untuk melepas kepenatan dari rutinitas pekerjaan yang kadang melelahkan. Bali akan memanjakan kita dengan wisata alamnya yang luar biasa, keramahan penduduknya, dan kebersihan kotanya. Tidak akan cukup waktu satu bulan untuk benar-benar menikmati seluruh sudut pulau ini. Tapi kali ini saya akan berbagi tips dan itinerary menjamah Bali Selatan yaitu  daerah yang memiliki tempat wisata indah dan terkenal di Bali. Bali Selatan ini mencakup area Kuta, Uluwatu, Nusa Dua, Jimbaran, Ungasan, Pecatu, dan area lainnya.

Hari Keberangkatan (Jumat Malam)

16.15 – 19.00 : Berangkat dari Bandara Husein Sastranegara Bandung dan tiba di Ngurah Rai International Airport Bali menggunakan Lion Air.

19.00  –  20.00 : Check in, bersantai dan istirahat di penginapan.

Catatan:

  • Pilihlah keberangkatan pada hari jumat sore atau malam agar tidak terlalu banyak mengambil cuti dari pekerjaan.
  • Agar dapat langsung beristirahat di penginapan ada baiknya untuk memesan penginapan melalui pegipegi.com sebelum hari H. Saya sendiri memilih untuk mencari penginapan yang tidak jauh dari bandara atau pun di sekitar Kuta. Banyak sekali penginapan di sekitar Kuta, mulai dari yang mahal hingga yang murah. Misalnya The Kubu Hotel yang memiliki harga dibawah IDR 200.000 dan terletak di Jalan Poopies, Kuta Legian.
  • Gunakan taksi bandara untuk menuju penginapan. Tarif taksi dari bandara menuju Kuta berkisar antara IDR 45.000 hingga IDR 50.000.

 

Hari Pertama (Sabtu)

Hari pertaman di Bali kita akan mengunjungi daerah wisata yang tidak biasa dikunjungi oleh wisatawan, yaitu Denpasar dengan menggunakan sepeda motor.

06.30 – 07.30 : Sarapan pagi dan siap-siap menuju Denpasar.

08.30 – 10.00 : Mengunjungi Monumen Perjuangan Rakyat Bali (Bajra Sandhi).

10.30 – 12.00 : Mengunjungi Museum Lukisan Sidik Jari dan makan siang.

12.30 – 14.00 : Mengunjungi Museum Bali Denpasar. 

15.00 – 17.30 : Mengunjungi Tanah Lot dan menunggu sunset.

18.00 – 20.00 : Makan malam, kembali ke penginapan, dan istirahat.

Catatan:                                          

  • Penginapan di Bali sebagian besar menyewakan sepeda motor dengan tarif IDR 50.000 per hari. Kita juga bisa mengembalikan sepeda motor di bandara tegantung kesepakatan.
  • Perjalanan dari Kuta ke Denpasar memakan waktu sekitar 30 – 50 menit.
  • Monumen Bajra Sandhi terletak di Jalan Raya Puputan No. 142, Denpasar Timur. Tiket masuk untuk WNI adalah IDR 10.000. Seperti Monas, monumen ini berfungsi sebagai tugu peringatan.
  • Museum Lukisan Sidik Jari terletak di Jalan Hayam Wuruk 175/201. Tidak dipungut biaya untuk masuk ke museum ini. Di dalam museum terdapat café dan wantilan untuk beristirahat. Dalam museum ini menyediakan tempat untuk mendalami seni Bali seperti lukis dan tari.
  • Museum Bali Denpasar terletak di Jalan Mayor Wisnu Denpasar. Museum ini menyimpan banyak sekali pengetahuan tentang peradapan manusia terutama masyarakat Bali.
  • Dari Denpasar menuju Tanah Lot jaraknya cukup jauh, sekitar 18 KM dan memakan waktu sekitar 1 jam. Tapi perjalanan tersebut tidak akan membosankan karena kita akan disuguhi pemandangan persawahan dan kebun. Dan rasa lelah juga akan terbayar setelah kita sampai di Pura Tanah Lot. Sore hari yang cerah antara pukul 16.00 – 19.00 adalah waktu yang tepat untuk menikmati keindahan sunset di Tanah Lot.

 

Hari Kedua (Minggu)

Hari kedua masih dengan sepeda motor kita akan mengunjungi Bali selatan dan bermain air di pantai-pantainya. Perjalanan kita mulai dari tempat yang paling dekat dengan Kuta.

06.30 – 07.30 : Sarapan pagi dan siap-siap menuju Bali Selatan.

08.00 – 09.30 : Mengunjungi Garuda Wisnu Kencana

10.00 – 12.00 : Bermain air di pantai Padang Padang

12.30 – 14.00 : Mengunjungi pantai Pandawa dan makan siang   

15.00 – 17.30 : Mengunjungi Pura Luhur Uluwatu

18.00 – 20.00 : Makan malam, Kembali ke penginapan, dan istirahat

Catatan:

  • Garuda Wisnu Kencana atau yang lebih dikenal dengan GWK adalah sebuah taman budaya yang berada di Jalan Raya Uluwatu, desa Ungasan. Daya tarik utamanya adalah Patung Garuda Wisnu yang berukuran besar yang di pahat oleh seniman terkenal I Nyoman Nuarta. GWK buka dari jam 08:00 – 22:00 dengan harga tiket IDR 60.000 per orang.
  • Pantai Padang Padang dikenal juga dengan pantai Labuan Sait, merupakan salah satu lokasi syuting film Hollywood Eat Pray Love, yang dibintangi Julia Robets. Lokasinya berada di Jalan Labuan Sait, desa Pecatu sekitar 30 menit dari GWK. Tiket masuknya adalah IDR 5000 saja. Di sini kita akan bermain air sepuasnya. Pantai ini masih sepi pengunjung jadi kita bisa bebas menikmatinya.
  • Pantai Pandawa salah satu pantai berpasir putih yang wajib dikunjungi. Pantai ini sangat ramai pengunjung, dan banyak terdapat tempat makan di sekitarnya. Jadi kita akan makan siang sambil menikmati pemandangan pantai. Setelah makan siang kita dapat bermain air dengan menyewa kano seharga IDR 25.000 per orang, durasi 1 jam. Harga tiket masuk ke kawasan Pandawa ini adalah IDR 8000 per orang.
  • Pura Luhur Uluwatu terletak di di Desa Pecatu, Kecamatan Kuta Selatan, Kabupaten Badung Bali. Pura Uluwatu terletak di atas bukit karang dengan ketinggian 97 meter di atas permukaan laut. Di sini kita bisa menyaksikan tarian Kecak Uluwatu yang biasanya dipentaskan pada pukul 18.00-19.00. Di sekitar tempat parkir banyak penjual makanan dan minuman, jadi tidak perlu khawatir jika tidak membawa makanan. Tiket masuk kawasan ini adalah IDR 20.000. 

 20160407_122246

Hari Ketiga (Senin)

Hari ketiga masih dengan sepeda motor kita akan mengunjungi tempat yang tidak terlalu jauh dari kuta dan mencari oleh-oleh.

05.00 – 07.30 : Mengejar matahari terbit dan bersantai di Sanur.

08.30 – 10.30 : Belanja oleh-oleh.

11.00 – 12.00 : Kembali ke penginapan dan siap-siap check out.

12.30 – 13.30 : Makan siang di sekitar Kuta  

14.00 – 16.00: Jalan-jalan di sekitar Kuta dan Legian

16.30 – 18.00 : Bersantai di pantai Kuta menikmati sunset.

18.30 – 19.00 : Menuju bandara Ngurah Rai dan kembali ke Bandung.

Catatan :

  • Untuk bisa menikmati sunrise di Sanur kita harus bangun lebih pagi. Perjalanan dari Kuta ke Sanur sekitar 15 – 30 menit.
  • Check out jam 12, tapi kita bisa menitipkan barang kita dulu dan mengambilnya sore hari saat mengembalikan motor dan bersiap menuju bandara. Untuk menuju bandara kita bisa menggunakan taksi atau minta diantar oleh pihak penginapan dengan tarif sekitar IDR 50.000

Menjelajahi Bali menggunakan sepeda motor menurut saya lebih menyenangkan. Yang penting dari sebuh perjalanan adalah Enjoy every trip and make it fun. Setelah pulang liburan semoga mood dan semangat kita bisa kembali lagi.

page1

Backpacker dan Dampaknya Terhadap Lingkungan

Backpacker dan Dampaknya Terhadap Lingkungan

Dalam kurun waktu beberapa tahun terakhir ini fenomena backpacker di Indonesia mengalami perkembangan yang cukup signifikan. Hal ini ditandai dengan banyaknya kemunculan biro travel ala backpacker di situs-situs jejaring sosial maupun situs semacam http://www.kaskus.co.id, juga kemunculan forum-forum backpacker seperti www.backpackerindonesia.com, www.trackpacking.com, www.indobackpacker.com dan masih banyak lagi yang lain. Saat ini banyak pula bermunculan acara televisi yang menampilkan perjalanan ke tempat-tempat yang menyajikan pemandangan alam menakjubkan yang selama ini tidak banyak diketahui orang.

Backpacker menurut Wikipedia bahasa Indonesia berasal dari kata tas ransel (backpack) untuk bepergian. Backpack merupakan istilah bahasa Inggris yang artinya tas yang digendong di belakang. Wisata beransel (bahasa Inggris: backpacking) adalah perjalanan ke suatu tempat tanpa membawa barang-barang yang memberatkan atau membawa koper. Adapun barang bawaan hanya berupa tas yang digendong, pakaian secukupnya, dan perlengkapan lain yang dianggap perlu. Biasanya orang yang melakukan perjalanan seperti ini adalah dari kalangan berusia muda, tidak perlu tidur di hotel tetapi cukup di suatu tempat yang dapat dijadikan untuk beristirahat atau tidur. Perjalanan seperti ini dilakukan di dalam negeri ataupun di luar negeri. Nah, forum-forum yang dibentuk oleh para backpacker inilah yang sekarang banyak diminati oleh orang-orang yang menyebut dirinya pecinta alam, penikmat keindahan dan lain-lain.

Kehadiran para backpacker ini menurut saya cukup banyak memberi dampak, baik dampak positif maupun negatif terutama pada lingkungan. Dampak positifnya antara lain adalah meningkatnya pembangunan, perekonomian masyarakat di sekitar daerah wisata, tumbuhnya rasa nasionalisme dan penghargaan terhadap wisata lokal, membantu mempromosikan wisata yang belum banyak diketahui orang, dan peningkatan hubungan antar pribadi dari berbagai daerah yang berbeda suku dan agama. Karena para backpacker ini tidak sedikit pula yang melakukan aktifitas bersama-sama dengan orang lain dari berbagai daerah melalui forum-forum backpacker atau pecinta alam.

