Backpacker dan Dampaknya Terhadap Lingkungan

Backpacker dan Dampaknya Terhadap Lingkungan

Dalam kurun waktu beberapa tahun terakhir ini fenomena backpacker di Indonesia mengalami perkembangan yang cukup signifikan. Hal ini ditandai dengan banyaknya kemunculan biro travel ala backpacker di situs-situs jejaring sosial maupun situs semacam http://www.kaskus.co.id, juga kemunculan forum-forum backpacker seperti www.backpackerindonesia.com, www.trackpacking.com, www.indobackpacker.com dan masih banyak lagi yang lain. Saat ini banyak pula bermunculan acara televisi yang menampilkan perjalanan ke tempat-tempat yang menyajikan pemandangan alam menakjubkan yang selama ini tidak banyak diketahui orang.

Backpacker menurut Wikipedia bahasa Indonesia berasal dari kata tas ransel (backpack) untuk bepergian. Backpack merupakan istilah bahasa Inggris yang artinya tas yang digendong di belakang. Wisata beransel (bahasa Inggris: backpacking) adalah perjalanan ke suatu tempat tanpa membawa barang-barang yang memberatkan atau membawa koper. Adapun barang bawaan hanya berupa tas yang digendong, pakaian secukupnya, dan perlengkapan lain yang dianggap perlu. Biasanya orang yang melakukan perjalanan seperti ini adalah dari kalangan berusia muda, tidak perlu tidur di hotel tetapi cukup di suatu tempat yang dapat dijadikan untuk beristirahat atau tidur. Perjalanan seperti ini dilakukan di dalam negeri ataupun di luar negeri. Nah, forum-forum yang dibentuk oleh para backpacker inilah yang sekarang banyak diminati oleh orang-orang yang menyebut dirinya pecinta alam, penikmat keindahan dan lain-lain.

Kehadiran para backpacker ini menurut saya cukup banyak memberi dampak, baik dampak positif maupun negatif terutama pada lingkungan. Dampak positifnya antara lain adalah meningkatnya pembangunan, perekonomian masyarakat di sekitar daerah wisata, tumbuhnya rasa nasionalisme dan penghargaan terhadap wisata lokal, membantu mempromosikan wisata yang belum banyak diketahui orang, dan peningkatan hubungan antar pribadi dari berbagai daerah yang berbeda suku dan agama. Karena para backpacker ini tidak sedikit pula yang melakukan aktifitas bersama-sama dengan orang lain dari berbagai daerah melalui forum-forum backpacker atau pecinta alam.

Sedangkan dampak negatif dari peningkatan jumlah pecinta jalan-jalan ini juga cukup banyak. Salah satunya yang akan saya bahas adalah dampak pada kerusakan lingkungan, terutama kawasan pantai dan gunung. Karena icon suatu keindahan yang paling banyak dicari adalah pantai dan juga lereng dan puncak gunung. Para backpacker ini biasanya senang mendaki gunung, mencari dan mendatangi tempat-tempat yang tersembunyi atau yang dikenal dengan istilah hidden paradise.

Salah satu pantai di Sumatera Barat

Salah satu pantai di Sumatera Barat

Salah satu contoh hidden paradise yang saat ini sedang popular adalah Segara Anakan di Pulau Sempu, Malang. Dan saya pun pernah mendatangi tempat ini karena tergiur dengan keindahan alamnya. Pulau Sempu ini sebenarnya merupakan kawasan cagar alam, yaitu kawasan suaka alam yang karena alamnya mempunyai kekhasan tumbuhan, satwa dan ekosistem tertentu yang perlu di lindungi dan perkembangannya berlangsung secara alami. Seharusnya kawasan ini tidak bisa dimasuki oleh sembarang orang dan tidak boleh dijadikan tempat wisata, karena dapat mengakibatkan perubahan fungsi kawasan Cagar Alam. Tapi pada kenyataannya petugas Resort Konservasi Wilayah Pulau Sempu sering meloloskan/mengijinkan pelancong untuk memasuki kawasan, meskipun tanpa simaksi (Surat Izin Masuk Kawasan Konservasi). Sehingga tempat ini sekarang lebih mirip sebagai tempat wisata, dan bukan lagi sebagai cagar alam. Banyak orang berbondong-bondong mendatangi Pulau Sempu setiap harinya setelah mendengar dan membaca dari berbagai media. Kehadiran orang-orang ini ikut menyumbang sampah-sampah yang sekarang mulai terlihat dibeberapa sudut Pulau Sempu. Sisa-sisa bungkus makanan, botol air mineral, puntung rokok, dan sampah lain yang dibuang begitu saja oleh pengunjung yang tidak bertanggung jawab.

