Pesona Jambi Yang Terlewatkan

Pesona Jambi Yang Terlewatkan

IMG_9579

Jambi, salah satu provinsi di Indonesia yang terletak di pulau Sumatera bagian tengah. Di bagian selatan berbatasan dengan Sumatera Selatan dan di sebelah barat berbatasan dengan Sumatera Barat dan Bengkulu. Perjalanan menuju Jambi bisa di tempuh melalui jalur darat dan juga udara. Lama perjalanan darat menggunakan bus kurang lebih 25 jam dengan jarak tempuh Jakarta – Jambi sekitar 895 KM. Memang membutuhkan waktu yang lama jika menggunakan kendaraan umum dikarenakan jalan berkelok-kelok. Jika menggunakan jalur udara dari Jakarta waktu yang dibutuhkan hanya 1 jam 15 menit.

Maskapai yang melayani penerbangan Jakarta – Jambi yaitu Garuda Indonesia, Lion Air, Sriwijaya Air atau Nam Air, Citilink, dan Wings Air. Selain dari dan menuju Jakarta, bandara Sultan Thaha Jambi juga melayani penerbangan dari dan menuju Batam, Pekanbaru, dan Palembang. Dan selain bandara Sultan Thaha yang berada di ibu kota, provinsi Jambi juga memiliki bandara Muara Bungo yang terletak di Rimbo Tengah, Kabupaten Muara Bungo. Bandara ini melayani penerbangan Jakarta – Muara Bungo, Jambi – Muara Bungo dan sebaliknya. Lion Air adalah maskapai yang melakukan penerbangan Jakarta – Jambi paling sering, yaitu enam kali sehari.

Jambi kurang bertaring dalam industri pariwisata. Jauh tertinggal dibandingkan dengan daerah tetangganya Sumatera Barat. Masyarakat Indonesia sepertinya kurang tertarik berkunjung ke Jambi entah karena pemerintah yang belum maksimal mengembangkan sektor pariwisata, entah karena sebagian besar orang mengindentikkan keindahan alam dengan pantai, air terjun, danau, atau perbukitan. Sebenarnya jika mau menelisik lebih jauh, selain gunung Kerinci, Jambi juga punya pesona yang patut diperhitungkan.

Sungai Batanghari Dan Alirannya

Saat berkunjung ke Jambi kita akan menemui banyak jembatan dan sungai besar maupun kecil tersebar di berbagai daerah. Jambi merupakan daerah yang memiliki banyak sungai, salah satunya sungai Batanghari yang merupakan sungai terpanjang di Sumatera, yaitu sekitar 800 km. Ada 22 sungai yang terdiri dari 12 sungai induk dan 10 anak sungai, dan semua sungai tersebut bermuara ke sungai Batanghari. Anak sungai yang menjadi aliran sungai Batanghari antara lain: Sungai Batang Merao, Batang Ning, Batang Manungkal, Batang Lempur, Batang Tabir, Batang Merangin, Batang Limun, Batang Asai, Batang Pelepat, Batang Jujuhan, Batang Bungo, Batang Tebo, dan lain-lain.

Salah satu usaha pemerintah untuk mengembangkan potensi wisata sungai Batanghari adalah dengan membangun Jembatan Pedestrian atau jembatan khusus penyebarangan orang yang memilik lebar 4,5 meter dan membentang sepanjang 503 meter di atas Sungai Batanghari, kota Jambi. Pada momen-momen peringatan kemerdekaan Indonesia atau HUT kota Jambi biasaya warga atau pemerintah setempat mengadakan lomba pacu perahu tradisional dibeberapa sungai besar di Jambi. Meskipun sungai-sungai besar lain di Jambi telah banyak mengalami sedimentasi akibat aktifitas pertambangan dan eksploitasi hutan, Batanghari dan alirannya masih merupakan pesona alam yang bisa kita jelajahi. Sungai-sungai besar dan kecil tersebar di pelosok daerah masih meyimpan keindahan. Kekayaan hasil sungai juga masih bisa kita nikmati. Sungai merupakan bagian pesona alam Indonesia yang masih menjadi urat nadi kehidupan masyarakat.