Sedangkan dampak negatif dari peningkatan jumlah pecinta jalan-jalan ini juga cukup banyak. Salah satunya yang akan saya bahas adalah dampak pada kerusakan lingkungan, terutama kawasan pantai dan gunung. Karena icon suatu keindahan yang paling banyak dicari adalah pantai dan juga lereng dan puncak gunung. Para backpacker ini biasanya senang mendaki gunung, mencari dan mendatangi tempat-tempat yang tersembunyi atau yang dikenal dengan istilah hidden paradise.

Salah satu pantai di Sumatera Barat

Salah satu pantai di Sumatera Barat

Salah satu contoh hidden paradise yang saat ini sedang popular adalah Segara Anakan di Pulau Sempu, Malang. Dan saya pun pernah mendatangi tempat ini karena tergiur dengan keindahan alamnya. Pulau Sempu ini sebenarnya merupakan kawasan cagar alam, yaitu kawasan suaka alam yang karena alamnya mempunyai kekhasan tumbuhan, satwa dan ekosistem tertentu yang perlu di lindungi dan perkembangannya berlangsung secara alami. Seharusnya kawasan ini tidak bisa dimasuki oleh sembarang orang dan tidak boleh dijadikan tempat wisata, karena dapat mengakibatkan perubahan fungsi kawasan Cagar Alam. Tapi pada kenyataannya petugas Resort Konservasi Wilayah Pulau Sempu sering meloloskan/mengijinkan pelancong untuk memasuki kawasan, meskipun tanpa simaksi (Surat Izin Masuk Kawasan Konservasi). Sehingga tempat ini sekarang lebih mirip sebagai tempat wisata, dan bukan lagi sebagai cagar alam. Banyak orang berbondong-bondong mendatangi Pulau Sempu setiap harinya setelah mendengar dan membaca dari berbagai media. Kehadiran orang-orang ini ikut menyumbang sampah-sampah yang sekarang mulai terlihat dibeberapa sudut Pulau Sempu. Sisa-sisa bungkus makanan, botol air mineral, puntung rokok, dan sampah lain yang dibuang begitu saja oleh pengunjung yang tidak bertanggung jawab.

Pulau Sempu - Jawa Timur

Pulau Sempu – Jawa Timur

Contoh lain adalah kebakaran hutan di lereng Gunung Slamet pada Sabtu dini hari, 25 Agustus 2012 yang diduga berasal dari sisa api unggun pendaki. Kondisi hutan di Indonesia kian merana saja. Tahun ini kebakaran tidak hanya terjadi akibat kemarau panjang, tapi juga karena kecerobohan manusia. Hampir semua kasus kebakaran hutan atau sebesar 99% terjadi akibat aktivitas manusia. Kegiatan manusia seperti merokok, buka kebun, dan pendakian gunung menjadi penyebab awal kebakaran hutan. Pada Tahun 1984 Gunung Slamet ini juga pernah terbakar dan penyebab kebakaran saat itu diduga dari puntung rokok yang dibuang sembarangan oleh para pendaki hingga menyulut pohon-pohon maupun ilalang yang mengering. Coba bayangkan berapa kerugian akibat kebakaran hutan tersebut? Berapa banyak pohon yang hangus terbakar? Berapa banyak binatang yang mati? Kerugian yang pasti adalah rusaknya ekosistem alam, dan ini lah yang sulit untuk dikembalikan seperti semula.            Itulah salah satu contoh kecil dampak yang terjadi pada lingkungan kita akibat kegiatan manusia yang mengatasnamakan backpacker dan pecinta alam. Dampak-dampak negatif tersebut dapat diminimalisir dan dihilangkan jika saja setiap orang mempunyai rasa tanggung jawab dan rasa memiliki alam yang sudah diciptakan Tuhan dengan segala keindahannya. Selayaknya keindahan itu tidak hanya dinikmati sesaat, tapi juga harus terus dijaga agar keindahannya tetap terjaga dan dapat dinikmati oleh anak cucu kita kelak. Sekumpulan pecinta alam setidaknya jangan hanya bangga telah mendatangi banyak tempat, telah menaklukan berapa gunung, tapi banggalah jika telah dapat memberikan sumbangsih yang positif terhadap tempat-tempat yang didatangi tersebut. Nikmatilah keindahan ciptaan Tuhan ini, namun jangan lupa pula untuk menjaganya.

Salah satu pantai di Pulau Tidung - Kepulauan Seribu

Salah satu pantai di Pulau Tidung – Kepulauan Seribu

Joy Bromo Go to Situ Patenggang – Bandung

Joy Bromo Go to Situ Patenggang – Bandung

Joy Bromo

22 September 2012

Sejak tahun 1998 saya sudah menginjakkan kaki di Bumi Parahyangan Bandung, tapi baru kali ini bisa mengunjungi Situ Patenggang. Situ Patenggang (atau sering juga disebut Situ Patengan) merupakan sebuah danau cantik yang terletak di daerah Ciwidey, Jawa Barat.  Kawasan wisata ini berada di dataran tinggi dengan ketinggian sekitar 1600 meter dari permukaan laut dan berada di kaki Gunung Patuha. Karena posisinya yang tinggi, kita akan merasakan udara yang dingin dan segar saat mengunjungi danau ini. Hamparan kebun teh yang membentang sepanjang perjalanan menuju situ ini juga semakin menambah keasrian kawasan wisata Situ Patenggang. Lokasi danau ini juga terletak tidak jauh dari kawasan wisata Kawah Putih. Jadi, jika anda mengunjungi Kawah Putih jangan lupa untuk mampir juga ke Situ Patenggang. Hanya dibutuhkan waktu sekitar limabelas sampai duapuluh menit dari Kawah Putih menuju danau ini dengan menggunakan kendaraan roda dua atau roda empat.

Kebun Teh Ciwidey

Kebun Teh Ciwidey

Selain hamparan kebun teh yang nyaman dipandang mata, Situ Patenggang juga memiliki daya tarik lain yaitu keberadaan Batu Cinta. Sebuah lokasi yang berada di tengah danau dengan sebuah batu besar yang menjadi penandanya. Batu inilah yang disebut dengan Batu Cinta. Batu Cinta berasal dari sebuah legenda masyarakat Jawa Barat. Konon di tempat inilah Ki Santang dan Dewi Rengganis, sepasang kekasih yang harus melewati perjalanan sulit dalam percintaan mereka akhirnya bertemu kembali di tempat ini setelah sebelumnya terpisah. Air yang mengisi danau ini menurut mitos masyarakat Patengan berasal dari deraian air mata kedua manusia tersebut.

Pukul 13.00 saya sudah tiba di Pintu Gerbang Kawah Putih. Meskipun saya sudah pernah mengunjungi Kawah Putih sebelumnya, tapi mengunjungi tempat sesejuk ini tidak akan pernah membosankan. Ada yang berubah dengan kondisi Kawah Putih hari itu, yaitu disebabkan kemarau yang berkepanjangan air kawah pun menjadi surut, dan bau belerang pun sangat tajam tercium. Namun hal ini tidak mengurangi jumlah penggunjung dan juga tidak mengurangi keindahannya.

Kawah Putih saat kemarau

Sekitar pukul 16.45 kami pun meninggalkan kawasan Kawah Putih dan meluncur menuju Situ Patenggang. Karena hari sudah semakin gelap saya pun tidak sempat banyak berhenti untuk mengabadikan keindahan pemandangan kebun teh yang membentang sepanjang perjalanan menuju Situ Patenggang. Padahal kabut sore itu menambah indahnya perbukitan kebun teh. Saya juga tidak sempat menikmati nikmatnya mie rebus dan buah strawberry yang banyak dijajakan di sepanjang menuju Situ Patenggang. Mie instan yang rasanya selalu lebih nikmat dari biasanya.

Kebun Teh Ciwidey

Kebun Teh Ciwidey

Sekitar pukul 17.00 kami sudah tiba di pintu gerbang Situ Patenggang. Kabut semakin tebal turun seiring kepergian matahari. Setelah membayar biaya masuk sebesar Rp.4000 perorang dan biaya sepeda motor Rp.6000 per unit sepeda motor, kami pun langsung mencari tempat parkir yang nyaman. Yang tidak boleh dilewatkan adalah mencicipi gorengan, mie rebus, atau siomay di sekitar danau karena rasanya sangat enak. Bukan karena ada resep spesial, tapi karena udara yang dingin membuat perut cepat lapar dan makanan apapun rasanya menjadi duakali lipat lebih enak. Dan menyantap makanan hangat di tengah cuaca berkabut itu rasanya sperti menemukan oase di gurun pasir.

Awalnya kami tidak akan menyebrang ke Batu Cinta, karena hari mulai gelap dan kabut sangat tebal sore itu. Tapi karena rasa penasaran akhirnya kami pun memutuskan untuk menyebrang menuju Batu Cinta. Untuk mencapai Batu Cinta ini kita bisa menyewa kapal dengan biaya sekitar Rp.100.000 yang dapat memuat sekitar 14 orang. Cukup menegangkan menurut saya, karena kapal ini tidak menggunakan mesin tapi dengan dayung kayu biasa. Jika penumpang terlalu banyak bergerak maka kapal akan oleng. Meskipun menurut teman saya hal itu tidak akan membuat kapal terbalik namun tetap saja saya sangat tegang. Waktu penyebrangan sekitar limabelas menit saja, tapi rasanya seperti satu tahun. Seru sih, tapi super menegangkan (pendapat pribadi)!

Situ Patengang

Situ Patengang

Situ Patengang

Situ Patengang

Ready to Go!

Sampai di Batu Cinta langsung disambut oleh batu-batu besar yang entah dari mana asalnya. Kondisi batu-batu di sana penuh dengan coretan dan debu menutupi hampir semua permukaan batu. Semua terlihat kering dan berdebu akibat kemarau yang berkepanjangan. Matahari telah kembali ke peraduan, membuat keindahan batu cinta tak bisa terlihat jelas. Sejauh mata memandang hanya lah kabut. Keindahan danau pun sulit dinikmati, membuat saya bingung hendak melakukan apa di sana selain foto-foto dengan latar yang juga tak jelas terlihat. Ada beberapa saung tapi telah dipenuhi oleh muda mudi yang mungkin percaya akan mitos bahwa pasangan yang berkunjung ke batu itu, cinta mereka akan abadi.