Pulau Sempu - Jawa Timur

Pulau Sempu – Jawa Timur

Contoh lain adalah kebakaran hutan di lereng Gunung Slamet pada Sabtu dini hari, 25 Agustus 2012 yang diduga berasal dari sisa api unggun pendaki. Kondisi hutan di Indonesia kian merana saja. Tahun ini kebakaran tidak hanya terjadi akibat kemarau panjang, tapi juga karena kecerobohan manusia. Hampir semua kasus kebakaran hutan atau sebesar 99% terjadi akibat aktivitas manusia. Kegiatan manusia seperti merokok, buka kebun, dan pendakian gunung menjadi penyebab awal kebakaran hutan. Pada Tahun 1984 Gunung Slamet ini juga pernah terbakar dan penyebab kebakaran saat itu diduga dari puntung rokok yang dibuang sembarangan oleh para pendaki hingga menyulut pohon-pohon maupun ilalang yang mengering. Coba bayangkan berapa kerugian akibat kebakaran hutan tersebut? Berapa banyak pohon yang hangus terbakar? Berapa banyak binatang yang mati? Kerugian yang pasti adalah rusaknya ekosistem alam, dan ini lah yang sulit untuk dikembalikan seperti semula.            Itulah salah satu contoh kecil dampak yang terjadi pada lingkungan kita akibat kegiatan manusia yang mengatasnamakan backpacker dan pecinta alam. Dampak-dampak negatif tersebut dapat diminimalisir dan dihilangkan jika saja setiap orang mempunyai rasa tanggung jawab dan rasa memiliki alam yang sudah diciptakan Tuhan dengan segala keindahannya. Selayaknya keindahan itu tidak hanya dinikmati sesaat, tapi juga harus terus dijaga agar keindahannya tetap terjaga dan dapat dinikmati oleh anak cucu kita kelak. Sekumpulan pecinta alam setidaknya jangan hanya bangga telah mendatangi banyak tempat, telah menaklukan berapa gunung, tapi banggalah jika telah dapat memberikan sumbangsih yang positif terhadap tempat-tempat yang didatangi tersebut. Nikmatilah keindahan ciptaan Tuhan ini, namun jangan lupa pula untuk menjaganya.

Salah satu pantai di Pulau Tidung - Kepulauan Seribu

Salah satu pantai di Pulau Tidung – Kepulauan Seribu

Advertisements
Memacu Adrenaline di Jawa – Bali

Memacu Adrenaline di Jawa – Bali

Beberapa waktu yang lalu perusahaan Toyota mengeluarkan Toyota New Rush dengan tampilan yang lebih sporty dan dinamis juga dilengkapi dengan fitur keamanan yang lebih canggih. Dan yang paling penting adalah hadirnya fitur dual SRS airbag untuk menunjang keselamatan yang ada pada semua tipe New Rush. Toyota Rush juga memiliki ground clearance tinggi yang siap menerjang jalan berlubang dan jalan yang tergenang air bahkan banjir. Kelebihan lain memiliki mobil Toyota adalah suku cadang atau sparepartnya yang mudah didapat karena tersebar di seluruh wilayah Indonesia. Seandainya saja saya bisa memilih pasti saya akan memilih New Rush berwarna Maroon Mica. Sudah pasti semua mata akan tertuju pada si merah yang gagah ini. Spesifikasi New Rush lebih lengkap bisa dilihat langsung di http://www.toyota.astra.co.id/product/new-rush/#eksterior