 

Tebo Yang Belum Tersentuh Pembangunan

Beberapa daerah di provinsi Jambi masih banyak yang jauh dari sentuhan pembangunan, Kabupaten Tebo salah satunya. Tebo merupakan pemekaran Kabupaten Bungo Tebo pada tanggal 12 Oktober 1999.Masih daerah ini banyak ditemukan jalan-jalan tak beraspal dan tanpa lampu penerangan jalan. Listrik tidak selalu menyala 24 jam, selalu saja padam diwaktu-waktu yang tidak beraturan. Di beberapa daerah penduduk bahkan harus mempunyai kendaraan sendiri untuk menunjang mobilitasnya, karena hampir tidak ada kendaraan umum yang beroperasi. Untuk persediaan air bersih kebanyakan penduduk memiliki sumur sendiri.

Sebagian besar masyarakat Tebo bergantung pada hasil pertanian dan perkebunan. Karet dan kelapa sawit menjadi tanaman perkebunan terbanyak bahkan masih terus bertambah. Tidak heran jika sepanjang jalan bahkan di sekitar rumah penduduk banyak ditemukan kebun karet dan kelapa sawit. Perkebunan kelapa sawit meskipun kadang menjadi salah satu permasalahan daerah, tapi dapat juga menjadi pemandangan alam yang indah. Ya menurut saya setidaknya daerah ini masih dipenuhi pepohonan dan bukan gedung-gedung pencakar langit. Saya pribadi sangat suka bermain di perkebunan, karena sejuk dan banyak aliran sungai yang jernih.

IMG_9575

Perkebunan Sawit Sejauh Mata Memandang

Selain berkebun, penduduk asli Jambi juga gemar beternak sapi dan kerbau. Sistem pemeliharaanya masih tradisional yaitu sistem lepas tanpa kendali. Tidak jarang kita harus berbagi jalan dengan binatang ternak. Ini adalah hal unik yang mungkin tidak ditemuai di kota-kota besar lain. Ada istilah di kalangan masyarakat Jambi yaitu “Umo bekandang siang sapi bekandang malam pagar tigo sebeban.” Artinya sawah dan ladang harus dipagar yang kuat, jika ternak masuk sawah/ladang pada siang hari maka ternak tidak boleh disalahkan. Itu masih berlaku hingga sekarang.

IMG_6653

Berbagi Jalan Dengan Ternak

Jadi, menurut saya pesona alam Indonesia bukan hanya keindahan pantai dan gunung. Tapi segala bentang alam termasuk segala unsur yang ada di dalamnya adalah kekayaan dan pesona alam Indonesia yang patut kita banggakan. Jika kalian ingin merasakan suasana alam yang tak tersentuh pembangunan; kehidupan masyarakat yang masih memegang erat adat dan budaya maka berkunjunglah ke pedalaman Jambi.

Galeri pesona Jambi :

 

 


Pantai Merah Jambu di Timur Indonesia

Pantai Merah Jambu di Timur Indonesia

Pada suatu pagi di akhir pekan, salah satu acara jalan-jalan di televisi yang dibawakan oleh Ruben Onsu dan Luna Maya menampilkan episode menjelajahi pantai dengan pasir berwarna merah jambu. Pantai itu dikenal dengan nama ‘Pink Beach’, berada di kawasan Taman Nasional Komodo NTT. Pemandangan di sekitar pantai membuat saya takjub. Pantai dikelilingi oleh gurun savanna yang gersang dan hanya ada beberapa pohon saja. Sepertinya di sana sangat panas, itu yang pertama terfikir di benak saya.