Batu Cinta

Batu Cinta

Perhatikan photo di bawah ini:

Dia yang bikin masalah

Sesuai rencana sebelum azan magrib kembali menaiki kapal dan meninggalkan Batu Cinta. Tapi gara-gara Si Anne yang sibuk eksis sana sini sampai tidak sadar Blackberry-nya jatuh (saat blackberry masih jadi barang mewah), kita semua jadi sibuk mencari keberadaan si Blackberry hingga hari semakin gelap. Dan parahnya dia baru menyadarai BB-nya tidak ada setelah kapal sudah mulai berlayar meninggalkan tepian. Akhirya kapal memutar haluan lagi dan beberapa pasukan diturunkan untuk mencari si BB. Alhamdulillah ternyata proses pencarian tidak lama, karena BB terjatuh di sekitaran tempat terakhir kita berfoto-foto. Dan kita kembali lagi berlayar dengan cuaca yang sudah sangat gelap, gelapnya mengalahkan kabut asap kebakaran hutan di sumatera. Tidak ada lampu atau cahaya apapun, jarak pandang sangat pendek karena selain hari sudah gelap, kawasan danau juga diliputi kabut tebal. Entah bagaimana juru kapal tersebut bisa khatam jalan pulang, padahal keadaan sangat gelap sekali. bahkan air danau pun nyaris tak terlihat. Saya jadi ngeri sendiri karena terbayang kisah-kisah hantu di danau yang ada di buku-buku cerita Goosebumps yang dulu sering saya baca semasa SMP.

Sampai di pelataran parkir suasana sudah sangat sepi, bahkan petugas parkir sudah masuk rumah. Setelah membayar biaya parkir kami langsung melaju menuju penginapan yang ada di taman unyil. Tidak ada seorangpun yang mandi malam itu, airnya sangat dingin nyaris seperti air es. Acara malam hari dilanjutkan dengan masak mie rebus dan bakar jagung. I’m gonna miss that moment. 

Penginapan Ciwidey

DuniaRahmi

Berakhir Pekan di Bandung Seharga 50ribu Saja!

Maps - Rute jalan-jalan 50ribu saja

Maps – Rute jalan-jalan 50ribu saja

Perkara menghabiskan uang 50ribu dalam sehari adalah hal yang sangat mudah. Tapi, berakhir pekan hanya dengan 50ribu rupiah, bisa tidak ya? Meskipun bukanlah hal yang bisa dibilang mudah terutama di kota-kota besar, tapi juga bukanlah hal yang mustahil bisa dilakukan!

Berakhir pekan hanya dengan 50ribu rupiah di kota Bandung adalah hal yang mudah dan sangat sering saya lakukan, terutama pada saat-saat menjelang akhir bulan. Bagi saya yang sering dipanggil ‘si bolang’ olah teman-teman sepergaulan, jalan-jalan dan wisata kuliner pada akhir pekan atau hari libur adalah harga mati. Dan ketika isi dompet mulai tak setebal saat awal bulan, berkeliling kota Bandung dengan menggunakan kendaraan roda dua adalah solusi yang paling tepat. Kota Bandung menyimpan banyak sekali tempat-tempat yang indah, asri, dan sejuk jauh dari keramaian kota. Masalahnya tidak semua tempat tersebut dilalui kendaraan umum atau angkot, dan tidak semua kendaraan roda empat dapat dengan mudah mengakses tempat tersebut. Kalaupun bisa dilalui kendaraan umum roda empat atau taksi sudah barang tentu kita harus mengeluarkan uang lebih. Karena itulah menurut saya kendaraan roda dua merupakan solusi yang paling tepat, cepat, dan murah.

Kegiatan yang biasa saya lakukan saat akhir pekan tentu saja bangun sepagi mungkin saat udara masih terasa segar, matahari belum meninggi, dan jalanan juga belum dipadati kendaraan. Perbekalan yang wajib dibawa saat jalan-jalan adalah air minum, jaket, jas hujan, dan tentu saja kamera. Bersama kakak saya dan sepeda motor matic Yamaha Mio yang sudah cukup tua yaitu keluaran tahun 2007 kami siap memulai hari dengan penuh semangat!

Tempat yang pertama kali saya kunjungi tentu saja pom bensin Moh. Ramdhan yang letaknya tidak jauh dari rumah tinggal saya. Karena hari ini saya akan menempuh jarak yang cukup jauh dan medan yang sebagian besar berupa tanjakan dan turunan, maka motor matic ini perlu diberi minum lebih. Jika biasanya cukup hanya dengan 10ribu rupiah, maka kali ini saya bayar lebih untuk bensin yaitu 15ribu rupiah.

Pom Bensin

Pom Bensin

Setelah motor diisi bensin, maka selanjutnya adalah giliran pengendaranya yang perlu diisi, dan tentu saja bukan diisi dengan bensin :p Pilihan kali ini jatuh pada warung makan Bubur Ayam Pelana yang terletak di Jalan Burangrang (Depan SMA BPI). Dari Jalan Mohammad Ramdhan membutuhkan waktu sekitar 15 menit untuk sampai di tempat ini. Untuk menikmati bubur ayam ini saya cukup hanya dengan membayar 10ribu rupiah saja dan seribu rupiah biaya parkir motor.

Bubur Ayam Pelana - Bandung

Bubur Ayam Pelana – Bandung

Setelah selasai sarapan bubur ayam, tempat favorit saya selanjutnya adalah Pasar Minggu Punclut. Untuk menuju ke tempat ini saya akan menyusuri Jalan Braga, Wastukencana, Siliwangi dan terakhir Jalan Ciumbuleuit hingga bertemu dengan Rumah Sakit TNI AU Dr. Salamun yang membutuhkan waktu sekitar 30 menit. Tepat disebrang rumah sakit ini lah jalan menuju Punclut dan Pasar Minggu Punclut berada. Pasar ini didominasi oleh warga setempat yang menjual bermacam-macam sayuran dengan harga yang sangat murah hasil dari kebun mereka sendiri. Bisa anda bayangkan bagaimana segar dan menggodanya sayuran-sayuran berwarna hijau itu. I love vegetables! Tidak perlu menunggu lama, langsung saja menuju tempat parkir dan jangan lupa membayar uang parkir dua ribu rupiah. Saat keuangan sedang menipis, saya biasanya hanya membeli kangkung, bumbu-bumbu, dan sayuran untuk campuran mie instan saja, dengan rincian sebagai berikut:

Tauge :                         Rp. 1000,-

Sawi Hijau :                   Rp. 2000,-

Cabe + Bawang:            Rp. 2000,-

Kangkung 1 ikat:            Rp. 2000,-

Total belanja sayuran hanya tujuh ribu rupiah saja.

Pasar Minggu Punclut - Bandung

Pasar Minggu Punclut – Bandung

Setelah puas melihat-lihat pasar minggu maka perjalanan dilanjutkan dengan menyusuri Jalan Punclut yang cukup menanjak dengan jalan yang di beberapa titik masih terdapat banyak lubang dan kerikil. Di kiri dan kanan jalan banyak pemandangan hamparan kebun sayuran dan tebing serta jurang yang membuat kebanyakan orang yang baru melewatinya tidak tahan untuk tidak berhenti sejenak, menikmati udara pegunungan dan mengabadikannya. Perjalanan terus dilanjutkan menyusuri Jalan Lembang lalu menuju Jalan Kolonel Masturi. Memang rute yang saya pilih terasa sedikit lebih jauh, tetapi jika dinikamti dengan hati yang senang makan tidak akan terasa melelahkan. Kali ini tempat selanjutnya yang saya kunjungi adalah Vihara Vipassana Graha yaitu vihara umat Buddha Theravada yang terletak di Jalan Kolonel Masturi No.69. Untuk berkunjung ke tempat ini kita tidak dipungut biaya sepeserpun. Kita hanya diwajibkan berpakaian sopan dan menjaga ketenangan agar tidak mengganggu umat yang sedang beribadah. Bangunan kuil ini cukup unik dan terlihat seperti bangunan-bangunan kuil yang berada di Negara Gajah Putih. Di tempat ini kita bisa bersantai di taman dan merasakan suasana tenang dan sejuk, dan juga bisa menyaksikan para biksu yang berlalu lalang. Nuansanya benar-benar seperti sedang berada di Thailand atau Bali lho. 😀

Vihara Vipassana Graha - Bandung

Vihara Vipassana Graha – Bandung

Rute selanjutnya adalah menyusuri Jalan Sersan Bajuri untuk menuju tempat berikutnya. Melewati jalan Sersan Bajuri ini tidak akan pernah bosan, karena kita akan disuguhi dengan pemandangan tebing dan jurang penuh pepohonan, tempat wisata kampong gajah, bangunan-bangunan tempat makan dan tempat wisata yang artistik, dan yang paling menarik adalah pemandangan berbagai macam bunga yang dijual di sepanjang jalan. Hari sudah semakin siang dan saatnya beristirahat di warung yang dirasa nyaman sambil minum kopi atau makan gorengan. Cukup keluarkan uang lima ribu rupiah saja untuk makan siang sangat sederhana kali ini. 😀

Setelah melewati Jalan Sersan Bajuri dan Jalan Setiabudhi, sampailah saya di satu tempat favorit sejak dulu yaitu Mie Ayam Cipaganti yang ada di Jalan Cipaganti No.85 tepat di depan Masjid Raya Cipaganti. Untuk menikmati mie ayam lezat ini cukup hanya dengan membayar sepuluh ribu rupiah saja sudah termasuk parkir . Setelah makan mie ayam biasanya saya beristirahat dulu di teras Masjid Raya Cipaganti yang anginnya selalu semilir hingga membuat mata merem melek menahan kantuk.

Matahari mulai bergerak ke arah barat menandakan saatnya saya pun harus kembali pulang. Benar-benar menyenangkan sekali masih bisa menikmati akhir pekan dengan berjalan-jalan melewati lintasan yang berpuluh-puluh kilo meter meski hanya dengan 50ribu rupiah saja. Jadi, jangan selalu berfikir bahwa hanya jalan-jalan dengan dompet tebal lah yang bisa mendatangkan kebahagiaan, tapi semua itu tinggal bagaimana cara kita menikmati setiap perjalanan because fun start from our mind. Let’s enjoy every trip and make it fun!! 😉

Rincian Pengeluaran hari ini :

Bensin                           : Rp. 15.000

Bubur Ayam + Parkir      : Rp. 11.000

Sayuran + Parkir           : Rp. 9000

Kopi + Gorengan           : Rp. 5000

Mie Ayam + Parkir         : Rp. 10.000

TOTAL                          : Rp. 50.000

Ternyata bisa kan berakhir pekan hanya dengan 50 ribu rupiah saja.. 😉

Lembang - Subang

Lembang – Subang

TMII dan Mimpiku

TMII dan Mimpiku

Taman Mini Indonesia Indah (TMII) atau Beautiful Indonesia Miniature Park

Sebuah kawasan wisata bertema budaya Indonesia yang terletak di Jakarta Timur dengan area seluas kurang lebih 150 hektar. TMII ini di dalamnya menggambarkan keanekaragaman kebudayaan Indonesia yang mencakup berbagai aspek kebudayaan dan kehidupan sehari-hari, seperti rumah adat, aneka busana, tarian, dan tradisi daerah. Di kawasan TMII juga terdapat sebuah danau yang menggambarkan miniatur kepulauan Indonesia layaknya seperti peta. Selain itu terdapat pula kereta gantung, berbagai museum, bangunan-bangunan keagamaan, sarana rekreasi, teater Keong Mas, teater Tanah Airku, dan banyak lagi yang lain. Dan sebagai informasi, TMII yang mulai dibangun pada tahun 1972 dan diresmikan pada tahun 1975, berdiri berkat gagasan Ibu Tien Soeharto yang dengan TMII ini beliau mengharapkan tumbuhnya rasa nasionalisme dan cinta tanah air pada seluruh generasi bangsa Indonesia.