Toyota New Rush

Toyota New Rush

Melihat Toyota New Rush membangkitkan lagi keinginan saya untuk berpetualang menjelajahi bukit, gunung, dan laut yang ada di Pulau Jawa hingga Bali. Sejak dulu di kepala saya sudah ada rencana-rencana menjelajahi pulau-pulau menggunakan roda empat selama dua minggu. Dalam bayangan saya sudah tergambar jelas indahnya menjelajahi jalan yang bermil-mil pjaraknya ini dengan menggunakan mobil SUV atau Sport Utility Vehicle. Sepeda gunung, tenda, dan alat masak camping adalah barang yang pasti akan saya bawa saat berpetualang. Tidak perlu cari penginapan dan tidak perlu mencari penjual makanan, semua perlengkapan kebutuhan selama perjalanan sudah tersedia dalam bagasi mobil. Saat istirahat di perjalanan tinggal mendirikan tenda lalu nyalakan kompor dan kita siap memasak untuk makan malam.

Petualangan kali ini saya akan mengambil jalur selatan dimulai dari kota Bandung menuju Ciamis. Di Ciamis kita akan mampir dulu ke Green Canyon yang berada di Kecamatan Cijulang untuk uji nyali dengan melakukan body rafting. Jalan menuju Cijulang ini masih banyak yang rusak parah dan belum diperbaiki. Setelah bermain air lalu kita akan bermalam di Pantai Pangandaran sambil menikmati seafood yang dibeli langsung dari nelayan.

Keesokan harinya perjalanan dilanjutkan menyusuri Majenang (Jawa Tengah) lalu singgah di Yogyakarta sekedar untuk berwisata kuliner di kota kelahiran orang tua saya ini. Perjalanan lalu dilanjutkan menuju Pasuruan Jawa Timur dan kita akan memacu adrenaline dengan memasuki kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru. Banyak tempat yang akan dikunjungi di kawasan ini, mulai dari Penanjakan, Kawah Bromo, Lautan Pasir (Pasir berbisik), dan Savanna (bukit teletubbies).

Wedus gembel

Kawasan Bromo Tengger Semeru

Setelah bermalam di Bromo perjalanan dilanjutkan lagi menyusuri kota-kota di Jawa Timur dan berhenti di destinasi selanjutnya yaitu Banyuwangi. Sebenarnya banyak sekali destinasi wisata yang wajib dikunjungi di kota Banyuwangi ini terutama pantai-pantainya yang indah. Tapi kali ini saya ingin mengeksplorasi alam dan bersafari memacu adrenaline dengan bertemu binatang liar di Afrika-nya Indonesia. Yang saya tuju tentu saja adalah Little Africa in Java yaitu Taman Nasional Baluran yang terletak di perbatasan Kabupaten Situbondo dan Kabupaten Banyuwangi. Baluran ini memiliki kombinasi berbagai bentang alam mulai dari laut, pegunungan, hingga savanna. Di sini saya akan mengunjungi Savana Bekol sebagai salah satu obyek wisata alam andalan Baluran. Pasti seru sekali menyusuri kawasan yang berjarak ±12 KM dari pintu masuk dan memiliki luas ±300 Ha ini dengan New Rush. Tempat lain yang wajib dikunjungi adalah Gua Jepang, Curah Tangis, Visitor Centre, Candi Bang, Savana Semiang, Evergreen Forest Bekol, dan Pantai Bama.

Ekspedisi selanjutnya adalah menuju pelabuhan Ketapang Banyuwangi dan menyebrang ke Gilimanuk Bali. Petualangan ini akan diakhiri dengan berkeliling Bali dengan si Merah New Rush. Setelah puas menjelajah gunung dan hutan, maka di Bali saatnya menantang adrenalin dengan bermain di pantai dan mencoba berbagai macam watersport dan arung jeram. Tempat yang wajib dikunjungi di Bali antara lain Pantai Kuta, Pantai Balangan, Pantai Tegalwangi, Jalan Legian, Bedugul, Pulau Menjangan, Nusa Lembongan, dan Tanjung Benoa untuk menjajal berbagai macam watersport. Dan yang tidak boleh dilupakan adalah wisata arung jeram di Sungai Telaga Waja Bali yang terletak di desa Muncan, Karangasem, Bali bagian timur.