Setelah kejadian pagi itu, saya mulai browsing menggali segala informasi tentang Pink Beach. Semua informasi rute perjalanan, penginapan, sewa kapal, penerbangan, dan harga tiket semua sudah lengkap. Tidak bisa dipungkiri memang butuh modal yang tidak sedikit untuk mengunjungi Pink Beach. Kita perlu menyewa kapal yang harga sewanya sekitar dua juta rupiah agar bisa menikmati sensasi bermalam di tengah laut. Selain itu tidak banyak penerbangan yang menuju Labuan Bajo sebagai salah satu pintu masuknya. Dari Jakarta kita harus transit dulu di Denpasar. Maskapai penerbangan dari Denpasar yang mencapai Labuan Bajo antara lain yaitu Garuda Indonesia, Lion Air, dan Wings Air.

Impian saya untuk mengunjungi Pink Beach akhirnya dapat terwujudkan. Hari itu di bulan Agustus, Garuda Indonesia membawa saya menuju Denpasar, lalu dilanjutkan lagi menuju Bandara Labuan Bajo dengan pesawat Garuda Indonesia ATR 72 yang berukuran kecil. Setelah terbang sekitar satu jam lebih akhirnya sampai juga saya di Bandara Komodo Labuan Bajo. Owh Tuhan aku memuji Mu! Rasanya bisa menginjakkan kaki di Indonesia bagian timur ini luar biasa.

Dari bandara saya langsung menuju pelabuhan Labuan Bajo yang terkenal dengan keindahannya saat matahari terbenam. Setiba di dermaga kami langsung menaiki kapal dan siap berpetualang menjelajahi perairan Pulau Komodo. Tidak ada sejengkal pemandangan pun yang tidak membuat saya kagum. Airnya yang jernih, langit yang biru, pulau-pulau kecil yang bertebaran, dan bukit-bukit kokoh yang mengelilingi laut ini semuanya sangat mengagumkan.

Perahu mulai mendekati bibir pantai yang dari kejauhan terlihat jelas pasirnya berwarna pink. Ya Tuhan ini nyata! Saya telah sampai di tempat yang sudah lama saya impikan. Tapi sabar sebentar, karena untuk mencapai bibir pantai kita harus menyewa kapal kecil. Kapal besar tidak boleh mendekati bibir pantai dan tidak boleh melempar jangkar untuk melindungi koral-koral agar tidak rusak.

Kawasan Taman Nasional Komodo

Kawasan Taman Nasional Komodo

Pink Beach

Pink Beach

Setelah tiba di pinggir pantai saya langsung berenang dan mulai mengintip apa yang ada di balik air ini. Ikan yang berwarna-warni dan koral-koral yang terjaga dengan baik menambah pesona keindahan alam bawah laut pantai ini. Ombak cukup besar siang itu. Semakin berenang ke tengah semakin besar ombak menerjang tubuh saya. Lalu saya memutuskan istirahat sebentar di pinggir pantai. Nikmat sekali rasanya bisa bersantai di pantai yang indah dan sesepi ini. Bukit savanna yang gersang berdiri kokoh mengelilingi pantai ini. Cuaca panas yang sebelumnya saya bayangkan ternyata salah. Meskipun terlihat gersang tapi angin terus berhembus membuat udara terasa sejuk. Saya melihat bukit di sisi kanan tidak jauh dari pantai. Saya pun memutuskan untuk naik ke bukit tanpa alas kaki. Angin bertiup kencang di sana. Pemandangan menakjubkan terlihat jelas. Pasir yang berwarna pink dan gradasi warna air laut sungguh mempesona. Mahakarya yang Tuhan sentuhkan di tanah Flores ini luar biasa.

Pink Beach

Pink Beach

Setelah puas bermain di bukit saya kembali snorkeling. Saya terus mengikuti arah ikan berenang. Hingga tanpa sadar saya berenang terlalu jauh. Saya memutuskan berenang sampai kapal atas saran guide kami. Tapi ombak semakin tinggi dan keras menghempas badan saya. Saya nyaris kehabisan nafas. Hingga akhirnya salah seorang awak kapal menarik badan saya. Ini benar-benar berbuatan nekat dan pengalaman yang tidak bisa dilupakan.

