Backpacker dan Dampaknya Terhadap Lingkungan

Backpacker dan Dampaknya Terhadap Lingkungan

Dalam kurun waktu beberapa tahun terakhir ini fenomena backpacker di Indonesia mengalami perkembangan yang cukup signifikan. Hal ini ditandai dengan banyaknya kemunculan biro travel ala backpacker di situs-situs jejaring sosial maupun situs semacam http://www.kaskus.co.id, juga kemunculan forum-forum backpacker seperti www.backpackerindonesia.com, www.trackpacking.com, www.indobackpacker.com dan masih banyak lagi yang lain. Saat ini banyak pula bermunculan acara televisi yang menampilkan perjalanan ke tempat-tempat yang menyajikan pemandangan alam menakjubkan yang selama ini tidak banyak diketahui orang.

Backpacker menurut Wikipedia bahasa Indonesia berasal dari kata tas ransel (backpack) untuk bepergian. Backpack merupakan istilah bahasa Inggris yang artinya tas yang digendong di belakang. Wisata beransel (bahasa Inggris: backpacking) adalah perjalanan ke suatu tempat tanpa membawa barang-barang yang memberatkan atau membawa koper. Adapun barang bawaan hanya berupa tas yang digendong, pakaian secukupnya, dan perlengkapan lain yang dianggap perlu. Biasanya orang yang melakukan perjalanan seperti ini adalah dari kalangan berusia muda, tidak perlu tidur di hotel tetapi cukup di suatu tempat yang dapat dijadikan untuk beristirahat atau tidur. Perjalanan seperti ini dilakukan di dalam negeri ataupun di luar negeri. Nah, forum-forum yang dibentuk oleh para backpacker inilah yang sekarang banyak diminati oleh orang-orang yang menyebut dirinya pecinta alam, penikmat keindahan dan lain-lain.

Kehadiran para backpacker ini menurut saya cukup banyak memberi dampak, baik dampak positif maupun negatif terutama pada lingkungan. Dampak positifnya antara lain adalah meningkatnya pembangunan, perekonomian masyarakat di sekitar daerah wisata, tumbuhnya rasa nasionalisme dan penghargaan terhadap wisata lokal, membantu mempromosikan wisata yang belum banyak diketahui orang, dan peningkatan hubungan antar pribadi dari berbagai daerah yang berbeda suku dan agama. Karena para backpacker ini tidak sedikit pula yang melakukan aktifitas bersama-sama dengan orang lain dari berbagai daerah melalui forum-forum backpacker atau pecinta alam.

Sedangkan dampak negatif dari peningkatan jumlah pecinta jalan-jalan ini juga cukup banyak. Salah satunya yang akan saya bahas adalah dampak pada kerusakan lingkungan, terutama kawasan pantai dan gunung. Karena icon suatu keindahan yang paling banyak dicari adalah pantai dan juga lereng dan puncak gunung. Para backpacker ini biasanya senang mendaki gunung, mencari dan mendatangi tempat-tempat yang tersembunyi atau yang dikenal dengan istilah hidden paradise.

Salah satu pantai di Sumatera Barat

Salah satu pantai di Sumatera Barat

Salah satu contoh hidden paradise yang saat ini sedang popular adalah Segara Anakan di Pulau Sempu, Malang. Dan saya pun pernah mendatangi tempat ini karena tergiur dengan keindahan alamnya. Pulau Sempu ini sebenarnya merupakan kawasan cagar alam, yaitu kawasan suaka alam yang karena alamnya mempunyai kekhasan tumbuhan, satwa dan ekosistem tertentu yang perlu di lindungi dan perkembangannya berlangsung secara alami. Seharusnya kawasan ini tidak bisa dimasuki oleh sembarang orang dan tidak boleh dijadikan tempat wisata, karena dapat mengakibatkan perubahan fungsi kawasan Cagar Alam. Tapi pada kenyataannya petugas Resort Konservasi Wilayah Pulau Sempu sering meloloskan/mengijinkan pelancong untuk memasuki kawasan, meskipun tanpa simaksi (Surat Izin Masuk Kawasan Konservasi). Sehingga tempat ini sekarang lebih mirip sebagai tempat wisata, dan bukan lagi sebagai cagar alam. Banyak orang berbondong-bondong mendatangi Pulau Sempu setiap harinya setelah mendengar dan membaca dari berbagai media. Kehadiran orang-orang ini ikut menyumbang sampah-sampah yang sekarang mulai terlihat dibeberapa sudut Pulau Sempu. Sisa-sisa bungkus makanan, botol air mineral, puntung rokok, dan sampah lain yang dibuang begitu saja oleh pengunjung yang tidak bertanggung jawab.

