Tim Backpacker Garis Keras

Tim Backpacker Garis Keras

Ruang Tunggu Terminal 3 Soeta

Ruang Tunggu Terminal 3 Bandara Soeta

Setiap orang punya gaya traveling yang berbeda-beda sesuai dengan kepribadiannya. Begitupun dengan saya yang telah mencintai hobby ini sejak remaja. Untuk soal traveling saya lebih suka ala backpacker dengan segala sesuatu saya kerjakan sendiri dari awal. Biasanya ketika hendak memutuskan traveling ke suatu tempat maka langkah yang pertama saya lakukan adalah mencari travelmates. Saya tipe orang yang anti solo traveling. Prinsip saya adalah “Traveling is awesome. But, traveling with friends is more awesome”.

Meskipun anti solo traveling bukan berarti saya suka traveling dengan banyak teman. Saya lebih nyaman traveling dengan satu sampai tiga teman saja dan tidak lebih. Nah, setelah menemukan teman, langkah selanjutnya adalah mengumpulkan informasi tentang transportasi dan akomodasi. Untuk tempat tujuan yang membutuhkan tiket pesawat atau kereta maka saya bisa hunting berhari-hari untuk menemukan harga tiket yang termurah. Dan biasanya saya booking tiket maksimal dua minggu sebelum keberangkatan. Setelah tiket di tangan itu tandanya 98% rencana perjalanan siap dieksekusi.

Setelah itu langkah selanjutnya adalah mencari tempat penginapan yang recommended berdasarkan review di blog atau aplikasi booking penginapan. Penginapan saya booking minimal seminggu sebelum hari keberangkatan. Tapi untuk beberapa tempat yang banyak pilihan penginapannya saya lebih memilih untuk mencari penginapan saat telah sampai di tempat tujuan. Setelah itu, langkah selanjutnya adalah mengumpulkan informasi tentang trasnportasi selama di tempat tujuan. Dan untuk soal ini saya memilih untuk menyewa kendaraan roda dua agar lebih bebas saat mengeksplore tempat tujuan.

Luwansa Beach Resort Labuan Bajo

Luwansa Beach Resort Labuan Bajo

Setalah booking tiket, peginapan, dan sepeda motor beres, maka langkah selanjutnya adalah membuat itinerary. Saya mengumpulkan informasi tempat-tempat yang akan dikunjungi, rute perjalanan, suhu udara, dan lain-lain. Meskipun terkadang apa yang dilakukan saat di tempat tujuan tidak selalu sesuai dengan itinerary, tapi bagi saya itinerary itu penting agar tidak bingung apa yang akan dilakukan disana. Setelah itinerary dibuat maka saatnya membuat daftar barang bawaan. Ini juga hal penting yang tidak pernah saya lewatkan. Karena saya tidak suka ribet dan tidak suka membawa banyak barang saat bepergian. Makan daftar barang bawaan akan saya buat dengan rincian pakaian yang akan dipakai saat berangkat hingga pulang. Lalu pakaian-pakaian itu akan saya pisahkan dan masukkan ke dalam plastik klip sesuai harinya, misalnya pakaian hari pertama, kedua, dan seterusnya.

Selanjutnya list peralatan mandi dan skin care. Sabun cair, sampho, dan hand body saya masukkan dalam botol-botol kecil sekitar 10 hingga 20 ml saja. Dan selanjutnya perintilan yang lain seperti charger, powerbank, buku, jas hujan, tumbler, dan lain-lain sesuai kebutuhan. Dengan menulis daftar rincian saya benar-benar hanya akan membawa barang-barang yang memang saya butuhkan saat traveling. Setelah itu masukkan barang dalam kantong-kantong terpisah sesuai dengan jenisnya sebelum dimasukkan ke dalam ransel.