Jika ditanya destinasi wisata mana lagi yang ingin saya kunjungi saya akan jawab ‘LOMBOK’. Lombok kini menjadi salah satu primadona destinasi wisata di Indonesia setelah Bali. Daerah yang terletak di NTB ini memiliki pantai-pantai yang tidak kalah indahnya. Selain itu akses menuju Lombok juga semakin mudah. Beberapa maskapai dari Jakarta yang menuju Lombok antara lain Garuda Indonesia, Lion Air, dan Batik Air. Bahkan saat ini Citilink melayani rute Bandung langsung menuju Lombok dengan harga terjangkau.

Ada beberapa destinasi wisata di Lombok yang ingin saya kunjungi. Salah satunya adalah Pulau-pulau Gili yang terletak di lepas barat laut Pulau Lombok. Ada tiga pulau di kawasan ini yang keindahannya tidak diragukan, yaitu Gili Air, Gili Meno, dan Gili Trawangan. Pemandangannya sangat indah, pasirnya berwarna putih, dan biota lautnya beraneka ragam. Selain itu beberapa destinasi wajib seperti Pantai Kuta, Senggigi, Batu Bolong, Batu Layar, dan banyak tempat wisata lain di Lombok yang juga sayang jika dilewatkan.

Saat mengunjungi Lombok suatu hari nanti saya akan kembali memilih maskapai Garuda Indonesia untuk mengantarkan saya ke sana. Meskipun harganya lebih tinggi dibanding maskapai yang lain, tapi itu sebanding dengan kenyamanan yang didapatkan. Bisa memotret awan di ketinggian ribuan kaki berdampingan dengan sayap Garuda adalah sudatu seni tersendiri menurut saya. Semoga saja impan ini kembali dapat dengan cepat terwujud. Amin!

Garuda Indonesia

Garuda Indonesia

Pulau Komodo – Saat Ucapan Menjadi Nyata

Pulau Komodo – Saat Ucapan Menjadi Nyata

Pernah suatu ketika saya merasa lelah saat harus mengurus sendiri rencana perjalanan ala backpacker bersama teman-teman. Meskipun ala backpacker, tapi menurut saya tetap saja harus ada sedikit perencanaan dan mengantongi informasi tentang daerah tujuan yang hendak dikunjungi. Perencanaa itu perlu agar waktu berpetualang yang singkat dan budget yang minim tidak menjadi sia-sia tanpa kegiatan yang jelas. Setiap hendak bepergian informasi yang saya butuhkan antara lain kegiatan apa saja yang akan dilakukan, tempat mana saja yang akan dikunjungi, bagaimana transportasi menuju daerah tujuan, dan kebutuhan khusus apa yang kira-kira akan dibutuhkan, dan semua hal itu saya yang bertanggung jawab mengurusnya. Teman-teman saya hanya tinggal duduk manis dan mengikuti apa saja yang saya lakukan. Beberapa kali saya melontarkan keinginan, “Gantian dunk yang jadi TL jalan-jalannya. Aku juga kan pengen liburan tinggal duduk manis.” Kali lain saya juga pernah menyampaikan angan-angan saya pada teman saya, “Pengen deh sesekali liburan mewah, pakai topi gede terus duduk manis di atas yacht sambil minum jus jeruk dingin berpose ala artis-artis gitu.” Kedengarannya sih berlebihan sekali ya.

