Vaseline Healthy White Fresh and Fair Lotion Bikin Adem

Vaseline Healthy White Fresh and Fair Lotion Bikin Adem

duniarahmi-vaseline

Salah satu produk perawatan kulit yang pasti selalu saya bawa saat traveling adalah body lotion. Karena saya sadar tidak hanya kulit wajah yang wajib dijaga, tapi juga seluruh tubuh, khususnya tangan dan kaki. Meskipun menggunakan busana tertutup, perawatan kulit tubuh dengan menggunakan body lotion tetap diperlukan untuk melembapkan kulit dan menutrisinya, terutama saat beraktivitas di luar ruangan. Hanya saja yang jadi masalah, saya sering lupa dan malas menggunakan body lotion saat sedang traveling. Saya sering merangkap sebagai juru foto dan guide yang terkadang tidak punya banyak waktu untuk menggunakan body lotion. Apalagi beberapa body lotion yang saya gunakan dulu cenderung memberi rasa lengket dan tidak dapat menyerap dengan cepat. Jadi, setelah pakai body lotion di tempat dengan iklim panas malah membuat tubuh jadi tambah gerah dan tidak nyaman.

Jadi, untuk pemilihan body lotion tidak saya lakukan dengan asal, agar tetap nyaman saat beraktivitas. Dan saat liburan ke Jogjakarta yang panas kemarin saya membawa Vaseline Healthy White Fresh and Fair Lotion. Produk Vaseline terbaru ini sesuai dengan kebutuhan saya. Kemasannya sama seperti varian Vaseline lainnya, praktis dan mudah dibawa kemana-mana. Aromanya lembut dan teksturnya benar-benar ringan di kulit. Formulasi khususnya membuat lotion cepat menyerap dengan cepat, tidak lengket, dan langsung meberikan kesejukan seketika saat diaplikasikan di kulit. Senang sekali, sekarang tidak butuh waktu lama untuk merawat kulit tubuh dengan body lotion. Vaseline Healthy White Fresh & Fair Lotion benar-benar pilihan tepat, tidak hanya membuat kulit saya jadi lebih cerah tanpa rasa lengket, tapi wanginya juga segar plus ada cooling sensation-nya yang bikin nyaman. Dari sekian banyak hand & body lotion, produk ini lah yang ketika dipakai langsung memberikan sensasi dingin.

Ketika Akhirnya Berdiri di Puncak Padar

Ketika Akhirnya Berdiri di Puncak Padar

Tahun 2018 masih bingung mau traveling kemana? Jangan bingung-bingung. Saat ini sudah banyak situs yang menyediakan artikel seputar travel dan wisata. Tapi ingat, agar tidak kecewa setelah jauh-jauh traveling ke tempat impian dan ternyata tidak sesuai dengan harapan atau menghadapi banyak permasalahan, maka pastikan untuk membaca artikel tentang travel dan tempat wisata yang terpercaya dan ter-update. Jangan lupa pula untuk mengumpulkan banyak informasi dan tips-tips sebelum menuju tempat yang kita impikan. Saya sendiri biasanya sebelum traveling selalu mengumpulkan informasi tentang cuaca atau iklim tempat tujuan, transportasi lokal, tempat-tempat yang keren, apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan, juga informasi tentang kuliner yang harus dicoba. Semakin banyak informasi yang dikumpulkan maka akan semakin banyak aktivitas pilihan yang bisa kita lakukan selama traveling.

Akhir tahun kemarin saya kembali mengunjungi destinasi impian banyak orang, yaitu Labuan Bajo di Nusa Tenggara Timur. Sebenarnya tahun 2014 saya sudah pernah traveling kesini, namun karena waktu itu kurang persiapan akhirnya saya merasa tidak maksimal mengeksplorasi tempat tersebut. Saat itu saya fikir cuaca akan panas selama live on board sehingga saya tidak membawa jaket dan saya juga lupa membawa obat-obatan. Tapi ternyata udara sangat dingin dan akhirnya saya pun masuk angin. Meskipun ini adalah penyakit yang dianggap sepele, tapi cukup mengganggu kenikmatan traveling. Dan karena saat itu kondisi saya kurang fit makanya selama 3 hari 2 malam saya hanya mengunjungi tiga tempat, yaitu Pulau Rinca, Pink Beach, dan Pulau Komodo.