Tugu TMII ©DuniaRahmi

Taman Mini Indonesia Indah adalah impian saya saat kecil dulu. Sebagai anak daerah yang lahir di salah satu desa terpencil di provinsi Jambi dengan segala keterbatasannya memiliki keinginan mengunjungi TMII bukanlah hal yang biasa. Saat duduk di bangku sekolah dasar, saya sering mendengar cerita dan membaca buku yang menceritakan tentang salah satu taman bermain dan belajar yang sangat megah dan modern yaitu TMII. Dalam hati saya sangat ingin melihat langsung TMII, tapi saat itu rasanya tidak mungkin bisa menyentuh keinginan itu. Bagaimana mungkin seorang anak yang berada di daerah pelosok yang bahkan listrik saja baru masuk desa pada tahun 1994 dapat menginjakkan kaki di ibu kota. Sepertinya mimpi sederhana itu tidak mudah untuk diwujudkan saat itu. Tapi saya biarkan saja keinginan itu tetap tersimpan rapi di dalam hati.

Saya terus menggengam impian-impian saya, menyimpannya dalam hati, melakukan yang terbaik semampu yang saya bisa, dan membiarkan takdir yang membawa saya pada mimpi-mimpi itu.

Dan jalan menuju mimpi itu bermula ketika saya mengikuti lomba marathon di tingkat kecamatan, lalu karena sesuatu dan lain hal memaksa saya harus pindah sekolah ke Lampung. Sekolah di Lampung pun tidak jauh berbeda dengan ketika saya sekolah di Jambi, sama-sama berada di pelosok dan jauh dari sentuhan pembangunan. Bahkan bangunan sekolah lebih parah dan memprihatinkan di banding sekolah saya sebelumnya. Saya tinggal di asrama yang dindingnya masih terbuat dari anyaman bambu dan tidur di lantai beralaskan selembar kasur yang jauh dari kata empuk. Meskipun demikian untuk menuju Jakarta sepertinya hanya tinggal selangkah lagi. Hingga sedikit demi sedikit jalan menuju mimpi itu mulai terbuka. Ketika saya kelas tiga SMP saya mendapat tawaran untuk belajar gratis di salah satu bimbingan belajar ternama di kota Bandung selama tiga bulan menjelang Ujian Akhir Sekolah. Ini lah kali pertama saya melihat kota dengan segala kemajuan pembangunan, teknologi, dan budayanya.

Singkat cerita saya akhirnya kembali lagi ke Bandung ketika kelas tiga SMA hingga saya dapat belajar di perguruan tinggi negeri dan mendapatkan beasiswa yang nilainya termasuk besar saat itu. Kesibukan kuliah dan pesona kota Bandung membuat saya sedikit lupa dengan mimpi saya sejak kecil, yaitu TMII. Impian itu sebenarnya tidak benar-benar hilang, hanya sedikit terlupakan. Dan demi memenuhi mimpi itu akhirnya tanggal 13 Mei 2012 saya melangkahkan kaki ke tempat impian masa kecil saya yang telah membawa saya berjalan sejauh ini. Ada perasaan haru, senang, dan takjub ketika mimpi itu bisa menjadi nyata.

Jalan Masuk TMII 2012

Jalan Masuk TMII 2012

TMII dilihat dari Kereta Angin ©DuniaRahmi 2012

TMII dilihat dari Kereta Angin ©DuniaRahmi 2012

Taman Mini Indonesia Indah 2012

Taman Mini Indonesia Indah 2012

TMII 2012

TMII 2012

Mungkin bagi kebanyakan orang mimpi saya hanyalah mimpi yang sangat sederhana yang tidak perlu perjuangan berarti untuk menggapainya. Tapi, impian melihat TMII dari dekat membawa saya menemukan impian-impian lain, bahkan saya menemukan banyak hal yang bahkan dalam mimpi pun saya tidak pernah membayangkannya. Saya bisa menginjakkan kaki dari ujung Sumatera Barat hingga bumi Flores juga tak pernah terfikirkan sebelumnya. Mimpiku, meski mungkin tak sehebat mimpi-mimpi orang lain, tak setinggi mimpi-mimpi kalian, tapi mendapatkan lebih dari yang saya bayangkan adalah suatu anugrah kebahagiaan yang tidak berhenti saya syukuri. “Then which of the favors of your Lord will you deny?” 😉

Dokumentasi Perjalanan DuniaRahmi

Dokumentasi Perjalanan DuniaRahmi

Backpacker Menjamah Pantai Sawarna

@Karang Taraje ©Riska

@Karang Taraje ©Riska

Sudah sering mendengar kata ‘Sawarna’? Atau baru pertama kali?

Sawarna yang akhir-akhir ini banyak diperbincangkan dikalangan pecinta jalan-jalan adalah nama sebuah desa yang terletak di Kecamatan Bayah Kabupaten Lebak Provinsi Banten. Desa ini menjadi terkenal karena menyimpan harta karun berupa pantai-pantai yang menghadap ke samudra hindia. Tidak hanya pantai, tapi Sawarna juga menyimpan banyak lagi lanskap keindahan alam yang tersembunyi, diantaranya gua, areal persawahan, perbukitan, perkebunan, hamparan kebun kelapa, sungai dan tebing-tebing. Semua tersusun sempurna dan sayang sekali jika anugrah keindahan yang telah Tuhan sediakan di bumi Indonesia ini terlewatkan begitu saja tanpa kita syukuri, tanpa kita nikmati.

Pantai-pantai yang ada di Sawarna antara lain, Pantai Ciantir, Pantai Tanjung Layar, Pantai Karang Bokor, Pantai Karang Seupang, Pantai Karang Taraje, dan Pantai Teluk Legon Pari. Masing-masing pantai memiliki cirikhas dan keunikannya masing-masing yang setiap sudutnya layak untuk dijamah. Hal ini membuat saya tidak pernah merasa bosan menyusuri pantai-pantai tersebut meskipun melewati medan yang tidak selalu mulus. Selain Pantai, Sawarna juga memiliki banyak gua antara lain, Beberapa gua yang berbeda ukuran seperti, Goa Lalay, Goa Sikadir, Goa Cimaul, Goa Singalong, dan Bukit Pasir Tangkil. Dan yang sangat terkenal diatara goa-goa tersebut adalah Goa Lalay.

Itulah sedikit cerita tentang Sawarna. Selanjutnya saya akan berbagi cerita perjalanan saya menjamah sawarna pada 19 Oktober 2013 minggu lalu bersama teman saya Anne dan Riska.

Terminal Leuwi Panjang – Bandung pada Sabtu 19 Oktober 2013, 06:00 AM

Perjalanan dimulai dengan menaiki bus MGI AC jurusan Bandung- Sukabumi dari terminal Leuwi Panjang dengan tariff 25.000 per orang. Bus berjalan lambat sepanjang perjalanan dikarenakan jalanan yang sempit, Alhasil Bandung – Sukabumi yang berjarak sekitar 95 KM memakan waktu selama 3 jam. Perjalanan menuju Sukabumi melewati Cianjur dihiasi dengan pemandangan sawah, kebun jagung dan sayuran.

Terminal Sukabumi 09:00 AM

Pukul 09:00 pagi bus tiba di terminal Sukabumi. Selanjutnya perjalanan dilajutkan dengan menggunakan mini bus MGI jurusan Sukabumi – Pelabuhan Ratu dengan tariff 25.000 per orang. Meskipun saya sudah berada di dalam bus sejak pukul 09:00, tapi bus baru meninggalkan terminal Sukabumi pada pukul 09:30. Sukabumi – Pelabuhan Ratu yang berjarak sekitar 58 KM ditembuh dalam waktu sekitar dua jam. Kondisi jalanan menuju Pelabuhan Ratu ini sudah cukup baik dan menurut saya tidak terlalu banyak kelokan seperti yang saya duga sebelumnya.

Terminal Pelabuhan Ratu 11.30 AM

Akhirnya sampai juga di Pelabuhan Ratu sebelum jam 12:00. Yang paling saya khawatirkan adalah jika tiba di terminal Pelabuhan Ratu lebih dari jam 12:00. Karena menurut cerita yang saya dengar kalau elf menuju Sawarna hanya ada satu dan berangkat pada pukul 12:00. Memang benar ternyata elf menuju sawarna hanya ada satu dan jika penumpang sudah penuh kemungkinan elf akan berangkat menuju Sawarna sebelum jam 12:00. Jika tertinggal elf maka jalan lain menuju Sawarna adalah dengan elf menuju Bayah lalu dilanjutkan dengan ojeg menuju Sawarna. Tapi Alhamdulillah beruntung kemarin elf Sawarna masih belum berangkat. Setelah menyimpan tas di dalam elf saya pun menyempatkan untuk makan siang dl di salah satu warung nasi di dalam terminal. Elf sawarna ini berwarna hitam dan parkir di dalam terminal paling pojok di depan toilet umum.

Elf menuju Sawarna yang hanya ada satu-satunya ini berwarna hitam dan bertuliskan “SAWARNA” pada kaca mobil depan bagian bawah. Berikut penampakannya dari samping:

Elf Pelabuhan Ratu - Sawarna

Elf Pelabuhan Ratu – Sawarna

Penumpang menuju Sawarna hari itu hanya ada enam orang dewasa dan tiga balita. Setelah satu jam menunggu dan penumpang tidak juga bertambah akhirnya elf meninggalkan Pelabuhan ratu pada pukul 01:00 PM. Cukup melelahkan karena cuaca di sana panas luar biasa, bener-bener panas (pendapat orang bandung) 😀  Kenapa udaranya sangat panas? Ternyata oh ternyata terminal tersebut berada tepat di samping laut. Pemandangan dari Pelabuhan Ratu Menuju Sawarna dihiasi oleh pantai-pantai, antara lain pantai Citepus, Karang Hawu dan pantai lain yang terlihat dari jauh. Dan ternyata perjalanan menuju Sawarna pun menurut saya tidak se-ekstrim yang saya bayangkan. Kondisi jalan memang sempit, tapi sudah lumayan bagus dan tidak begitu banyak kelokan.