Nenek moyang teman saya pernah bilang kalau ucapan adalah doa. Saya rasa kadang-kadang ada benarnya. Ya seperti yang saya alami, ya saya bilang ada benarnya karena kali ini saya yang mengalami :D. Ketika ucapan-ucapan saya yang meluncur begitu saja seperti panah Arjuna pada akhirnya terwujud. Suatu sore saya mendapat kabar kalau teman saya mendapat hadiah jelajah nusantara dari salah satu pusat perbelanjaan dan mengajak saya untuk perjalanan gratis ini.. Dan yang lebih meluluhlantakkan hati ini adalah saya bisa memilih sendiri waktunya dan memilih salah satu daerah tujuan yang telah ditetapkan.. Pilihan destinasi yang ditawarkan adalah Jogja, Bromo, Belitung, Manado, Derawan, dan Labuan Bajo – Pulau Komodo. Wow ternyata begini rasanya menang undian, deg-degan dan sering senyum-senyum sendiri setiap waktu. 😀

Komodo Island

towards to Komodo Island

Saya langsung searching untuk mengecek destinasi mana yang paling mahal, mumpung gratis jadi harus pilih daerah tujuan dengan biaya akomodasi yang paling mahal. Meski gratis tapi tetep ngga mau rugi haha. Awalnya saya ngebet pengen ke Derawan, dengan alasan Derawan adalah The Second Raja Ampat dan biaya transportasi ke sana juga masih tergolong mahal. Tapi setelah difikir-fikir ke Derawan memakan waktu perjalanan yang cukup lama, harus beberapa kali ganti kendaraan. Akhirnya demi menghemat waktu perjalanan, diputuskan lah untuk memilih destinasi Labuan Bajo – Pulau Komodo.

towards to Komodo Island

towards to Komodo Island

Saya sudah banyak membaca tentang Labuan Bajo dan sudah paham betul transportasi menuju ke sana. Tapi saya masih fakir informasi tentang Pulau Komodo. Bila menyebut nama Flores yang langsung ada di benak saya adalah Pink Beach dan Labuan Bajo dengan segala keindahannya. Pink Beach lah yang paling ingin saya kunjungi. Saya fikir Pulau Komodo tidak jauh berbeda dengan taman nasional lainnya, hanya saja memiliki kelebihan karena dihuni binatang purba Komodo. Ternyata prasangka saya salah besar! Bumi Flores memang luar biasa. Sekitar tiga jam berlayar dari Labuan Bajo menuju Pulau Komodo setiap jengkalnya alam memanjakan saya dengan pemandangan yang tidak biasa. “Awesome” kalau orang bule bilang. Dan saya kehabisan kata-kata untuk menggambarkan keindahannya. Langit biru muda, air laut biru tua, lumba-lumba, perbukitan gurun savana di sepanjang perjalanan, kapal wisata yang lalu lalang semuany menakjubkan.

Komodo Island

Komodo Island

Dan perjalanan kali ini saya benar-benar merasakan nikmatnya jalan-jalan mewah, jadi ketagihan :D. Terbang dengan Garuda Indonesia yang fasilitasnya sudah tidak diragukan lagi. Pesawat yang jarang saya lirik karena harganya yang diluar jangkauan ini akhirnya yang mengantarkan saya pulang pergi dari Jakarta hingga Labuan Bajo. Sejak mendarat di bandara Labuan Bajo hingga ketika hendak kembali lagi ke Jakarta semua ada yang melayani. Pak Martin dengan papan namanya seperti di film-film telah menunggu saya di depan bandara. Dan saya tidak pernah menjingjing tas saya sendiri, bahkan membuka pintu mobil pun dilakukan oleh pihak travel agent Garuda Indonesia Holiday. Empat kru kapal melayani kami dengan baik. Makanan selalu memenuhi meja, meskipun dimasak oleh laki-laki tapi nikmatnya harus mendapat pengakuan. Pisang goreng dan secangkir teh manis juga selalu tersedia di meja. Alam semesta pun mendukung dengan langitnya yang manghadirkan pelangi, bintang-bintang, dan full moon yang luar biasa malam itu. Jika selama ini saya selalu mencari penginapan dengan harga termurah, bahkan kadang-kadang tidur di teras masjid, tapi hari ini saya menikmati fasilitas hotel bintang empat dengan free alias gratis! Dan living on board yang konon mahal juga bisa saya nikmati dengan free free free.. Wow! I feel like a rich girl for 3 nights! That day was an absolutely gorgeous day in my life!