Arung Jeram

Arung Jeram

banana boat

Banana Boat

Itulah kira-kira yang ada dibayangan saya saat berpetualang menggunakan New Rush menyusuri jalanan Bandung Jawa Barat hingga Bali.

<img src=”http://dmp1.idblognetwork.com/capt.php?p=lombablog-D02” width=”1″ height=”1″>

Camping at Segara Anakan, Sempu Island

Cagar Alam Pulau Sempu adalah kawasan alam yang berada di bawah naungan Balai Konservasi Sumberdaya Alam (BKSDA) Provinsi Jawa Timur. Pulau ini memiliki luas sekitar 877 hektar, berbatasan dengan Selat Sempu (Sendang Biru) dan berada dalam wilayah Kabupaten Malang, Jawa Timur. Selain Pulau Sempu, di Jawa Timur juga terdapat tempat wisata yang pasti sudah sebagian besar orang Indonesia tahu, yaitu Gunung Bromo. Gunung Bromo mempunyai ketinggian 2.392 meter di atas permukaan laut dan berada dalam empat wilayah, yakni Kabupaten Probolinggo, Pasuruan, Lumajang, dan Kabupaten Malang.

Tanggal 6 Juli 2012 kemarin saya mengunjungi kedua tempat wisata tersebut bersama anak-anak BPI (Backpacker Indonesia) Bandung, Jabodetabek, dan Surabaya. Total semua peserta yang ikut dalam perjalanan kemarin adalah 25 orang. Teman-teman yang berada di Jabodetabek berangkat dari Stasiun Senen Jakarta, sedangkan saya berangkat dari Stasiun Bandung menggunakan Kereta Api Malabar kelas ekonomi jurusan Bandung – Malang Kota Baru dengan tarif Rp. 115.000,- per orang. Kami berangkat dari Bandung pada tanggal 5 Juli 2012 pukul 15.30 dan sampai di stasiun malang pada pukul 07.30 keesokan harinya.

Setibanya di Stasiun Kota Baru Malang, saya langsung menghampiri warung makan yang pertama saya lihat ketika baru turun dari kereta, yaitu warung makan Bu Tawar. Saat itu saya memilih menu nasi kare yaitu nasi dengan campuran ayam santan bumbu kuning seharga Rp.12,000,-.

Sekitar pukul 08.30 rombongan dari Jabodetabek pun tiba di Stasiun Kota Baru Malang. Setelah perwakilan rombongan mengurus beberapa keperluan kami pun bersiap menaiki elf yang sudah disewa untuk membawa kami ke Pantai Sendang Biru. Kami menyewa dua elf, satu elf bisa memuat sekitar 15 orang. Satu rombongan langsung menuju Pantai Sendang Biru, sedangkan satu elf rombongan yang lain menuju malang untuk mengambil tenda, matras, dan peralatan camping lain yang sudah di-booking sebelumnya.

Bersama sebagian peserta dari Jakarta

Rombongan Joy Bromo

Sekitar pukul 13.30 kami pun tiba di Pantai Sendang Biru. Setelah tiba di sana, kami langsung mengurus perijinan masuk kawasan Pulau Sempu dan mengurus sewa kapal. Di kawasan Pantai Sendang Biru ini pun banyak pengunjung yang berwisata bersama keluarga. Sehingga tidak sulit untuk menemukan penjual makanan di sini.

Dalam perjalanan memasuki Pulau Sempu kami menyewa seorang pemandu yang akan memdampingi kami agar tidak tersesat. Karena banyak pula kasus rombongan yang salah jalan atau pun terpisah meskipun berangkat bersama dan sudah mengikuti jalan yang ‘terlihat’ biasa dilewati orang-orang.