My Travel Essentials - DuniaRahmi

My Travel Essentials

Dengan mempersiapkan segala sesuatu sendiri sebelum traveling itu membuat saya lebih benar-merasa mengenal, dan memiliki kenangan dan ikatan bathin dengan tempat yang saya kunjungi. Saya pernah mencoba traveling bersama rombongan sekitar 20 orang yang diadakan oleh travel agent, dan setelah kembali pulang saya merasa traveling itu seperti hanya dalam mimpi dan tidak benar-benar saya lakukan. Dan sejak saat itulah saya lebih memilih untuk traveling secara mandiri dan menyiapkan segala sesuatunya sendiri.

Pantai Merah Jambu di Timur Indonesia

Pantai Merah Jambu di Timur Indonesia

Pada suatu pagi di akhir pekan, salah satu acara jalan-jalan di televisi yang dibawakan oleh Ruben Onsu dan Luna Maya menampilkan episode menjelajahi pantai dengan pasir berwarna merah jambu. Pantai itu dikenal dengan nama ‘Pink Beach’, berada di kawasan Taman Nasional Komodo NTT. Pemandangan di sekitar pantai membuat saya takjub. Pantai dikelilingi oleh gurun savanna yang gersang dan hanya ada beberapa pohon saja. Sepertinya di sana sangat panas, itu yang pertama terfikir di benak saya.

Setelah kejadian pagi itu, saya mulai browsing menggali segala informasi tentang Pink Beach. Semua informasi rute perjalanan, penginapan, sewa kapal, penerbangan, dan harga tiket semua sudah lengkap. Tidak bisa dipungkiri memang butuh modal yang tidak sedikit untuk mengunjungi Pink Beach. Kita perlu menyewa kapal yang harga sewanya sekitar dua juta rupiah agar bisa menikmati sensasi bermalam di tengah laut. Selain itu tidak banyak penerbangan yang menuju Labuan Bajo sebagai salah satu pintu masuknya. Dari Jakarta kita harus transit dulu di Denpasar. Maskapai penerbangan dari Denpasar yang mencapai Labuan Bajo antara lain yaitu Garuda Indonesia, Lion Air, dan Wings Air.

Impian saya untuk mengunjungi Pink Beach akhirnya dapat terwujudkan. Hari itu di bulan Agustus, Garuda Indonesia membawa saya menuju Denpasar, lalu dilanjutkan lagi menuju Bandara Labuan Bajo dengan pesawat Garuda Indonesia ATR 72 yang berukuran kecil. Setelah terbang sekitar satu jam lebih akhirnya sampai juga saya di Bandara Komodo Labuan Bajo. Owh Tuhan aku memuji Mu! Rasanya bisa menginjakkan kaki di Indonesia bagian timur ini luar biasa.

Dari bandara saya langsung menuju pelabuhan Labuan Bajo yang terkenal dengan keindahannya saat matahari terbenam. Setiba di dermaga kami langsung menaiki kapal dan siap berpetualang menjelajahi perairan Pulau Komodo. Tidak ada sejengkal pemandangan pun yang tidak membuat saya kagum. Airnya yang jernih, langit yang biru, pulau-pulau kecil yang bertebaran, dan bukit-bukit kokoh yang mengelilingi laut ini semuanya sangat mengagumkan.

Perahu mulai mendekati bibir pantai yang dari kejauhan terlihat jelas pasirnya berwarna pink. Ya Tuhan ini nyata! Saya telah sampai di tempat yang sudah lama saya impikan. Tapi sabar sebentar, karena untuk mencapai bibir pantai kita harus menyewa kapal kecil. Kapal besar tidak boleh mendekati bibir pantai dan tidak boleh melempar jangkar untuk melindungi koral-koral agar tidak rusak.