Towards to Labuan Bajo

Towards to Labuan Bajo

Itu lah salah satu mimpi saya yang menjadi nyata tanpa kerja dan usaha sama sekali untuk mewujudkannya. Tapi jika Tuhan sudah berkehendak terjadi, maka terjadilah! Sejak saat itu saya berhati-hati saat berucap. Saya berusaha sebisa mungkin mengucapkan kata-kata yang baik ‘ingat ucapan adalah doa meski kadang diucapkan dengan tidak serius :D’‘, agar jika malaikat lewat saat kita berucap maka perkataan baik itulah yang Tuhan jadikan nyata.

Happy dreaming!

La Prima Hotel

La Prima Hotel

Labuan Bajo – Menyentuh Bumi Flores

Labuan Bajo – Menyentuh Bumi Flores

Labuan Bajo merupakan ibu kota dari Kabupaten Manggarai Barat yang terletak di ujung barat Pulau Flores, Provinsi Nusa Tenggara Timur. Pelabuhan kecil Labuan Bajo merupakan salah satu pintu gerbang menuju Pulau Komodo habitat asli reptilia komodo (Varanus komodoensis).

8 Agustus 2014, perjalanan dimulai dari Bandara Soekarno Hatta Jakarta pukul 07.00 pagi. Dan rasanya masih seperti mimpi hari itu pukul 14.00 akhirnya saya bisa menginjakkan kaki di Bandar Udara Komodo Labuan Bajo. Penerbangan dengan Garuda Indonesia dari Jakarta menuju Denpasar lalu Labuan Bajo meskipun memakan waktu cukup lama namun tidak terasa membosankan. Fasilitas dan pelayanan maskapai kebanggaan Indonesia ini cukup sebanding dengan harganya, dan kali ini saya menikmati ini semua dengan GRATIS 😀 Selama penerbangan Jakarta – Denpasar saya memilih menonton acaranya Ramon Y. Tungka dan Tim 100 Hari Keliling Indonesia, sesekali bermain game dan sesekali memandang keindahan panorama alam Indonesia yang samar terlihat dari ketinggian. Pemandangan alam yang terlihat dari ketinggian terbang pesawat khususnya selama penerbangan dari Denpasar menuju Labuan Bajo luar biasa indah, pulau-pulau dan laut terlihat cukup jelas. Benar-benar pemandangan yang jauh berbeda jika dibandingkan dengan penerbangan menuju Sumatera yang lebih sering tak terlihat apa-apa selain awan putih yang tentu saja tak kalah indahnya.

Pemandangan Denpasar - Labuan Bajo

Pemandangan Denpasar – Labuan Bajo

Bandara Labuan Bajo

Bandara Labuan Bajo

Ini kali pertama saya mengunjungi kepulauan Nusa Tenggara, dan sekaligus pertamakali merasa terasing di negeri sendiri. Karena sejak di pesawat hingga di Bandara Labuan Bajo jarang sekali saya temui wisatawan lokal, sekitar 80% lebih adalah wisatawan asing. Bahkan penumpang pesawat Garuda dari Denpasar ke Labuan Bajo yang datang sebagai wisatawan lokal hanya saya dan teman saya saja, dua keluarga penduduk lokal Labuan Bajo, dan sisanya wisatawan asing. Ini merupakan pemandangan baru buat saya, berwisata di negeri sendiri namun didominasi wisatawan asing. Dan semua ini tentu saja disebabkan biaya perjalanan yang sangat mahal.