 

Pantai Sendang Biru

Pantai Sendang Biru

 

Pantai Sendang Biru

Pantai Sendang Biru

 

Setelah semua urusan selesai dan peserta sudah berkumpul semua, saya dan rombongan pun bersiap menuju kapal yang akan membawa kami ke Pulau Sempu pada pukul 15.30. Satu kapal bisa memuat sekitar 10 sampai 15 orang dengan biaya PP Rp. 100.000 per kapal. Jangan lupa untuk mencatat no HP si pemilik kapal agar bisa dihubungi saat hendak pulang nanti. Menyeberang ke Pulau Sempu dari Pantai Sendang Biru, hanya menghabiskan waktu kurang dari 10 menit.

Menuju kapal

Bersiap menyebrang ke Pulau Sempu

Teluk  di pintu masuk menuju Pulau Sempu di kenal dengan Teluk Semut. Kapal mengantar kami sampai sini. Dan ini lah pemandangan Pantai Sendang Biru dan Teluk Semut yang sempat saya abadikan. Aroma di sekitar teluk ini agak sedikit bau anyir.

Mendekati Teluk Semut , akses menuju Pulau Sempu

Teluk Semut , akses menuju Pulau Sempu

 

Yuk semangat menuju Sempu

Yuk semangat menuju Sempu

 

Sebenarnya tempat yang jadi tujuan utama kami adalah Danau Segara Anakan yang terdapat di Pulau Sempu ini. Menurut banyak orang danau ini tidak kalah indahnya jika dibanding dengan danau yang ada di Pulau Phi Phi Thailand. Perjalanan menuju Segara Anakan lebih kurang satu jam (musim kemarau), menyusuri hutan tropis dataran rendah. Dan kami sangat beruntung karena menurut sang pemandu sudah dua minggu di pulau tersebut tidak turun hujan. Sehingga jalanan menuju Segara Anakan cukup kering dan bisa dilewati walaupun hanya dengan menggunakan sandal gunung atau sepatu biasa. Bahkan ada beberapa orang yang berjalan tanpa alas kaki. Tapi sebenarnya sangat tidak disarankan, karena banyak terdapat bekas potongan akar dan juga batu-batu karang yang tajam. Saat musim hujan perjalanan ke Segara Anakan bisa memakan waktu hingga 3 – 4 jam. Masuk akal memang, karena kondisi jalan akan sangat berlumpur saat musim hujan. Bahkan dalam kondisi dua minggu tidak turun hujan pun masih ada beberapa spot jalan yang sedikit berlumpur. Saat kondisi jalan berlumpur disarankan untuk menyewa sepatu yang ada di Sendang Biru cukup dengan haraga Rp. 10.000.  Secara garis besar sebenarnya tidak begitu sulit melewati jalan menuju Segara Anakan ini saat musim kemarau, hanya ada beberapa spot saja yang memang ada kalanya kita butuh uluran tangan orang lain. Misalnya saja saat jalan begitu menurun atau terlalu menanjak dan saat harus menerobos atau melompati kayu yang melintang di tengah jalan.

 

Semangattt Kaka, jalanannya cukup menanjak nihh..

Semangattt Kaka, jalanannya cukup menanjak nihh..

 

Sore hari menjelang pukul 6

Semangat!

 

Setelah melewati perjalanan yang cukup melelahkan, mulai melihat ada tanda-tanda kehidupan. Air laut mulai terlihat di sisi-sisi jalan. Saat sudah hampir sampai ini lah medannya sedikit agak berat. Saat melewati jalan ini perlu ekstra hati-hati terutama di malam hari, agar tidak terperosok ke dalam jurang yang kedalamannya sekitar 1 sampai 3 meter. Saya sempat mulai khawatir karena hari sudah mulai gelap dan langit pun mulai menurunkan tetesan-tetesan kecil air hujan. Saya membayangkan di mana nanti saya akan berteduh, tenda belum didirikan, tempat tujuan belum juga terlihat. Saya juga khawatir bagaimana jika hujan tidak berhenti, bagaimana perjalanan pulang besok jika jalanan menjadi berlumpur.