Kawasan Taman Nasional Komodo

Kawasan Taman Nasional Komodo

Pink Beach

Pink Beach

Setelah tiba di pinggir pantai saya langsung berenang dan mulai mengintip apa yang ada di balik air ini. Ikan yang berwarna-warni dan koral-koral yang terjaga dengan baik menambah pesona keindahan alam bawah laut pantai ini. Ombak cukup besar siang itu. Semakin berenang ke tengah semakin besar ombak menerjang tubuh saya. Lalu saya memutuskan istirahat sebentar di pinggir pantai. Nikmat sekali rasanya bisa bersantai di pantai yang indah dan sesepi ini. Bukit savanna yang gersang berdiri kokoh mengelilingi pantai ini. Cuaca panas yang sebelumnya saya bayangkan ternyata salah. Meskipun terlihat gersang tapi angin terus berhembus membuat udara terasa sejuk. Saya melihat bukit di sisi kanan tidak jauh dari pantai. Saya pun memutuskan untuk naik ke bukit tanpa alas kaki. Angin bertiup kencang di sana. Pemandangan menakjubkan terlihat jelas. Pasir yang berwarna pink dan gradasi warna air laut sungguh mempesona. Mahakarya yang Tuhan sentuhkan di tanah Flores ini luar biasa.

Pink Beach

Pink Beach

Setelah puas bermain di bukit saya kembali snorkeling. Saya terus mengikuti arah ikan berenang. Hingga tanpa sadar saya berenang terlalu jauh. Saya memutuskan berenang sampai kapal atas saran guide kami. Tapi ombak semakin tinggi dan keras menghempas badan saya. Saya nyaris kehabisan nafas. Hingga akhirnya salah seorang awak kapal menarik badan saya. Ini benar-benar berbuatan nekat dan pengalaman yang tidak bisa dilupakan.

Jika ditanya destinasi wisata mana lagi yang ingin saya kunjungi saya akan jawab ‘LOMBOK’. Lombok kini menjadi salah satu primadona destinasi wisata di Indonesia setelah Bali. Daerah yang terletak di NTB ini memiliki pantai-pantai yang tidak kalah indahnya. Selain itu akses menuju Lombok juga semakin mudah. Beberapa maskapai dari Jakarta yang menuju Lombok antara lain Garuda Indonesia, Lion Air, dan Batik Air. Bahkan saat ini Citilink melayani rute Bandung langsung menuju Lombok dengan harga terjangkau.

Ada beberapa destinasi wisata di Lombok yang ingin saya kunjungi. Salah satunya adalah Pulau-pulau Gili yang terletak di lepas barat laut Pulau Lombok. Ada tiga pulau di kawasan ini yang keindahannya tidak diragukan, yaitu Gili Air, Gili Meno, dan Gili Trawangan. Pemandangannya sangat indah, pasirnya berwarna putih, dan biota lautnya beraneka ragam. Selain itu beberapa destinasi wajib seperti Pantai Kuta, Senggigi, Batu Bolong, Batu Layar, dan banyak tempat wisata lain di Lombok yang juga sayang jika dilewatkan.

Saat mengunjungi Lombok suatu hari nanti saya akan kembali memilih maskapai Garuda Indonesia untuk mengantarkan saya ke sana. Meskipun harganya lebih tinggi dibanding maskapai yang lain, tapi itu sebanding dengan kenyamanan yang didapatkan. Bisa memotret awan di ketinggian ribuan kaki berdampingan dengan sayap Garuda adalah sudatu seni tersendiri menurut saya. Semoga saja impan ini kembali dapat dengan cepat terwujud. Amin!

Garuda Indonesia

Garuda Indonesia

Itinerary Labuan Bajo – Pulau Komodo 3D2N

Tips Perjalanan kali ini yaitu sebaiknya kita tidak pergi sendirian. Lakukan perjalanan minimal 2 atau 4 orang untuk menghemat biaya akomodasi.

Hari Pertama (Jakarta – Labuan Bajo)

Perjalanan dimulai dari Bandara Soekarno Hatta menggunakan pesawat termurah yaitu Lion Air, dengan perkiraan biaya tiket pesawat dan pajak bandara pulang pergi (PP) Jakarta – Labuan Bajo adalah IDR 3.000.000. Berangkat dari Jakarta pukul 04.30 pagi lalu transit di Bandara Ngurah Rai Denpasar, dan diperkirakan tiba di Bandara Komodo Labuan Bajo pukul 13.25

Selanjutnya dari bandara menuju penginapan menggunakan ojeg motor dengan biaya sekitar IDR 15.000. Penginapan yang saya pilih adalah Green Hill Boutique Hotel yang terletak di pusat kota, menghadap langsung ke pelabuhan Labuan Bajo dengan tarif sebesar IDR 350.000 untuk dua orang. Masing-masing kamar di hotel ini dilengkapi dengan televisi, shower air panas dan dingin, AC juga balkon. Alamat hotel adalah di Jalan Soekarno Hatta Labuan Bajo, telp. 0385-41289.