Sawarna 02:30 PM

Akhirnya setelah berada di elf selama dua jam tiga puluh menit tibalah saya di tempat tujuan Sawarna! Ketika baru turun dari elf sudah ada orang yang menawarkan penginapan dan mengatakan penginapan sudah penuh semua tinggal dua kamar lagi! Tentu saja saya tidak percaya 😀 Setelah melewati jembatan gantung sebagai cirikhas utama memasuki desa Sawarna saya langsung dihampiri seorang bapak dan menyerahkan tiket masuk dengan biaya 5000 rupiah per orang. *dulu hanya 2000 😀 Dan mas-mas yang menawarkan penginapan tadi masih terus membuntuti 😀 Namun sayapun tidak menyerah, saya terus berjalan mengikuti jalan utama dan mencari penginapan yang saya suka. Setelah berjalan sekitar sepuluh menit akhirnya bertemulah dengan penginapan Clara. Langsung jatuh cinta, tawar menawar dan deal lah dengan harga 350.000 / kamar untuk dua hari tanpa makan.

@Penginapan Clara

@Penginapan Clara

Setelah istirahat, makan, dan sholat langsung saja kita lanjutkan perjalanan dengan menjamah pantai Ciatir yang hanya berjarak sekitar 500 meter dari penginapan. Cukup ikuti saja jalan utama maka akan langsung bertemu dengan bibir pantai berpasir putih itu.

@Pantai Ciatir ©DuniaRahmi

@Pantai Ciatir ©DuniaRahmi

Malam hari saya tidak melakukan apa-apa hanya duduk-duduk di teras penginapan sambil menyantap pop mie ditemani suara kodok dan cahaya bulan. Suasana pedesaan yang kental terasa menyentuh kalbu.. hahaha 😀 Sambil berdiskusi apakah besok kami akan menggunakan guide untuk berkeliling Sawarna atau tidak. Setelah melalui diskusi yang tidak begitu panjang dan meminta pendapat pada teman yang pernah ke Sawarna, akhirnya kami putuskan untuk menyewa guide dengan harga 120.000.

Dan keindahan malam itu pun rusak oleh kelakuan nyamuk dan semut 😥 Bener-bener ganas kelakuan nyamuk Sawarna. Meskipun saya sudah pakai obat anti nyamuk tetap saja nyamuk-nyamuk itu tidak berhenti menyerang. Nyamuk dan semut terus bergerilnya hingga membuat kami terbangun tengah malam dan baru tidur lagi menjelang subuh.

Malam Terang Bulan ©DuniaRahmi

Malam Terang Bulan ©DuniaRahmi

Sawarna, minggu 20 Oktober 2013, 05.30 AM

Bangun pagi, mandi, sholat, dandan, beli nasi kuning dan saatnya makan di saung depan penginapan sambil menikmati matahari terbit dari samping persawahan. Tapi sayang sekali sawahnya sedang tidak dipenuhi oleh padi L Salah satu yang membuat saya kecewa, karena saya begitu suka pemandangan sawah 😀

Selesai sarapan dan melemaskan otot-otot kaki saatnya menjamah Legon Pari, Karang Taraje, dan Tanjung Layar. Dan lagi-lagi perjalanan menuju Legon Pari tidak sejauh dan tidak se-ekstrim seperti yang banyak digambarkan oleh orang-orang yang mengunjungi sawarna. Dan lagi-lagi ini hanya pendapat saya 😀 😀 Perjalanan menuju Legon pari menyenangkan, melewati bukit kecil yang dari atas sana kita bisa menikmati keindahan Pantai Ciatir dari jauh. Lalu kita juga akan melewati kebun pisang, kelapa, dan tanaman lain. Sejukkkk!

Langsung saja biarkan foto yang berbicara dan menceritakan kemolekan Legon Pari dan Karang Taraje sebagai destinasi utama saya.. 😉

Sarapan dulu di saung depan penginapan

Sarapan dulu di saung depan penginapan

Pantai Ciatir dilihat dari atas bukit menuju Legon Pari

Pantai Ciatir dilihat dari atas bukit menuju Legon Pari

@Legon Pari

@Legon Pari

Air laut sedang surut hari itu, sehingga ombak tidak sampai melewati batu-batu karang yang menyerupai tangga atau dalam bahasa sunda disebut dengan taraje. Keindahan karang taraje akan maksimal saat air sedang pasang. Spot yang paling saya suka dan membuat saya betah berlama-lama di sana adalah Karang Taraje. Karena di sana airnya sangat jernih, ikan-ikan terlihat jelas, udaranya sejuk karena dikelilingi oleh pepohonan dan tebing, selain itu juga karena pantai ini dipenuhi dngan bebatuan besar yang semakin menambah keindahan pantai.

@Karang Taraje

@Karang Taraje

@Karang Taraje

@Karang Taraje

Puas menjamah Legon pari dan Karang Taraje, perjalanan kami lanjutkan menuju Tanjung Layar dengan menyusuri pantai dan bebatuan. Menurut sang guide, saat air pasang kita tidak bisa melewati pantai untuk menuju Tanjung Layar, tapi harus kembali memasuki bukit dan perkebunan. Sebenarnya saat surut begini sangat mudah untuk menuju Tanjung Layar, Legon Pari dan Karang taraje, kita tinggal menyusuri pinggir pantai dari Pantai Ciatir. Jadi, jika kita berjalan dari Pantai Ciatir menyusuri pantai maka tidak jauh dari sana lah letaknya Tanjung Layar. Pantai Tanjung Layar ini dapat terlihat dari pantai Ciatir. Setelah melewati Tanjung Layar, kita berjalan lagi menyusuri tebing, batu karang, dan bebatuan lalu akan sampailah di Legon Pari dan terakhir adalah Karang Taraje. Harap berhati-hati saat berjalan-jalan di Tanjung Layar, karena disana banyak sekali binatang laut dan bulu babi.

@Tanjung Layar

@Tanjung Layar

@Tanjung Layar

@Tanjung Layar

 Senin 21 Oktober 2013, 05:30 AM

Bersiap-siap di pinggir jalan raya menunggu elf Sawarna – Pelabuhan Ratu yang hanya ada satu-satunya 😀 Dan jam 06:15 akhirnya elf yang ditunggu-tunggu pun muncul juga.. Let’s go back to Bandung!!

Rincian Budget:

Bandung – Sukabumi : Rp.25.000 => 3 Jam

Sukabumi – Pelabuhan Ratu : Rp.25.000 => 2 Jam

Pelabuhan Ratu – Sawarna : Rp.25.000 => 2,5 Jam

Penginapan 2 hari : Rp.115.000/orang

Guide : Rp. 40.000/orang

Retribusi : Rp.5000

Total biaya diluar makan adalah : Rp. 310.000,-

Aku dan Dia

Aku dan Dia

Backpacker Pulau Sempu – Bromo

Matahari Bromo

Dunia Rahmi @Bromo

Here we are

Wajah-wajah peserta Backpacker Joy Bromo

Perjalanan kali ini merupakan lanjutan dari perjalanan yang sudah saya tulis sebelumnya, cekidot perjalanan sebelumnya di sini.

Cerita ini dimulai dari Sendang Biru.

Setelah satu malam saya dan teman-teman BPI camping di Segara Anakan Pulau Sempu, kami pun melanjutkan backpacker kali ini ke Gunung Bromo. Elf yang kemarin mengantar saya dan teman-teman ke Sendang Biru harusnya datang menjemput kami pukul 14.00. Tapi sampai pukul 16.00 lebih elf yang di nanti tidak kunjung tiba. Ketika dihubungi sang supir memberikan banyak alasan, yang katanya macet lah, yang ada kecelakaan lah, dan ada lah lah yang lain. Hmmmp… Saya pun akhirnya memanfaatkan waktu penantian yang sangat panjang itu dengan berjalan-jalan di sekitar pantai Sendang Biru, makan sate, mengobrol dengan warga sekitar. Setelah ngobrol-ngobrol dengan warga setempat, saya mendapatkan informasi bahwa ternyata banyak supir elf yang sering berkelit seperti itu dengan tujuan agar si pemesan elf membatalkan sewa elf. Dengan demikian mereka dapat meraup keuntungan dari DP yang sudah dibayarkan oleh pemesan. Sebenarnya menurut beberapa orang, di Sendang Biru juga terdapat penyewaan mobil, jadi tidak perlu menyewa mobil PP dari Malang.

Waktu menunjukkan pukul 16.00 lebih, tapi kami tetap sabar menunggu sampai akhirnya elf itu datang sekitar pukul 17.00 kurang. “Mba mobil ini per-nya rusak, jadi harus hati-hati”, itu ucapan sopir elf kita hendak mengantarkan kami dari Sendang Biru  menuju Bromo. Haduhhhh ini sopir membuat saya jadi deg-degan selama perjalanan. Bukan hanya masalah yang katanya ‘per mobil rusak’, tapi cara sopir mengemudikan elf pun membuat jantung saya mau copot. Jalan yang berliku-liku dan curam ditambah dengan supir yang ugal-ugalan sungguh adonan yang sempurna bukan? 😦 Tempat duduk sempit dan licin membuat posisi duduk sering merosot-merosot ke bawah juga menambah ‘nikmat’ nya perjalanan malam itu. Arghhhhh…

Sekitar pukul 21.00 kami meminta supir elf untuk membawa ke tempat makan, karena banyak dari kami yang mulai kelaparan. Tapi bukannya membawa kami ke tempat makan, elf malah membawa kami ke sebuah sudut kota malang yang sepi, gelap dan tak ada pedagang makanan satu pun yang terlihat, yang ada hanya dua atau tiga penjual kopi. Tiba-tiba ada elf lain yang mendekat, para supir sempat beradu mulut sebentar, suasana semakin horor saja. Lalu kami ‘dipaksa’ untuk pindah elf dengan alasan yang tidak jelas. Kami memindahkan sendiri barang-barang bawaan kami, bukan hanya itu supir elf juga meminta tambahan biaya dari yang sudah disepakati semula. Kami benar-benar dibawa ke ‘kandang macan’ dan dibuat tidak memiliki pilihan selain menuruti permintaan mereka untuk menambah biaya sewa elf. Banyak sekali ketegangan malam itu meskipun tidak sampai terjadi kekerasan.

Meskipun banyak menemui permasalahan dan kendala, tapi akhirnya sekitar pukul 01.00 dini hari kami sampai juga di Bromo. Udara sangat dingin sampai menusuk tulang, bulan menggantung di langit dengan santainya. Saat yang lain sibuk berfoto-foto dan belanja syal juga kupluk, saya memilih untuk berdiam di dalam elf. Rasa kantuk dan dingin sulit sekali dikalahkan malam itu.