Sekitar 10 menit dari semua rasa khawatir itu tiba lah saya di Segara Anakan, dan di sana sudah ada beberapa tenda yang yang berdiri. Banyak pula rombongan yang baru mulai mencari tempat untuk berkemah. Rasa capek saya semakin terasa, karena saya tidak menemukan danau seperti yang ada di internet 😥  Yang saya lihat hanya lah hamparan pasir dan batu karang yang tidak terlalu besar. Ya sudah lah mungkin ada di sisi lain yang tersembunyi fikir saya mencoba menghibur diri. Tapi tetap saja yang ada difikiran saya bukan lagi bagaimana sebenarnya keindahan Segara Anakan, tapi bagaimana perjalanan pulang besok, apakah akan masih ada tenaga yang tersisa? Ingin segera pulang dan ingin segera tiba di Sendang Biru lagi. Dan ternyata ada beberapa teman juga yang memiliki fikiran sama dengan saya hahaha..

Setelah semua berkumpul kami pun mulai mencari tempat dan mendirikan tenda, dan mulailah ada ketenangan karena hujan tampaknya mulai reda. Setelah semua tenda (tujuh tenda) berdiri saya dan teman-teman pun mulai membereskan barang-barang bawaan kami. Setelah semua beres dan mendapatkan tenda, acara dilanjutkan dengan masak-memasak. Malam itu kami hanya makan mie rebus dan minum kopi hangat. Alhamdulillah cuaca semakin malam semakin membaik, di langit pun sudah mulai tampak beberapa bintang.

Laparrr

Akrabisasi

Samar-samar terdengar seperti air hujan yang mengenai tenda (ini serius), saya lihat jam sudah menunjukkan pukul 4 pagi. Saya mulai penasaran, apakah pagi ini hujan turun lagi? Berlahan tapi pasti saya buka pintu tenda, dan…. Subhanallah ternyata bukan suara air hujan yang beradu dengan dinding tenda, tapi suara angin dari sisi Segara Anakan. Dan saya semakin terpesona karena di samping bulan yang dengan gagahnya berdiri di tingginya langit, hamparan daratan pasir yang kemarin sore saya lihat kini sudah mulai terisi oleh air laut yang luar biasa jernihnya. Air Danau Segara Anakan ternyata berasal dari air Laut Samudera Hindia. Air itu masuk melalui lubang bulat besar di tebing bagian tenggara. Sehingga saat ombak masuk, air akan terlihat begitu indah tersembur sedikit demi sedikit melalui lubang itu seperti api yang keluar dari mulut naga. Dan semakin siang deburan ombak semakin besar dan kapasitas air yang masuk pun semakin  banyak.. Sungguh surga dunia.

Ngintip dulu yukk

Suasana Subuh di Segara Anakan

Setelah sholat subuh dan sarapan pagi saya pun tidak sabar untuk segera berjalan-jalan di sekitar Segara Anakan. Di pinggir danau sudah ada beberapa orang yang asyik berfoto, ada pula yang tampak menikmati aktifitas snorkeling. Di sudut lain ada banyak kera yang mulai bermunculan di pepohonan, tapi tenang saja karena kera-kera itu tidak mengganggu. Malah mungkin kita yang sebenarnya mulai mengganggu habitat mereka. Di atas tebing ada beberapa orang yang melakukan aktivitas memancing. Sementara yang lain ada pula yang sedang memasak.

Segara Anakan

Segara Anakan pagi hari

 

Lagi liatin yang masak

Muka Bangun Tidur

 

Ibu-ibu masak yukk

Masak Sarapan Dulu

Setelah menyusuri pesisir Segara Anakan, saya pun mulai tergoda untuk naik ke atas tebing dan mencari tahu apa yang ada di baliknya. Dari atas tebing di sisi Segara Anakan ini terlihat hamparan Samudera Hindia yang amat luas. Namun hamparan laut itu tak bisa tersentuh karena dalamnya mungkin ada sekitar 8 – 10 meter dengan ombak yang besar. Agak mengerikan memang jika berdiri terlalu dekat. Bila sampai terjatuh tidak akan ada yang bisa menolong selain Tuhan. Karena itu biasanya tidak diperbolehkan menaiki tebing tersebut. Dan dari semua itu saya hanya bisa bilang “Luar biasa keajaiban Tuhan yang disentuhkan pada Pulau Sempu ini.”