Setelah check in, istirahat, dan makan siang kita akan langsung berkeliling kota Labuan Bajo menggunakan sepeda motor yang disewa dari tempat penginapan dengan biaya IDR 50.000. Tempat yang akan dikunjungi adalah Goa Batu Cermin di Desa Wae Sambi yang berjarak sekitar empat kilometer dari pusat kota. Tiket masuk Goa Batu Cermin adalah IDR 10.000 dan sewa jasa pemandu IDR 10.000.

Setelah itu kita lanjutkan perjalanan ke Bukit Cinta yang terletak di timur kota Labuan Bajo, dan lalu ke Pantai Pande di sebelah barat kota. Menjelang sore kita akan menuju pelabuhan untuk menikmati sunset yang terkenal eksotis.

Sebelum kembali ke penginapan kita akan makan malam dulu di kota. Ada beberapa pilihan menu, yaitu nasi goreng, ayam goreng, nasi padang, bakso, dan lain-lain.

Total biaya hari pertama:

  • Tiket pesawat dan pajak Bandara PP   : IDR 3.000.000
  • Ojeg bandara – penginapan                 : IDR 15.000
  • Sewa Hotel per kamar                          : IDR 350.000 (@IDR 175.000/orang)
  • Sewa Sepeda Motor per unit                : IDR 50.000 (@IDR 25.000/orang)
  • Tiket masuk + guide Goa Batu Cermin  : IDR 20.000
  • TOTAL                                                  : IDR 3.235.000/orang

*tidak termasuk biaya makan siang dan malam

Hari ke dua (Labuan Bajo – Pulau Rinca – Pantai Pink – Pulau Kalong)

Pukul 06.00 check out dari penginapan dan bersiap-siap menunggu jemputan dari pihak kapal yang telah kita sewa sebelumnya. Kapal yang kita sewa adalah milik Bapak Figo dengan biaya sekitar IDR.2.200.000 untuk 2 hari 1 malam dengan penumpang sebanyak 4 orang. Sewa kapal sudah termasuk makan, life vest, snorkel, dan kaki katak. Kontak Bapak Figo adalah 081237321023. Banyak pemandangan menakjubkan sepanjang perjalanan dari Labuan Bajo ke Pulau Rinca.

Tiba di destinasi pertama hari ini yaitu Pulau Rinca atau Loh Buaya. Labuan Bajo – Pulau Rinca ditempuh selama sekitar 1 jam 30 menit. Untuk masuk Pulau Rinca dikenakan biaya karcis sebesar IDR 2500, retribusi sebesar IDR 20.000, biaya membawa kamera sebesar IDR 5000, dan jasa ranger (guide) sebesar IDR 80.000 per grup. Ini sudah termasuk dengan biaya masuk Pulau Komodo. Dan kita akan trekking di pulau ini selama sekitar 2 jam menjelajahi hutan dan bukit savanna.

Selanjutnya perjalanan dilanjutkan menuju Pantai Pink selama 1 jam 30 menit. Di sini kita akan snorkeling dan menikmati pemandangan dari atas bukit selama sekitar 1 jam saja. Dan makan siang kita lakukan di kapal yang telah disiapkan oleh awak kapal.

Setelah dari Pantai Pink kita selanjutnya mengunjungi Pulau Kalong dan kita akan menyaksikan ribuan kalong pada sore hari di pulau ini. Kita juga akan menyaksikan matahari tenggelam dibalik bukit-bukit Jurasic park dari atas kapal.