Pos sebelum nanjak

Barang-barang bawaan kami tinggalkan di elf, karena kami tidak menyewa penginapan. Dan sekitar pukul 04.00 dini hari kami melanjutkan perjalanan memasuki kawasan Bromo untuk menyaksikan sunrise menggunakan Colt bak terbuka. Semula saya fikir perjalanan memasuki kawasan Bromo hanya bisa ditempuh dengan menggunakan Jeep, ternyata ada juga Colt bak terbuka, dan bahkan pengendara motor pun banyak yang dapat mencapai puncak kawasan bromo. Pemandangan hamparan perbukitan dan jurang di sepanjang perjalanan lebih bisa dinikmati dengan leluasa jika menggunakan colt bak terbuka. Meskipun udara cukup dingin tapi tidak begitu terasa, karena mata dan fikiran saya lebih fokus pada pemandangan taman langit jdan uga pemandangan di kanan kiri jalan. Selain itu dengan menggunakan Colt bak terbuka lebih dapat menghemat ongkos, karena kendaraan ini bisa menampung 10 – 15 orang.

Brrrrrr.... Di atas Colt bak terbuka

Mengejar matahari dengan colt bak, lebih nikmat daripada naik jeep.. 😀

Pukul 04.30 kami sudah sampai di spot tempat biasa orang-orang biasa menyaksikan sunrise. Sudah saya duga pengunjung hari itu benar-benar membludak, karena bertepatan dengan acara Jazz Bromo yang diselenggarakan pada malam sebelumnya. Hampir tidak ada tempat untuk sekedar berdiri di depan pagar pembatas, karena di sekitar pagar yang merupakan tempat paling nyaman untuk mengabadikan sunrise sudah dipenuhi dengan orang-orang, ada yg berdiri, ada yg duduk, bahkan ada yang berbaring. Diantara ratusan orang-orang yang sibuk dengan kamera untuk mengabadikan sunrise ternyata saya melihat sosok yang tidak asing lagi, yaitu TOMPI.  Dan ada satu lagi keberuntungan saya malam itu, yaitu saya termasuk salah satu orang yang bisa menyaksikan fenomena bintang jatuh yang waktunya begitu singkat.

With Tompi

Ketemu artis Tompi setelah acara ‘Jazz gunung’

Jangan khawatir bagi yang belum sarapan, karena di sekitar tempat tersebut banyak pedagang yang menjajakan makanan dan minuman hangat. Yang paling banyak dijual adalah pop mie dan kentang goreng yang ditusuk seperti sate. Banyak penjual kentang karena memang banyak penduduk yang menanam kentang di sekitar kawasan Bromo. Meskipun hanya kentang goreng tanpa ada rasa asin atau gurih tapi lumayan untuk menambah energi. Pedangan syal, kupluk, dan baju pun juga ada banyak disana.

Tanda-tanda kemunculan Sang Matahari

Jingga

Awan tumpah

Pemandangan menuju kawah

Setelah semuanya berkumpul kami pun langsung kembali menaiki Colt bak dan segera meluncur menuju penanjakan. Jalan menuju penanjakan cukup curam dan mengerikan. Jalanannya masih berbatu, tikungan curam dan jurang yang sangat dalam di sisi jalan cukup membuat jantung berdetak kencang. Tapi lagi-lagi pemandangan yang sungguh luar biasa bisa mengalahkan semua rasa ketakutan saya. Dan ini lah salah satu keuntungan lagi dengan menaiki mobil Colt bak terbuka, yaitu saya bisa berdiri dan mengabadikan pemandangan di sepanjang jalan menuju penanjakan yang sulit dilakukan jika naik jeep. Saya bisa menikmati seluruh pemandangan tanpa terhalang apapun. Dan yang lebih nikmat adalah sinar matahari bisa mengenai seluruh tubuh yang tadi hampir beku. Perjalanan dari spot menunggu sunrise menuju penanjakan memakan waktu sekitar 30 menit.

IMG_3242

Negeri di atas awan

Wedus gembel

IMG_3229

Bromo

Luar biasa bentuk perbukitan begitu teratur dikelilingi awan putih yang tebal, sungguh bagai negeri diatas awan. Setelah kurang lebih 20 menit melewati pemandangan perbukitan hijau dan awan putih, akhirnya sampai juga di kawasan sekitar penanjakan. Nah kalau sudah ketemu tanah berdebu berarti sudah hampir tiba di penanjakan. Kendaraan roda empat tidak bisa mendekati tangga penanjakan. Area parkir sangat luas, karena itu ingatlah dengan jelas di mana tempat parkir kendaraan yang anda pakai agar tidak tertukar. Untuk menuju penanjakan bisa ditempuh dengan jalan kaki, sewa kuda, atau naik ojeg motor. Jika ditempuh dengan jalan kaki kira-kira akan memakan waktu sekitar 15-20 menit. Ini baru sampai di bawah tangga penanjakan, sedangkan untuk mencapai puncak kawah harus dilalui dengan menaiki sekitar 250 anak tangga. Di sekitar penanjakan tepatnya di sebelah kiri tempat parkir kendaraan ada fasilitas toilet yang bersih dan cukup nyaman. Banyak juga penjual makanan sehingga tidak perlu takut kelaparan bagi yang tidak sempat sarapan.

Penanjakan tampak dari area parkir

Penanjakan tampak dari area parkir

Masih di dekat penanjakan

Masih di sekitar penanjakan

Cantikkkk orang dan langitnya :D

Dunia Rahmi…!

 

Penanjakan

Sampah oh sampah

Penanjakan padat merayap

Penanjakan padat merayap

Pemandangan dilihat dari penanjakan

Pemandangan dilihat dari penanjakan

Penampakan setelah turun dari kawah

Penampakan setelah turun dari kawah

Pukul 10.00 rombongan backpacker yang akhirnya kita namakan “Joy Bromo” akhirnya bersiap-siap meninggalkan penanjakan dan kembali ke Desa Wonokitri. Meskipun masih banyak tempat di kawasan bromo ,seperti hamparan pasir yang dikenal lewat film Pasir Berbisik dan Gurun Savana, yang tidak sempat kami kunjungi karena keterbatasan waktu. Tiba di Wonokitri kami langsung naik elf dan kembali ke Stasiun Kota Baru Malang. Sebenarnya dalam perjalanan menuju stasiun pun kita masih “dikerjain” oleh supir elf yang berujung dengan “UANG”. Setelah mengecek barang barulah disadari ternyata banyak terjadi kehilangan, mulai dari baju, jaket, camera, makanan, dan juga dua buah matras yang kami sewa. Terpaksa harus bayar ganti rugi atas kehilangan tersebut, dan menurut pemilik penyewaan matras kasus kehilangan seperti ini cukup sering terjadi. Karena itu WASPADALAH.. WASPADALAH.. Jaga barang-barang bawaan anda dengan benar, agar kejadian seperti ini tidak terus berulang.

Rincian Share cost:

  • Elf 2 unit Sendang Biru – Bromo – Malang :  Rp. 1.926.000,-
  • Sewa Colt bak 2 unit : Rp. 800.000,-
  • Denda penyewaan alat camping  : Rp. 250.000,-
  • Tiket masuk Bromo : Rp. 50.000, – (kena tipu, seharusnya tidak perlu bayar)
  • Total share cost :  Rp. 3.026.000,-
  • Biaya per orang : Rp. 121.040,-

Camping at Segara Anakan, Sempu Island

Cagar Alam Pulau Sempu adalah kawasan alam yang berada di bawah naungan Balai Konservasi Sumberdaya Alam (BKSDA) Provinsi Jawa Timur. Pulau ini memiliki luas sekitar 877 hektar, berbatasan dengan Selat Sempu (Sendang Biru) dan berada dalam wilayah Kabupaten Malang, Jawa Timur. Selain Pulau Sempu, di Jawa Timur juga terdapat tempat wisata yang pasti sudah sebagian besar orang Indonesia tahu, yaitu Gunung Bromo. Gunung Bromo mempunyai ketinggian 2.392 meter di atas permukaan laut dan berada dalam empat wilayah, yakni Kabupaten Probolinggo, Pasuruan, Lumajang, dan Kabupaten Malang.

Tanggal 6 Juli 2012 kemarin saya mengunjungi kedua tempat wisata tersebut bersama anak-anak BPI (Backpacker Indonesia) Bandung, Jabodetabek, dan Surabaya. Total semua peserta yang ikut dalam perjalanan kemarin adalah 25 orang. Teman-teman yang berada di Jabodetabek berangkat dari Stasiun Senen Jakarta, sedangkan saya berangkat dari Stasiun Bandung menggunakan Kereta Api Malabar kelas ekonomi jurusan Bandung – Malang Kota Baru dengan tarif Rp. 115.000,- per orang. Kami berangkat dari Bandung pada tanggal 5 Juli 2012 pukul 15.30 dan sampai di stasiun malang pada pukul 07.30 keesokan harinya.

Setibanya di Stasiun Kota Baru Malang, saya langsung menghampiri warung makan yang pertama saya lihat ketika baru turun dari kereta, yaitu warung makan Bu Tawar. Saat itu saya memilih menu nasi kare yaitu nasi dengan campuran ayam santan bumbu kuning seharga Rp.12,000,-.

Sekitar pukul 08.30 rombongan dari Jabodetabek pun tiba di Stasiun Kota Baru Malang. Setelah perwakilan rombongan mengurus beberapa keperluan kami pun bersiap menaiki elf yang sudah disewa untuk membawa kami ke Pantai Sendang Biru. Kami menyewa dua elf, satu elf bisa memuat sekitar 15 orang. Satu rombongan langsung menuju Pantai Sendang Biru, sedangkan satu elf rombongan yang lain menuju malang untuk mengambil tenda, matras, dan peralatan camping lain yang sudah di-booking sebelumnya.

Bersama sebagian peserta dari Jakarta

Rombongan Joy Bromo

Sekitar pukul 13.30 kami pun tiba di Pantai Sendang Biru. Setelah tiba di sana, kami langsung mengurus perijinan masuk kawasan Pulau Sempu dan mengurus sewa kapal. Di kawasan Pantai Sendang Biru ini pun banyak pengunjung yang berwisata bersama keluarga. Sehingga tidak sulit untuk menemukan penjual makanan di sini.

Dalam perjalanan memasuki Pulau Sempu kami menyewa seorang pemandu yang akan memdampingi kami agar tidak tersesat. Karena banyak pula kasus rombongan yang salah jalan atau pun terpisah meskipun berangkat bersama dan sudah mengikuti jalan yang ‘terlihat’ biasa dilewati orang-orang.