Dermaga Labuan Bajo

Belajar dari kesalahan traveling sebelumnya, saya banyak mengumpulkan informasi terutama tentang kondisi cuaca dan tempat-tempat yang wajib di-eksplore selain ketiga tempat yang pernah saya kunjungi sebelumnya. Traveling kemarin saya pergi dengan hati senang. Kenapa? Karena, jika dulu saya hanya pergi berdua, kemarin saya pergi berempat dengan sahabat-sahabat dekat sehingga suasana lebih ramai dan menyenangkan. Persiapan juga lebih matang. Ketakutan mabuk laut dan tidak nafsu makan seperti dulu selama live on board sama sekali tidak terjadi. Banyak hal yang dulu tidak berani saya lakukan, kemarin justru jadi hal yang senang saya lakukan. Salah satunya adalah duduk di ujung kapal selama kapal berlayar.

 

Hari itu setibanya di Labuan Bajo kita langsung berlayar dan tempat pertama yang kami kunjungi adalah Pulau Kelor. Di Pulau Kelor terdapat sebuah bukit kecil, tapi cukup curam. Tidak mudah memang untuk sampai di puncaknya, dan kita pun harus berhenti beberapa kali untuk mengambil nafas. Apalagi tidak ada yang bisa dijadikan pegangan selain bebatuan yang kita jadikan sebagai pijakan juga. Tapi setelah sampai di atas bisa dilihat sendiri bagaimana indahnya pemandangan di bawah sana. Semakin syahdu oleh angin sepoi-sepoi yang berhembus di atas bukit pulau ini. Saat berada di puncak dengan lukisan alam seindah ini rasanya tidak ingin turun cepat-cepat, apalagi untuk menuruni bukit ini butuh tenaga lebih ekstra lagi. Karena kita benar-benar harus kuat menapakkan kaki pada batu pijakan sambil menahan beban tubuh dan bukan beban hidup. Hehe. Bahkan salah satu teman saya harus dipegangi oleh dua orang saat menuruni bukit ini. Kegiatan di tempat ini bukan hanya trekking ke atas bukit. Di tempat ini kita juga bisa melakukan aktivitas snorkeling. Kemarin setelah turun dari bukit saya memilih duduk santai di bawah pohon, setelah itu pindah duduk santai di atas pohon yang tumbuh di pinggir pantai sementara teman yang lain memilih snorkeling.

Setelah dari Pulau Kelor kita lanjut berlayar menuju Pulau Kalong. Tepat saat matahari mulai terbenam kita tiba di sana.  Dan sore yang indah itu saya ditemani kopi dan pisang goreng. Dengan udara yang semakin dingin kita memilih duduk-duduk di bagian atap kapal sambil menyaksikan ribuan bahkan mungkin jutaan kalong yang beterbangan di atas kepala dan di bawah langit yang berubah jingga. Saya tidak pernah membayangkan sebelumnya jika jumlah kalongnya sebayak itu dan sebesar-besar itu. Ini sungguh menakjubkan sekali. Dan malam itu kita bermalam di atas kapal di Pulau Kalong lengkap dengan sajian makan malam yang jika mengingatnya rasanya ingin kembali lagi dan lagi kesana.

 

Keesokan harinya kapal kembali berlayar menuju Pulau Padar. Ini pulau yang paling sangat ingin saya datangi. Karena keeksotisan pemandangannya membuat saya jatuh cinta berkali-kali meski awalnya hanya melihat di foto. Pulau Padar adalah pulau ketiga terbesar di kawasan Taman Nasional Komodo. Letaknya berada di antara Pulau Rinca dan Pulau Komodo. Untuk menikmati panorama yang seindah ini harus trekking dengan medan yang tidak sulit namun cukup panjang dan melelahkan. Dan pagi itu setelah subuh kita berlayar menuju Pulau Padar ditemani ikan-ikan Lumba-Lumba yang menari-nari tidak jauh dari kapal. Bisa dibayangkan bagaiman kerennya pagi itu! Lalu sekitar jam 07.00 pagi kita tiba di Pulau Padar dan langsung trekking ditemani matahari pagi tanah Flores yang sungguh luar biasa semangatnya. Apalagi saat itu suhu udara sedang tinggi, yaitu berkisar 36°C, membuat perjuangan untuk sampai ke puncak ini bukanlah perkara mudah. Tidak ada pohon rindang, jadi duduk dibalik bongkahan batu besar adalah cara paling nyaman untuk sejenak menghindari ganasnya sinar matahari. Tapi demi bisa mengabadikan momen dan membayar rasa penasaran, akhirnya dengan berat badan saya langkahkan kaki dengan penuh semangat. Meskipun harus berhenti berkali-kali saat menemukan lokasi yang strategis. Iya, berhenti di lokasi strategis untuk duduk, minum, dan selfie seperti ini.  Cekrek.. Cekrek.. Upload!