Menjelang magrib kita lanjutkan berlayar sampai dermaga Pulau Komodo. Kita akan bermalam di kapal dan kita juga akan bersantai dan memancing ikan di dermaga Pulau Komodo. Biasanya awak kapal sudah membawa alat memancing. Makan malam akan disiapkan oleh awak kapal.

Total biaya hari ke dua:

  • Tiket masuk Pulau Rinca         : IDR 2500.
  • Retribusi                                : IDR 20.000
  • Biaya bawa kamera                : IDR 5000
  • Biaya jasa ranger per grup     : IDR 80.000 (@IDR 20.000/orang)
  • TOTAL                                   : IDR 47.500/orang

Hari ke tiga (Pulau Komodo – Manta Point – Pulau Kanawa – Labuan Bajo – Bandara Komodo – Jakarta )

Bangun pagi dan setelah sarapan di kapal pukul 06.00 kita bersiap menjelajah Pulau Komodo. Di sini kita akan trekking kurang lebih selama 2 jam, memasuki hutan dan menyaksikan pemandangan laut dan burung-burung Kakak Tua putih dari bukit Sulphurea. Binatang lain selain komodo yang bisa kita temui di pulau ini adalah rusa, babi hutan, kerbau, ayam hutan, dan berbagai macam burung.

Selanjutnya perjalanan dilanjutkan menuju Manta Point. Aktifitas yang akan kita lakukan di sini adalah snorkeling berburu ikan manta sekitar 30 menit saja. Dan makan siang hari ke tiga ini pun akan disiapkan oleh awak kapal.

Selanjutnya menuju Pulau Kanawa. Di sini kita akan kembali ber-snorkeling dan menjelajah pulau, juga menyaksikan pemandangan dari atas bukit selama kurang lebih 1 jam.

Setelah selesai menjelajah Pulau Kanawa kita kembali ke kapal lalu mandi dan ganti pakaian di kapal. Selanjutnya kita harus sudah tiba di Dermaga Labuan Bajo sebelum pukul 14.30. Setelah itu kita meluncur menuju Bandara Komodo Labuan Bajo menggunakan ojeg.

Komodo Island

Komodo Island

Pulau Komodo – Saat Ucapan Menjadi Nyata

Pulau Komodo – Saat Ucapan Menjadi Nyata

Pernah suatu ketika saya merasa lelah saat harus mengurus sendiri rencana perjalanan ala backpacker bersama teman-teman. Meskipun ala backpacker, tapi menurut saya tetap saja harus ada sedikit perencanaan dan mengantongi informasi tentang daerah tujuan yang hendak dikunjungi. Perencanaa itu perlu agar waktu berpetualang yang singkat dan budget yang minim tidak menjadi sia-sia tanpa kegiatan yang jelas. Setiap hendak bepergian informasi yang saya butuhkan antara lain kegiatan apa saja yang akan dilakukan, tempat mana saja yang akan dikunjungi, bagaimana transportasi menuju daerah tujuan, dan kebutuhan khusus apa yang kira-kira akan dibutuhkan, dan semua hal itu saya yang bertanggung jawab mengurusnya. Teman-teman saya hanya tinggal duduk manis dan mengikuti apa saja yang saya lakukan. Beberapa kali saya melontarkan keinginan, “Gantian dunk yang jadi TL jalan-jalannya. Aku juga kan pengen liburan tinggal duduk manis.” Kali lain saya juga pernah menyampaikan angan-angan saya pada teman saya, “Pengen deh sesekali liburan mewah, pakai topi gede terus duduk manis di atas yacht sambil minum jus jeruk dingin berpose ala artis-artis gitu.” Kedengarannya sih berlebihan sekali ya.