 

Pantai Sendang Biru

Pantai Sendang Biru

 

Pantai Sendang Biru

Pantai Sendang Biru

 

Setelah semua urusan selesai dan peserta sudah berkumpul semua, saya dan rombongan pun bersiap menuju kapal yang akan membawa kami ke Pulau Sempu pada pukul 15.30. Satu kapal bisa memuat sekitar 10 sampai 15 orang dengan biaya PP Rp. 100.000 per kapal. Jangan lupa untuk mencatat no HP si pemilik kapal agar bisa dihubungi saat hendak pulang nanti. Menyeberang ke Pulau Sempu dari Pantai Sendang Biru, hanya menghabiskan waktu kurang dari 10 menit.

Menuju kapal

Bersiap menyebrang ke Pulau Sempu

Teluk  di pintu masuk menuju Pulau Sempu di kenal dengan Teluk Semut. Kapal mengantar kami sampai sini. Dan ini lah pemandangan Pantai Sendang Biru dan Teluk Semut yang sempat saya abadikan. Aroma di sekitar teluk ini agak sedikit bau anyir.

Mendekati Teluk Semut , akses menuju Pulau Sempu

Teluk Semut , akses menuju Pulau Sempu

 

Yuk semangat menuju Sempu

Yuk semangat menuju Sempu

 

Sebenarnya tempat yang jadi tujuan utama kami adalah Danau Segara Anakan yang terdapat di Pulau Sempu ini. Menurut banyak orang danau ini tidak kalah indahnya jika dibanding dengan danau yang ada di Pulau Phi Phi Thailand. Perjalanan menuju Segara Anakan lebih kurang satu jam (musim kemarau), menyusuri hutan tropis dataran rendah. Dan kami sangat beruntung karena menurut sang pemandu sudah dua minggu di pulau tersebut tidak turun hujan. Sehingga jalanan menuju Segara Anakan cukup kering dan bisa dilewati walaupun hanya dengan menggunakan sandal gunung atau sepatu biasa. Bahkan ada beberapa orang yang berjalan tanpa alas kaki. Tapi sebenarnya sangat tidak disarankan, karena banyak terdapat bekas potongan akar dan juga batu-batu karang yang tajam. Saat musim hujan perjalanan ke Segara Anakan bisa memakan waktu hingga 3 – 4 jam. Masuk akal memang, karena kondisi jalan akan sangat berlumpur saat musim hujan. Bahkan dalam kondisi dua minggu tidak turun hujan pun masih ada beberapa spot jalan yang sedikit berlumpur. Saat kondisi jalan berlumpur disarankan untuk menyewa sepatu yang ada di Sendang Biru cukup dengan haraga Rp. 10.000.  Secara garis besar sebenarnya tidak begitu sulit melewati jalan menuju Segara Anakan ini saat musim kemarau, hanya ada beberapa spot saja yang memang ada kalanya kita butuh uluran tangan orang lain. Misalnya saja saat jalan begitu menurun atau terlalu menanjak dan saat harus menerobos atau melompati kayu yang melintang di tengah jalan.

 

Semangattt Kaka, jalanannya cukup menanjak nihh..

Semangattt Kaka, jalanannya cukup menanjak nihh..

 

Sore hari menjelang pukul 6

Semangat!

 

Setelah melewati perjalanan yang cukup melelahkan, mulai melihat ada tanda-tanda kehidupan. Air laut mulai terlihat di sisi-sisi jalan. Saat sudah hampir sampai ini lah medannya sedikit agak berat. Saat melewati jalan ini perlu ekstra hati-hati terutama di malam hari, agar tidak terperosok ke dalam jurang yang kedalamannya sekitar 1 sampai 3 meter. Saya sempat mulai khawatir karena hari sudah mulai gelap dan langit pun mulai menurunkan tetesan-tetesan kecil air hujan. Saya membayangkan di mana nanti saya akan berteduh, tenda belum didirikan, tempat tujuan belum juga terlihat. Saya juga khawatir bagaimana jika hujan tidak berhenti, bagaimana perjalanan pulang besok jika jalanan menjadi berlumpur.

Sekitar 10 menit dari semua rasa khawatir itu tiba lah saya di Segara Anakan, dan di sana sudah ada beberapa tenda yang yang berdiri. Banyak pula rombongan yang baru mulai mencari tempat untuk berkemah. Rasa capek saya semakin terasa, karena saya tidak menemukan danau seperti yang ada di internet 😥  Yang saya lihat hanya lah hamparan pasir dan batu karang yang tidak terlalu besar. Ya sudah lah mungkin ada di sisi lain yang tersembunyi fikir saya mencoba menghibur diri. Tapi tetap saja yang ada difikiran saya bukan lagi bagaimana sebenarnya keindahan Segara Anakan, tapi bagaimana perjalanan pulang besok, apakah akan masih ada tenaga yang tersisa? Ingin segera pulang dan ingin segera tiba di Sendang Biru lagi. Dan ternyata ada beberapa teman juga yang memiliki fikiran sama dengan saya hahaha..

Setelah semua berkumpul kami pun mulai mencari tempat dan mendirikan tenda, dan mulailah ada ketenangan karena hujan tampaknya mulai reda. Setelah semua tenda (tujuh tenda) berdiri saya dan teman-teman pun mulai membereskan barang-barang bawaan kami. Setelah semua beres dan mendapatkan tenda, acara dilanjutkan dengan masak-memasak. Malam itu kami hanya makan mie rebus dan minum kopi hangat. Alhamdulillah cuaca semakin malam semakin membaik, di langit pun sudah mulai tampak beberapa bintang.

Laparrr

Akrabisasi

Samar-samar terdengar seperti air hujan yang mengenai tenda (ini serius), saya lihat jam sudah menunjukkan pukul 4 pagi. Saya mulai penasaran, apakah pagi ini hujan turun lagi? Berlahan tapi pasti saya buka pintu tenda, dan…. Subhanallah ternyata bukan suara air hujan yang beradu dengan dinding tenda, tapi suara angin dari sisi Segara Anakan. Dan saya semakin terpesona karena di samping bulan yang dengan gagahnya berdiri di tingginya langit, hamparan daratan pasir yang kemarin sore saya lihat kini sudah mulai terisi oleh air laut yang luar biasa jernihnya. Air Danau Segara Anakan ternyata berasal dari air Laut Samudera Hindia. Air itu masuk melalui lubang bulat besar di tebing bagian tenggara. Sehingga saat ombak masuk, air akan terlihat begitu indah tersembur sedikit demi sedikit melalui lubang itu seperti api yang keluar dari mulut naga. Dan semakin siang deburan ombak semakin besar dan kapasitas air yang masuk pun semakin  banyak.. Sungguh surga dunia.

Ngintip dulu yukk

Suasana Subuh di Segara Anakan

Setelah sholat subuh dan sarapan pagi saya pun tidak sabar untuk segera berjalan-jalan di sekitar Segara Anakan. Di pinggir danau sudah ada beberapa orang yang asyik berfoto, ada pula yang tampak menikmati aktifitas snorkeling. Di sudut lain ada banyak kera yang mulai bermunculan di pepohonan, tapi tenang saja karena kera-kera itu tidak mengganggu. Malah mungkin kita yang sebenarnya mulai mengganggu habitat mereka. Di atas tebing ada beberapa orang yang melakukan aktivitas memancing. Sementara yang lain ada pula yang sedang memasak.

Segara Anakan

Segara Anakan pagi hari

 

Lagi liatin yang masak

Muka Bangun Tidur

 

Ibu-ibu masak yukk

Masak Sarapan Dulu

Setelah menyusuri pesisir Segara Anakan, saya pun mulai tergoda untuk naik ke atas tebing dan mencari tahu apa yang ada di baliknya. Dari atas tebing di sisi Segara Anakan ini terlihat hamparan Samudera Hindia yang amat luas. Namun hamparan laut itu tak bisa tersentuh karena dalamnya mungkin ada sekitar 8 – 10 meter dengan ombak yang besar. Agak mengerikan memang jika berdiri terlalu dekat. Bila sampai terjatuh tidak akan ada yang bisa menolong selain Tuhan. Karena itu biasanya tidak diperbolehkan menaiki tebing tersebut. Dan dari semua itu saya hanya bisa bilang “Luar biasa keajaiban Tuhan yang disentuhkan pada Pulau Sempu ini.”

Ini tebingnya

Ini sebenarnya cukup tinggi

 

Samudera Hindia

Samudera Hindia

 

Mancing mania mantappp

Mancing Mania Mantapp

Dan yang juga luar biasa amazing-nya adalah pemandangan Segara Anakan yang dinikmati dari atas tebing.

 

Segara Anakan

Menjelang siang air semakin penuh

 

Cheeeeess

Segara Anakan dilihat dari atas tebing

Setelah puas berdiri di atas tebing, saya pun kembali lagi ke Segara Anakan. Karena semakin siang air semakin pasang, dan keindahaan danau itu pun semakin sempurna. Airnya yang bening membuat ikan-ikan kecil terutama ikan cucut terlihat dengan sangat jelas. Air yang dangkal dan bening ini membuat Segara Anakan memukau setiap pengunjungnya.

Pasir Putih

Pantai Segara Anakan

 

love this spot

Lubang tempat masuknya air dari samudera Hindia

 

Pukul 09.30 kami bersiap-siap untuk meninggalkan Pulau Sempu meskipun belum puas menikmati pesonanya. Padahal sebenarnya pada jam-jam tersebut keindahan Segara Anakan terlihat sempurna.

Diperjalanan pulang saya bertemu dengan banyak orang yang menuju Segara Anakan, bukan hanya orang dewasa, bahkan ada seorang Bapak yang mengajak anaknya yang masih balita. Selain wisatawan lokal banyak pula wisatawan asing yang sepertinya penasaran dengan keindahan Segara Anakan.

 Note:

Rincian share cost

Sarden 2 kaleng                                  : Rp. 84.000

Sewa Tenda dll                                   : Rp. 440.000

Air Mineral                                           : Rp. 240.000

Sewa Elf Malang – Sdg Biru PP         : 1.250.000

Minyak Tanah                                     : Rp. 15.000

Tiket Masuk Sendang Biru                 : Rp. 145.000

SIMAKSI                                             : Rp. 100.000

Kapal Sdg Biru – Teluk Semut PP     : Rp. 200.000

Sewa Guide 2 hari                              : Rp. 250.000

Jasa penitipan barang                        : Rp. 20.000

Total  : Rp. 2.744.000 => @ Rp. 109.760

 

Tips

  1. Jika ingin menyewa elf /mobil dari Malang ke Sendang Biru,  cari lah di biro travel yang jelas dan terpercaya. Berhati-hatilah terhadap supir elf ‘liar’! Lebih baik sewa angkot daripada elf!
  2. Bawalah air mineral lebih jika ingin menginap di Pulau Sempu, karena di sana tidak terdapat air tawar.
  3. Pisahkan barang-barang berharga dalam tas kecil dan bawalah kemana saja anda pergi, karena ada beberapa kasus kehilangan barang.
  4. Yang sebaiknya dibawa adalah obat-obatan pribadi, senter, makanan ringan penahan lapar, pop mie, dan coklat (katanya bisa mencegah buang air besar, karena di sana tidak ada toilet.
  5. Tidak ada salahnya membawa jas hujan yang tipis, jika anda ke Pulau Sempu saat musim hujan.
  6. JANGAN membuang sampah sembarangan.
  7. Dan yang tidak kalah penting yang harus dibawa adalah Kamera

Find more photos https://www.facebook.com/media/set/?set=a.3951568040985.151269.1633665380&type=3

Backpacker Ke Pulau Tidung

Jembatan Cinta di pagi hari

Jembatan Cinta di pagi hari

Selamat Siang Semangat Pagi..