 

Puas rasanya akhirnya bisa berdiri di bukit Pulau Padar dengan pemandangan panorama “TIGA DANAU” di laut Flores yang fenomenal. Selain ke Pulau Kelor, Pulau Kalong, dan Pulau Padar, saya juga mengunjugi Pulau Komodo, Pulau Kanawa, Pink Beach, Goa Batu Cermin. Dan ini adalah salah satu traveling yang paling seru, keren, menyenangkan, berkesan, tak terlupakan, dan entah dengan kata apa lagi yang sepadan dengan perasaan puas saya pada traveling kali itu.

 

Setiap tahun saya selalu punya resolusi destinasi baru yang ingin saya jelajahi. Dan Alhamdulilah banyak yang sudah terwujud. Itulah mengapa saya senang mengabadikan resolusi di dalam tulisan, karena yakin alam akan berkonspirasi untuk mewujudkannya. Dan tahun ini destinasi wisata yang masuk dalam resolusi saya adalah Jepang. Alasannya adalah karena saya bisa berbahasa Jepang. Ini serius. Meskipun kuliah di jurusan Bahasa Jepang tapi dulu saya tidak begitu tertarik pergi ke Jepang, karena lebih ingin pergi ke Italia. Sekarang saya ingin ke Jepang, ada banyak alasan, antara lain ingin mengeksplore kuliner dan tempat-tempat wisata warisan dunia di kota Nikko, Jepang. Keinginan itu tercipta setelah saya sering berkomunikasi dengan teman dunia maya yang merupakan orang Jepang dan tinggal di Nikko.

Resolusi 2018 Dunia Rahmi

Sebagai langkah awal untuk mewujudkan keinginan adalah seperti yang saya tulis di awal, yaitu mengumpulkan informasi sebanyak-banyaknya. Ada salah satu artikel yang sesuai dengan informasi yang saya cari, yaitu tentang Tips Traveling ke Jepang untuk Pemula: ”12 Hal yang perlu Anda Ketahui Sebelum Traveling ke Jepang untuk Pertama Kali” Informasi seperti ini sangat penting, apalagi untuk traveling ke luar negeri pertama kali yang secara bahasa, budaya, dan kebiasaannya jauh berbeda dengan negeri sendiri. Agar traveling dapat berjalan baik dan meninggalkan kesan yang menyenangkan maka banyak-banyak lah membaca berbagai informasi tentang destinasi yang akan kita tuju. Dan jika masih bingung ingin traveling kemana, maka rajin-rajin lah mencari informasi destinasi wisata yang sedang naik daun atau yang sesuai keinginan. Dan semua informasi itu bisa didapat di situs Liputan6.com, yaitu sebuah situs yang menyajikan beraneka ragam informasi pilihan bagi para penggunanya, dengan slogan: Aktual, Tajam, dan Terpercaya.

Happy Traveling and enjoy every journey!

 

Mereka Tanya Kapan Kawin

Mereka Tanya Kapan Kawin

 

duniarahmi

duniarahmi – I am not afraid of to being alone

“Kapan kawin?”

Itu lah pertanyaan yang beberapa tahun terakhir ini sering saya dengar, tepatnya ketika memasuki usia yang seharusnya menikah –menurut standar orang lain-. Awalnya saya tidak merasa terganggu dengan pertanyaan-pertanyaan seperti itu. Toh saya masih merasa nyaman dengan status belum menikah. Dan lagi pula masih banyak hal-hal yang masih ingin saya lakukan di usia saya saat ini. Bukan mengejar karir, bukan pula soal mengejar dunia, tapi mengejar sesuatu yang membuat hati saya mencapai pucak bahagia.

Dulu, saat masih kuliah saya memiliki rencana ingin menikah saat usia 26 tahun. Namun semua orang tahu manusia hanya dapat berencana, Tuhan yang menentukan. Ketika selesai kuliah, saya langsung bekerja di sebuah perusahaan asing. Sejak saat itu kehidupan saya hanya fokus untuk bekerja bekerja dan bekerja demi membantu biaya sekolah kuliah adik-adik saya. Selain itu saya juga mulai menggandrungi hobi backpacker/traveling yang memang pernah jadi impian saya saat kecil. Sehingga saat hari libur saya gunakan untuk backpacker-an bersama teman-teman komunitas Backpacker Indonesia.