Nenek moyang teman saya pernah bilang kalau ucapan adalah doa. Saya rasa kadang-kadang ada benarnya. Ya seperti yang saya alami, ya saya bilang ada benarnya karena kali ini saya yang mengalami :D. Ketika ucapan-ucapan saya yang meluncur begitu saja seperti panah Arjuna pada akhirnya terwujud. Suatu sore saya mendapat kabar kalau teman saya mendapat hadiah jelajah nusantara dari salah satu pusat perbelanjaan dan mengajak saya untuk perjalanan gratis ini.. Dan yang lebih meluluhlantakkan hati ini adalah saya bisa memilih sendiri waktunya dan memilih salah satu daerah tujuan yang telah ditetapkan.. Pilihan destinasi yang ditawarkan adalah Jogja, Bromo, Belitung, Manado, Derawan, dan Labuan Bajo – Pulau Komodo. Wow ternyata begini rasanya menang undian, deg-degan dan sering senyum-senyum sendiri setiap waktu. 😀

Komodo Island

towards to Komodo Island

Saya langsung searching untuk mengecek destinasi mana yang paling mahal, mumpung gratis jadi harus pilih daerah tujuan dengan biaya akomodasi yang paling mahal. Meski gratis tapi tetep ngga mau rugi haha. Awalnya saya ngebet pengen ke Derawan, dengan alasan Derawan adalah The Second Raja Ampat dan biaya transportasi ke sana juga masih tergolong mahal. Tapi setelah difikir-fikir ke Derawan memakan waktu perjalanan yang cukup lama, harus beberapa kali ganti kendaraan. Akhirnya demi menghemat waktu perjalanan, diputuskan lah untuk memilih destinasi Labuan Bajo – Pulau Komodo.

towards to Komodo Island

towards to Komodo Island

Saya sudah banyak membaca tentang Labuan Bajo dan sudah paham betul transportasi menuju ke sana. Tapi saya masih fakir informasi tentang Pulau Komodo. Bila menyebut nama Flores yang langsung ada di benak saya adalah Pink Beach dan Labuan Bajo dengan segala keindahannya. Pink Beach lah yang paling ingin saya kunjungi. Saya fikir Pulau Komodo tidak jauh berbeda dengan taman nasional lainnya, hanya saja memiliki kelebihan karena dihuni binatang purba Komodo. Ternyata prasangka saya salah besar! Bumi Flores memang luar biasa. Sekitar tiga jam berlayar dari Labuan Bajo menuju Pulau Komodo setiap jengkalnya alam memanjakan saya dengan pemandangan yang tidak biasa. “Awesome” kalau orang bule bilang. Dan saya kehabisan kata-kata untuk menggambarkan keindahannya. Langit biru muda, air laut biru tua, lumba-lumba, perbukitan gurun savana di sepanjang perjalanan, kapal wisata yang lalu lalang semuany menakjubkan.

Komodo Island

Komodo Island

Dan perjalanan kali ini saya benar-benar merasakan nikmatnya jalan-jalan mewah, jadi ketagihan :D. Terbang dengan Garuda Indonesia yang fasilitasnya sudah tidak diragukan lagi. Pesawat yang jarang saya lirik karena harganya yang diluar jangkauan ini akhirnya yang mengantarkan saya pulang pergi dari Jakarta hingga Labuan Bajo. Sejak mendarat di bandara Labuan Bajo hingga ketika hendak kembali lagi ke Jakarta semua ada yang melayani. Pak Martin dengan papan namanya seperti di film-film telah menunggu saya di depan bandara. Dan saya tidak pernah menjingjing tas saya sendiri, bahkan membuka pintu mobil pun dilakukan oleh pihak travel agent Garuda Indonesia Holiday. Empat kru kapal melayani kami dengan baik. Makanan selalu memenuhi meja, meskipun dimasak oleh laki-laki tapi nikmatnya harus mendapat pengakuan. Pisang goreng dan secangkir teh manis juga selalu tersedia di meja. Alam semesta pun mendukung dengan langitnya yang manghadirkan pelangi, bintang-bintang, dan full moon yang luar biasa malam itu. Jika selama ini saya selalu mencari penginapan dengan harga termurah, bahkan kadang-kadang tidur di teras masjid, tapi hari ini saya menikmati fasilitas hotel bintang empat dengan free alias gratis! Dan living on board yang konon mahal juga bisa saya nikmati dengan free free free.. Wow! I feel like a rich girl for 3 nights! That day was an absolutely gorgeous day in my life!