Perjalanan kali ini terasa luar biasa istimewa, karena kegiatan jelajah nusantara ke Labuan Bajo – Pulau Komodo ini dibiayai oleh Carrefour dan seluruh kegiatan telah diatur oleh Garuda Indonesia Holiday. Setelah tiba di Bandara Labuan Bajo yang masih dalam proses renovasi kami langsung dijemput oleh pihak Garuda Indonesia Holiday yaitu Bapak Martin yang bertugas sebagai guide, dan kami langsung diantar menuju tempat penyewaan alat snorkeling. Setelah menikmati Labuan Bajo dari atas, kami lalu menuju pelabuhan untuk langsung menaiki kapal menuju Pulau Komodo. Proses menaiki kapal ini cukup dramatis, yang pertama ketika akan menaiki kapal saya dibuat agak deg-degan luar biasa. Bayangkan saja saya hanya berdua dengan teman saya yang juga perempuan, dan kami harus naik kapal dan juga bermalam di kapal bersama lima laki-laki kru kapal dan guide penduduk asli Flores. Kesan pertama sangat menyeramkan melihat wajah mereka terutama sang kapten kapal, tidak ada kesan ramah ditambah faktor bahasa yang tidak saya mengerti. Dan ternyata kesan pertama memang tak selalu benar, mereka para kru kapal sangat ramah dan baik, sang kapten ternyata seorang yang berwajah Rambo tapi berhati Rinto. Hal dramatis ke dua adalah kami harus turun dari atas pelabuhan menuju kapal dengan mnggunakan tangga yang hampir berdiri tegak 180° dan kondisi kapal yang terus bergoyang dihempas ombak. Ini cukup mengerikan meski tak sedramatis hal yang pertama. 😀

Labuan Bajo

Labuan Bajo

Labuan Bajo

Labuan Bajo

Labuan Bajo

Labuan Bajo

Bersama Kru Kapal

Bersama Kru Kapal

Suasana pelabuhan juga sedang dalam proses renovasi. Menurut informasi dermaga angkutan barang seperti peti kemas dan lain-lain akan dipindahkan ke tempat lain, jadi Labuan Bajo akan digunakan untuk angkutan penumpang atau wisatawan saja. Kota Labuan Bajo tidak seramai yang saya banyangkan, benar-benar hanya sebuah kota kecil. Saya fikir daerah ini ramai seperti tempat wisata pada umumnya yang dipenuhi pedagang oleh-oleh dan makanan khas. Ternyata sangat sulit menemukan toko yang menjual oleh-oleh di sini, pasar lebih didominasi oleh tempat penyewaan alat snorkeling atau diving dan toko-toko kelontong seperti pasar tradisional pada umumnya. Pada malam hari penjual makanan pun tidak terlalu banyak, hanya ada beberapa penjual bakso, nasi goreng, rumah makan padang, dan penjual gorengan. Setiap suduk kota banyak tukang ojeg yang siap mengantar kita kemana saja dengan biaya terjangkau.

Kota Labuan Bajo

Kota Labuan Bajo

Setelah kembali dari Pulau Komodo kami menginap di hotel La Prima Labuan Bajo, dan fasilitas menginap di hotel pun kami nikmati secara gratis. Hotel ini terletak cukup jauh dari Pelabuhan dan pasar, dan pada malam hari suasana sangat sunyi ditambah belum banyaknya lampu penerang jalan. Meskipun kecewa tidak bisa menikmati matahari tenggelam dari Labuan Bajo yang terkenal indah, tapi saya cukup terhibur dengan pemandangan yang tampak dari jendela hotel tempat kami menginap. Liburan gratis dan mewah ini memberikan banyak sekali pengalaman dan pengetahuan baru buat saya. Dan membuat saya ingin kembali lagi ke bumi NTT untuk mengunjungi Sumba yang konon keindahannya juga sangat menakjubkan. *dream and pray*

La Prima Hotel - Labuan Bajo

La Prima Hotel – Labuan Bajo

La Prima Hotel - Labuan Bajo

La Prima Hotel – Labuan Bajo

La Prima Hotel - Labuan Bajo

La Prima Hotel – Labuan Bajo

“Simpan mimpimu dalam hati, genggamlah dengan erat, dan biarkan Tuhan yang mewujudkannya untukmu©duniarahmi