Seiring dengan kemajuan teknologi dan berkembangnya sosial media, saya dapat kembali bertemu dengan teman-teman saat sekolah dan saat masih berada di Sumatera dulu. Tentu saja saya merasa senang dapat berkomunikasi lagi dengan teman-teman lama. Bahkan kami sedikit banyak dapat saling melihat kehidupan masing-masing melalui berbagai sosial. Hal yang awalnya saya syukuri ini akhirnya malah membuat saya jengah. Pertanyaan “Kapan kawin?” semakin sering terdengar. Ada yang hanya sekedar bertanya, namun banyak juga yang berujung dengan ceramah panjang lebar. Ada yang menasehati dengan baik dan penuh empati, namun lebih banyak yang menghakimi. Dan yang paling membuat saya kesal adalah tuduhan bahwa saya belum menikah karena terlalu pilih-pilih dan mengejar kesempurnaan. Dan semua ini pada akhirnya membuat saya lebih sering menghindari acara-acara reuni dan tidak banyak berinteraksi lagi dengan teman-teman lama baik melalui dunia nyata maupun grup di sosial media. Saya lebih suka bertemu dengan orang-orang baru yang tidak pernah memusingkan soal kehidupan pribadi dan pilihan hidup.

Awalnya memang pertanyaan “Kapan kawin?” saya jawab dengan santai.

Ini beberapa contoh pertanyaan yang sering saya dengar,

“Kapan akan menikah?”

Saya akan jawab, “Besok kalau tidak hujan.” Atau “Tahun depan, ditunggu saja.”

“Kapan nikah? Mau nunggu apa lagi? Usia sudah semakin bertambah, semakin banyak saingan yang muda-muda.”

Saya jawab, “Sabar. Saya saja yang menjalani sabar, kenapa kamu yang hanya tinggal nonton tidak sabar.”

“Kapan nikah? Apa mau sendiri terus? Nanti kalau tidak punya anak siapa yang akan mengurus kamu saat tua.”

Dan saya akan jawab, “jadi kamu punya anak hanya berharap ada yang megurus saat tua? Nih, tetangga saya, punya anak empat dan semuanya meninggal saat muda, dan akhirnya orang tuanya hidup sebatang kara saat tua. Banyak juga orang tua yang terlantar karena anaknya tidak mau mengurusnya. Masalah tua ada yang mengurus atau tidak, itu sudah jalan hidup yang tertulis.

Dan banyak cara bertanya yang kadang membuat saya marah. Biasanya pertanyaan ini muncul dari orang-orang yang sebenarnya tidak bahagia dalam pernikahannya. Biasanya mereka akan bertanya begini,

“Kapan nikah? Nikah tuh enak lho, orang bilang surganya dunia. Kalau tidur jadi hangat karena punya selimut berjari (awalnya saya tidak mengerti ungkapan ini). Dan Bla..bla..bla..”

Dan saat pernyataan seperti ini muncul, saya biasanya akan jawab, “Saya tidak seperti kamu, hidup hanya mengurusi soal selangkangan.” Dan mereka pun diam.

Suka-atau tidak suka, saya hidup di negara yang mayoritas penduduknya masih menganggap belum menikah saat kepala tiga itu hal yang memalukan bahkan mnyedihkan. Bahkan banyak stereotipe yang berkembang yang mengatakan perawan tua memiliki masalah psiklogis, mudah marah, jika menjadi guru ia akan menjadi guru yang killer, dan mereka akan selalu merasa dengki. Bahkan Ayu Utami dalam bukunya yang berjudul ‘Si Parasit Lajang’ mengatakan wanita yang belum menikah itu ibarat Parasit Lajang yang numpang di rumah orang tua, seharian bekerja, malam tidur, tanpa berfikir untuk masak atau mengurus taman.

Sebenarnya bagi saya hidup itu mengalir saja, yang penting bahagia. Dan hidup bahagia memiliki banyak cara, bukan hanya dengan menikah. Namun pertanyaan-pertanyaan “Kapan kawin?” yang terkadang melukai perasaan. Pertanyaan itu yang kadang memaksa saya untuk menyadari dan memikirkan sesuatu yang awalnya wajar-wajar saja. Meskipun saya juga masih berharap suatu saat nanti Tuhan akan mempertemukan dengan orang yang membuat saya merasa nyaman dan menjalani hidup bersama hingga mati. Namun saya tidak ingin memaksakan diri menikah hanya karena tidak sanggup lagi mendengar pertanyaan “Kapan kawin?”

Jadi, jangan tanya lagi kapan saya kawin! Bukankah lebih mulia mendoakan dalam hati dari pada bertanya sekedar basi-basi tapi sangat melukai.

DSC_5433

duniarahmi – LEARNING TO DANCE IN THE RAIN