Towards to Labuan Bajo

Towards to Labuan Bajo

Itu lah salah satu mimpi saya yang menjadi nyata tanpa kerja dan usaha sama sekali untuk mewujudkannya. Tapi jika Tuhan sudah berkehendak terjadi, maka terjadilah! Sejak saat itu saya berhati-hati saat berucap. Saya berusaha sebisa mungkin mengucapkan kata-kata yang baik ‘ingat ucapan adalah doa meski kadang diucapkan dengan tidak serius :D’‘, agar jika malaikat lewat saat kita berucap maka perkataan baik itulah yang Tuhan jadikan nyata.

Happy dreaming!

La Prima Hotel

La Prima Hotel

Labuan Bajo – Menyentuh Bumi Flores

Labuan Bajo – Menyentuh Bumi Flores

Labuan Bajo merupakan ibu kota dari Kabupaten Manggarai Barat yang terletak di ujung barat Pulau Flores, Provinsi Nusa Tenggara Timur. Pelabuhan kecil Labuan Bajo merupakan salah satu pintu gerbang menuju Pulau Komodo habitat asli reptilia komodo (Varanus komodoensis).

8 Agustus 2014, perjalanan dimulai dari Bandara Soekarno Hatta Jakarta pukul 07.00 pagi. Dan rasanya masih seperti mimpi hari itu pukul 14.00 akhirnya saya bisa menginjakkan kaki di Bandar Udara Komodo Labuan Bajo. Penerbangan dengan Garuda Indonesia dari Jakarta menuju Denpasar lalu Labuan Bajo meskipun memakan waktu cukup lama namun tidak terasa membosankan. Fasilitas dan pelayanan maskapai kebanggaan Indonesia ini cukup sebanding dengan harganya, dan kali ini saya menikmati ini semua dengan GRATIS 😀 Selama penerbangan Jakarta – Denpasar saya memilih menonton acaranya Ramon Y. Tungka dan Tim 100 Hari Keliling Indonesia, sesekali bermain game dan sesekali memandang keindahan panorama alam Indonesia yang samar terlihat dari ketinggian. Pemandangan alam yang terlihat dari ketinggian terbang pesawat khususnya selama penerbangan dari Denpasar menuju Labuan Bajo luar biasa indah, pulau-pulau dan laut terlihat cukup jelas. Benar-benar pemandangan yang jauh berbeda jika dibandingkan dengan penerbangan menuju Sumatera yang lebih sering tak terlihat apa-apa selain awan putih yang tentu saja tak kalah indahnya.

Pemandangan Denpasar - Labuan Bajo

Pemandangan Denpasar – Labuan Bajo

Bandara Labuan Bajo

Bandara Labuan Bajo

Ini kali pertama saya mengunjungi kepulauan Nusa Tenggara, dan sekaligus pertamakali merasa terasing di negeri sendiri. Karena sejak di pesawat hingga di Bandara Labuan Bajo jarang sekali saya temui wisatawan lokal, sekitar 80% lebih adalah wisatawan asing. Bahkan penumpang pesawat Garuda dari Denpasar ke Labuan Bajo yang datang sebagai wisatawan lokal hanya saya dan teman saya saja, dua keluarga penduduk lokal Labuan Bajo, dan sisanya wisatawan asing. Ini merupakan pemandangan baru buat saya, berwisata di negeri sendiri namun didominasi wisatawan asing. Dan semua ini tentu saja disebabkan biaya perjalanan yang sangat mahal.