Ini tebingnya

Ini sebenarnya cukup tinggi

 

Samudera Hindia

Samudera Hindia

 

Mancing mania mantappp

Mancing Mania Mantapp

Dan yang juga luar biasa amazing-nya adalah pemandangan Segara Anakan yang dinikmati dari atas tebing.

 

Segara Anakan

Menjelang siang air semakin penuh

 

Cheeeeess

Segara Anakan dilihat dari atas tebing

Setelah puas berdiri di atas tebing, saya pun kembali lagi ke Segara Anakan. Karena semakin siang air semakin pasang, dan keindahaan danau itu pun semakin sempurna. Airnya yang bening membuat ikan-ikan kecil terutama ikan cucut terlihat dengan sangat jelas. Air yang dangkal dan bening ini membuat Segara Anakan memukau setiap pengunjungnya.

Pasir Putih

Pantai Segara Anakan

 

love this spot

Lubang tempat masuknya air dari samudera Hindia

 

Pukul 09.30 kami bersiap-siap untuk meninggalkan Pulau Sempu meskipun belum puas menikmati pesonanya. Padahal sebenarnya pada jam-jam tersebut keindahan Segara Anakan terlihat sempurna.

Diperjalanan pulang saya bertemu dengan banyak orang yang menuju Segara Anakan, bukan hanya orang dewasa, bahkan ada seorang Bapak yang mengajak anaknya yang masih balita. Selain wisatawan lokal banyak pula wisatawan asing yang sepertinya penasaran dengan keindahan Segara Anakan.

 Note:

Rincian share cost

Sarden 2 kaleng                                  : Rp. 84.000

Sewa Tenda dll                                   : Rp. 440.000

Air Mineral                                           : Rp. 240.000

Sewa Elf Malang – Sdg Biru PP         : 1.250.000

Minyak Tanah                                     : Rp. 15.000

Tiket Masuk Sendang Biru                 : Rp. 145.000

SIMAKSI                                             : Rp. 100.000

Kapal Sdg Biru – Teluk Semut PP     : Rp. 200.000

Sewa Guide 2 hari                              : Rp. 250.000

Jasa penitipan barang                        : Rp. 20.000

Total  : Rp. 2.744.000 => @ Rp. 109.760

 

Tips

  1. Jika ingin menyewa elf /mobil dari Malang ke Sendang Biru,  cari lah di biro travel yang jelas dan terpercaya. Berhati-hatilah terhadap supir elf ‘liar’! Lebih baik sewa angkot daripada elf!
  2. Bawalah air mineral lebih jika ingin menginap di Pulau Sempu, karena di sana tidak terdapat air tawar.
  3. Pisahkan barang-barang berharga dalam tas kecil dan bawalah kemana saja anda pergi, karena ada beberapa kasus kehilangan barang.
  4. Yang sebaiknya dibawa adalah obat-obatan pribadi, senter, makanan ringan penahan lapar, pop mie, dan coklat (katanya bisa mencegah buang air besar, karena di sana tidak ada toilet.
  5. Tidak ada salahnya membawa jas hujan yang tipis, jika anda ke Pulau Sempu saat musim hujan.
  6. JANGAN membuang sampah sembarangan.
  7. Dan yang tidak kalah penting yang harus dibawa adalah Kamera

Find more photos https://www.facebook.com/media/set/?set=a.3951568040985.151269.1633665380&type=3