Kali ini saya akan bercerita mengenai perjalanan saya menuju ke Pulau Tidung. Sedikit info Pulau Tidung adalah salah satu kelurahan di kecamatan Kepulauan Seribu Selatan, Kabupaten Kepulauan Seribu, Jakarta, Indonesia. Dari kepadatan kota Jakarta dan dengan segala masalahnya, ternyata Jakarta masih memiliki tempat wisata yang jauh dari asap, macet, dan sampah.

Langsung saja saya akan bercerita mengenai kronologis perjalanan kami menuju ke Pulau Tidung. :^_* Hari itu tepatnya tanggal 31 Maret 2012 yang lalu saya bersama tiga orang teman bertolak dari Bekasi Timur menuju Pulau Tidung menggunakan taksi Primajasa yang sudah  dipesan dari malam sebelumnya. Saya berangkat dari Bekasi pukul 05.00 setelah sholat subuh dan pukul 06.00 lebih kami sudah sampai di Dermaga Muara Angke Baru dengan argo taksi menunjukkan nilai Rp.127.000.

Penampakan Dermaga

Dermaga Muara Angke Baru

Meskipun dermaga ini baru diresmikan beberapa bulan yang lalu oleh Gubernur Jakarta, namun kondisi dermaga sangat mengenaskan. Bangunan tidak terawat dan kosong tanpa fasilitas apapun. Tidak ada mushola dan kamar mandi yang tidak bisa digunakan karena tidak ada air dan kondisinya yang sangat jorok. Tapi semoga sekarang kondisinya sudah lebih baik, aminn.. ^_^ Dan satu lagi bau khas ikan asin tercium sangat tajam, jadi saran saya gunakanlah masker.. hehe.. Sebenarnya ada juga dermaga Muara Angke Lama yang berada tidak jauh dari dermaga Muara Angke Baru. Di sana banyak terdapat kapal nelayan yang juga melayani keberangkatan ke Pulau Seribu.

Sambil menunggu loket di buka, kami berjalan-jalan disekitar dermaga. Loket di buka sekitar pukul 7, dan jumlah pengunjung pun sudah membludak.
Tas diletakkan bederet sebagai tanda nomor antrian.. 😀

Tas diletakkan bederet sebagai tanda nomor antrian beli tiket.. :D

Tas diletakkan bederet sebagai tanda nomor antrian beli tiket..

Pemandangan sekitar dermaga

Pemandangan sekitar dermaga

Pemandangan sekitar dermaga

Kapal menuju Pulau Seribu

Setelah mendapatkan tiket dengan harga Rp. 32.000 kami pun menunggu lagi untuk mendapatkan giliran naik kapal. Ada satu kapal Lumba-lumba dan beberapa kapal Kerapu yang berangkat hari itu. Kapal kerapu ukurannya kecil dan hanya memuat 15 orang. Sedangkan kapal Lumba-Lumba yang ukuranya lebih besar memuat sekitar 25 orang. Kami sendiri memilih menaiki kapal Lumba-lumba yang terlihat lebih nyaman karena ukuran kapalnya yang lebih besar. Di dalam kapal Lumba-Lumba ini dilengkapi dengan fasilitas toilet, tv dan full music. Penumpang juga diberi makanan ringan dan minuman cuma-cuma.

Pukul 08.00 lebih kapal baru beranjak meninggalkan dermaga. Perjalanan dari Muara Angke menuju Tidung menghabiskan waktu sekitar 2.5 jam. Selain di pulau Tidung ada beberapa penumpang yang turun di pulau-pulau lain. Pulau Tidung merupakan tempat pemberhentian terakhir.

Nonton film Si Pitung di dalam kapal

Nonton film Si Pitung di dalam kapal hihi

Sekitar pukul 10.30 kami tiba di dermaga Pulau Tidung. Dan di sana kami sudah ditunggu oleh Pak Haji Mid yang memiliki penginapan ‘Lima Bersaudara’. Setelah bertemu dengan Pak Haji Mid, kami langsung diantar menuju penginapan yang letaknya sekitar 300 meter dari dermaga. Di depan penginapan sudah disediakan sepeda yang yg akan kami gunakan untuk berkeliling di Pulau Tidung. Harga sewa sepeda adalah 15ribu per sepeda selama 2 hari 1 mlm kami disana.

Penginapan Pak Haji sangat nyaman, dilengkapi dengan 3 tempat tidur full AC, TV, dispenser lengkap dengan air mineralnya, dan juga meja rias yang sangat diperlukan oleh wanita untuk dandan hahaha.. Di belakang penginapan terdapat saung untuk bersantai sambil memandang lautan yg tak terlihat batasnya. Benar-benar bisa membuat fikiran menjadi fresh dan melupakan sejenak rutinitas kerja yang kadang membosankan.

Foto bersama Bpk. Haji Mid

Foto bersama Bpk. Haji Mid

Pemandangan belakang penginapan

Pemandangan belakang penginapan

Pemandangan belakang penginapan

Pemandangan belakang penginapan

Setelah beristirahat sejenak, kami pun mulai bersepeda ria menyusuri jalan menuju pantai dan Jembatan Cinta. Nikmat sekali bersepeda ditemani semilir angin yang berhembus dari pantai sepanjang jalan. Yang saya rasakan waktu itu agak sulit menemukan tempat makan di sana, ada beberapa rumah makan tapi sudah gulung tikar tampaknya. Agar tidak kelaparan seperti yang saya alami sebaiknya pesan penginapan sepaket dengan makan. Ada beberapa penjual gorengan di pinggir jalan, namun rasanya jauh dari kata enak. Akhirnya ketika hampir sampai di Jembatan Cinta kami menemukan satu rumah makan padang. Saya pun makan dengan lauk ayam sayur seharga 8000 rupiah, meskipun rasanya tidak seenak rumah makan padang Simpang Paris di Bandung tapi lumayan daripada tidak samasekali. Di belakang rumah makan padang ini merupakan tempat tepat bagi yang ingin ber-camping. Tempatnya sejuk langsung menghadapa pantai yang bisa dijadikan tempat untuk bermain poli pantai dan banyak pepohonan yang bisa dijadikan tempat ayunan, selain itu juga ada beberapa saung untuk bersantai.

Mari camping di sini

Mari camping di sini

Perjalanan dari Penginapan menuju Jembatan Cinta memakan waktu sekitar 15 – 20 menit. Setelah memarkirkan sepeda dengan biaya 2000 rupiah kami langsung berjalan menyusuri jembatan menuju Pulau Tidung Kecil. Jembatan yang terbuat dari kayu memang agak sedikit mengerikan, karena sudah banyak bagian kayu yang lapuk dan berlubang. Tapi Tidak perlu khawatir, karena sebagian jembatan telah mulai direnovasi menggunakn semen. Cuaca sangat panas, tapi tidak terasa karna kita bisa menikmati pemandangan ikan-ikan kecil yang ada di bawah jembatan. Ingin rasanya turun dan menangkap ikan-ikan itu, tapi sayang banyak bulu babi 😀

Sebelum tiba di Tidung saya sempat bertekat setengah bulat untuk menguji nyali dengan terjun dari jembatan cinta seperti yang banyak saya lihat di foto-foto orang lain, tapi ohh ternyata jembatan itu sangat tinggi dan saya sungguh tidak punya nyali. hahaha hiksss.. Dan memang tidak banyak orang yang berani melakukannya. 😀

Welcome

Welcome

Tandai sepedamu agar tidak tertukar

Tandai sepedamu agar tidak tertukar

Menuju Tidung Kecil

Menuju Tidung Kecil

Lanjut jalan lagi

Lanjut jalan lagi

banana boat

banana boat

sejauh mata memandang

sejauh mata memandang

boleh dicoba nih

boleh dicoba nih

Sore harinya setelah kembali dari Pulau Tidung Kecil kami langsung menuju bagian barat pulau untuk mengejar sunset. Meskipun bagian barat pulau ini tidak seramai bagian timur dan cenderung dipenuhi dengan pohon dan semak belukar, tapi tidak perlu khawatir tersesat karena jalan setapak jelas terlihat. Jika kita terus mengayuh sepeda ke arah barat, setelah melewati semak belukar, kita akan menemukan lapangan sepak bola, gedung sekolah, dan saung-saung di pinggir pantai yang bisa kita gunakan untuk bersantai sambil menunggu matahari terbenam. Di tempat ini lah banyak orang asing yang bermain sepak bola bersama anak-anak kecil penduduk setempat.

Sunset

Sunset

Sunset

Sunset

Menikmati sunset

Menikmati sunset

Malam hari kami sudah kelelahan, jadi kita tidak melakukan aktifitas apa-apa selain tidur.. Padahal saya sangat ingin memancing ikan di jembatan cinta. Malam hari kami hanya makan nasi goreng, padahal saya berharap menemukan rumah makan yang menyediakan udang atau cumi bakar, hehehe..

Pagi setelah sholat subuh saya langsung menu Jembatan Cinta lagi untuk mengejar Sunrise.. Pukul 05.00 pagi di sana sudah ada beberapa orang yang siap dengan cameranya untuk mengabadikan sang Sunrise..  Yukk hunting photo lagi sebelum pulang.. 😀

Sunrise

Sunrise

IMG_1393

Pukul 09.30 kami sudah siap-siap berkemas untuk meninggalkan Pulau Tidung.. Dan tepat jam 10.00 kapal Lumba-Lumba sudah siap membawa kami pulang. Karena merasa belum puas dengan wisata kali ini, saya berencana untuk kembali lagi ke Pulau ini suatu saat nanti… 😀

Rincian Biaya:
Taxi : Rp. 127.000 = @ Rp. 31.750
Kapal PP : Rp. 64.000
Penginapan : Rp. 400.000 = @ Rp. 100.000
Sewa Sepeda : Rp. 15.000
Makan 3x : Rp. 35.000
DLL : Rp. 20.000
Total Biaya per orang (tanpa biaya dr muara angke ke rumah masing) sekitar : Rp. 265.750

No. HP Bpk. Haji Mid.  : 0858 8874 2129