Perjalanan kali ini terasa luar biasa istimewa, karena kegiatan jelajah nusantara ke Labuan Bajo – Pulau Komodo ini dibiayai oleh Carrefour dan seluruh kegiatan telah diatur oleh Garuda Indonesia Holiday. Setelah tiba di Bandara Labuan Bajo yang masih dalam proses renovasi kami langsung dijemput oleh pihak Garuda Indonesia Holiday yaitu Bapak Martin yang bertugas sebagai guide, dan kami langsung diantar menuju tempat penyewaan alat snorkeling. Setelah menikmati Labuan Bajo dari atas, kami lalu menuju pelabuhan untuk langsung menaiki kapal menuju Pulau Komodo. Proses menaiki kapal ini cukup dramatis, yang pertama ketika akan menaiki kapal saya dibuat agak deg-degan luar biasa. Bayangkan saja saya hanya berdua dengan teman saya yang juga perempuan, dan kami harus naik kapal dan juga bermalam di kapal bersama lima laki-laki kru kapal dan guide penduduk asli Flores. Kesan pertama sangat menyeramkan melihat wajah mereka terutama sang kapten kapal, tidak ada kesan ramah ditambah faktor bahasa yang tidak saya mengerti. Dan ternyata kesan pertama memang tak selalu benar, mereka para kru kapal sangat ramah dan baik, sang kapten ternyata seorang yang berwajah Rambo tapi berhati Rinto. Hal dramatis ke dua adalah kami harus turun dari atas pelabuhan menuju kapal dengan mnggunakan tangga yang hampir berdiri tegak 180° dan kondisi kapal yang terus bergoyang dihempas ombak. Ini cukup mengerikan meski tak sedramatis hal yang pertama. 😀

Labuan Bajo

Labuan Bajo

Labuan Bajo

Labuan Bajo

Labuan Bajo

Labuan Bajo

Bersama Kru Kapal

Bersama Kru Kapal

Suasana pelabuhan juga sedang dalam proses renovasi. Menurut informasi dermaga angkutan barang seperti peti kemas dan lain-lain akan dipindahkan ke tempat lain, jadi Labuan Bajo akan digunakan untuk angkutan penumpang atau wisatawan saja. Kota Labuan Bajo tidak seramai yang saya banyangkan, benar-benar hanya sebuah kota kecil. Saya fikir daerah ini ramai seperti tempat wisata pada umumnya yang dipenuhi pedagang oleh-oleh dan makanan khas. Ternyata sangat sulit menemukan toko yang menjual oleh-oleh di sini, pasar lebih didominasi oleh tempat penyewaan alat snorkeling atau diving dan toko-toko kelontong seperti pasar tradisional pada umumnya. Pada malam hari penjual makanan pun tidak terlalu banyak, hanya ada beberapa penjual bakso, nasi goreng, rumah makan padang, dan penjual gorengan. Setiap suduk kota banyak tukang ojeg yang siap mengantar kita kemana saja dengan biaya terjangkau.

Kota Labuan Bajo

Kota Labuan Bajo

Setelah kembali dari Pulau Komodo kami menginap di hotel La Prima Labuan Bajo, dan fasilitas menginap di hotel pun kami nikmati secara gratis. Hotel ini terletak cukup jauh dari Pelabuhan dan pasar, dan pada malam hari suasana sangat sunyi ditambah belum banyaknya lampu penerang jalan. Meskipun kecewa tidak bisa menikmati matahari tenggelam dari Labuan Bajo yang terkenal indah, tapi saya cukup terhibur dengan pemandangan yang tampak dari jendela hotel tempat kami menginap. Liburan gratis dan mewah ini memberikan banyak sekali pengalaman dan pengetahuan baru buat saya. Dan membuat saya ingin kembali lagi ke bumi NTT untuk mengunjungi Sumba yang konon keindahannya juga sangat menakjubkan. *dream and pray*

La Prima Hotel - Labuan Bajo

La Prima Hotel – Labuan Bajo

La Prima Hotel - Labuan Bajo

La Prima Hotel – Labuan Bajo

La Prima Hotel - Labuan Bajo

La Prima Hotel – Labuan Bajo

“Simpan mimpimu dalam hati, genggamlah dengan erat, dan biarkan Tuhan yang mewujudkannya untukmu©duniarahmi