H-3 BackPacker Pulau Sempu & Bromo

H-3 BackPacker Pulau Sempu & Bromo

Wah makin gak sabar nih nunggu hari kamis. It’s time to visit Pulau Sempu dan Gunung Bromo. Kali ini saya akan melakukan perjalanan ‘seperti biasa backpacker murah meriah’ bersama anak-anak Backpacker Indonesia. Awalnya saat rencana trip ini dibuka, ada 30 orang peserta yang ikut gabung. Seiring waktu berjalan akhirnya hanya ada 26 orang yang insyaAllah positif ikut dalam trip ini, 17 orang peserta dari Jakarta, 7 orang dari Bandung, 1 orang dari Surabaya, dan 1 orang dari Jogja. Kenapa saya memutuskan ikut dalam trip ini ada 2 alasan, yang pertama karena memang saya sudah sangat ingin menikmati keindahan Bromo beserta perkampungannya, dan yang kedua adalah karena inisiator/ketua perjalanan kali ini berdomisili di Bandung.

Itinerary adalah sebagai berikut:

DAY 1 (Jum’at, 6 Juli 2012)
07.00 – 09.00 Meeting point dan persiapan camping
09.00 – 11.30 Perjalanan menuju Pantai Sendang Biru
11.30 – 13.00 Istirahat (Sholat Jum’at)
13.30 – 14.00 Menyebrang menuju Pulau Sempu
14.00 – 16.30 Tracking menuju Segara Anakan
17.00 – selanjutnya nge-Camp (bagian ini yang paling menyenangkan )

DAY 2 (Sabtu, 7 Juli 2012)
06.00 – 09.00 Basah2an di Segara Anakan, hunting2 photo (bagian ini juga tak kalah menyenangkan )
10.00 – 12.30 Tracking pulang menuju dermaga penjemputan kapal
13.00 – 13.30 Menyebrang menuju Pantai Sendang Biru
13.30 – 15.00 Istirahat (bebersih)
15.00 – 17.30 Perjalanan menuju Malang
18.30 – 21.00 Perjalanan menuju Bromo
22.00 – selanjutnya Istirahat di Homestay/Hotel/Villa

DAY 3 (Minggu, 8 Juli 2012)
03.15 – 04.30 Perjalanan menuju Penanjakan (Sunrise View Point) menggunakan Jeep
04.30 – 06.00 Menikmati Sunrise
06.30 – 09.00 Menuju destinasi lain (Explore Lautan Pasir / Savana)
09.00 – 10.00 Kembali menuju Homestay/Hotel/Villa
10.30 – 13.00 Perjalanan kembali menuju Kota Malang

Estimasi pengeluaran Malang – Pulau Sempu
 *Perhitungan ini untuk 29 orang, karena perhitungan ini dibuat sebelum tiga orang mengundurkan diri.
1. Sewa Tenda : 25.000 x 8 unit x 2 hr : 400.000,-
2. Sewa Matras : 1000 x 29 unit x 2 hr : 58.000,-  
3. Sewa Kompor : 25.000 x 2 unit x 2 hr : 100.000,-
4. Beli Gas : 25.000 x 2 pcs : 50.000,-   
5. Tip Pemandu   : 100.000 x PP : 200.000,-
6. Aqua botol : 3000 x 63 btl : 189.000,- (29 org x 2btl + 5 btl u/ msk)
7. Angkot Malang Sendang Biru PP x 3 unit : 1.800.000,-
8. Ijin Masuk sendang biru : 50.000,-
9. Tiket Masuk Sempu 6000 x 29 org : 174.000,-    
10. Sewa Kapal 100.000 x 3 unit : 300.000,- 
11. Belanja DLL  : 150.000,-
Estimasi pengeluaran Malang – Bromo
1. Sewa Elf 700.000 x 2 unit PP : 1.400.000,- 
2. Sewa Penginapan 400.000 x 2 unit : 800.000,-
3. Sewa Jeep 300.000 x 4 unit : 1.200.000,-
4. Tiket Masuk Bromo 6000 x 26 org : 156.000,-
 
Grand Total Biaya Sempu & Bromo : Rp. 7.027.000
Jadi perkiraan biaya yang dikeluarkan per orang adalah Rp. 257.000
 Nanti saya akan share lagi cerita perjalanan saya dan teman-teman Backpacker Indonesia. Semoga perjalanan kali ini menyenagkan dan lancar. Aminnn…
Peserta Regional Bandung