Pulau Sempu - Jawa Timur

Pulau Sempu – Jawa Timur

Contoh lain adalah kebakaran hutan di lereng Gunung Slamet pada Sabtu dini hari, 25 Agustus 2012 yang diduga berasal dari sisa api unggun pendaki. Kondisi hutan di Indonesia kian merana saja. Tahun ini kebakaran tidak hanya terjadi akibat kemarau panjang, tapi juga karena kecerobohan manusia. Hampir semua kasus kebakaran hutan atau sebesar 99% terjadi akibat aktivitas manusia. Kegiatan manusia seperti merokok, buka kebun, dan pendakian gunung menjadi penyebab awal kebakaran hutan. Pada Tahun 1984 Gunung Slamet ini juga pernah terbakar dan penyebab kebakaran saat itu diduga dari puntung rokok yang dibuang sembarangan oleh para pendaki hingga menyulut pohon-pohon maupun ilalang yang mengering. Coba bayangkan berapa kerugian akibat kebakaran hutan tersebut? Berapa banyak pohon yang hangus terbakar? Berapa banyak binatang yang mati? Kerugian yang pasti adalah rusaknya ekosistem alam, dan ini lah yang sulit untuk dikembalikan seperti semula.            Itulah salah satu contoh kecil dampak yang terjadi pada lingkungan kita akibat kegiatan manusia yang mengatasnamakan backpacker dan pecinta alam. Dampak-dampak negatif tersebut dapat diminimalisir dan dihilangkan jika saja setiap orang mempunyai rasa tanggung jawab dan rasa memiliki alam yang sudah diciptakan Tuhan dengan segala keindahannya. Selayaknya keindahan itu tidak hanya dinikmati sesaat, tapi juga harus terus dijaga agar keindahannya tetap terjaga dan dapat dinikmati oleh anak cucu kita kelak. Sekumpulan pecinta alam setidaknya jangan hanya bangga telah mendatangi banyak tempat, telah menaklukan berapa gunung, tapi banggalah jika telah dapat memberikan sumbangsih yang positif terhadap tempat-tempat yang didatangi tersebut. Nikmatilah keindahan ciptaan Tuhan ini, namun jangan lupa pula untuk menjaganya.

Salah satu pantai di Pulau Tidung - Kepulauan Seribu

Salah satu pantai di Pulau Tidung – Kepulauan Seribu

Advertisements

Backpacker Pulau Sempu – Bromo

Matahari Bromo

Dunia Rahmi @Bromo

Here we are

Wajah-wajah peserta Backpacker Joy Bromo

Perjalanan kali ini merupakan lanjutan dari perjalanan yang sudah saya tulis sebelumnya, cekidot perjalanan sebelumnya di sini.

Cerita ini dimulai dari Sendang Biru.

Setelah satu malam saya dan teman-teman BPI camping di Segara Anakan Pulau Sempu, kami pun melanjutkan backpacker kali ini ke Gunung Bromo. Elf yang kemarin mengantar saya dan teman-teman ke Sendang Biru harusnya datang menjemput kami pukul 14.00. Tapi sampai pukul 16.00 lebih elf yang di nanti tidak kunjung tiba. Ketika dihubungi sang supir memberikan banyak alasan, yang katanya macet lah, yang ada kecelakaan lah, dan ada lah lah yang lain. Hmmmp… Saya pun akhirnya memanfaatkan waktu penantian yang sangat panjang itu dengan berjalan-jalan di sekitar pantai Sendang Biru, makan sate, mengobrol dengan warga sekitar. Setelah ngobrol-ngobrol dengan warga setempat, saya mendapatkan informasi bahwa ternyata banyak supir elf yang sering berkelit seperti itu dengan tujuan agar si pemesan elf membatalkan sewa elf. Dengan demikian mereka dapat meraup keuntungan dari DP yang sudah dibayarkan oleh pemesan. Sebenarnya menurut beberapa orang, di Sendang Biru juga terdapat penyewaan mobil, jadi tidak perlu menyewa mobil PP dari Malang.

Waktu menunjukkan pukul 16.00 lebih, tapi kami tetap sabar menunggu sampai akhirnya elf itu datang sekitar pukul 17.00 kurang. “Mba mobil ini per-nya rusak, jadi harus hati-hati”, itu ucapan sopir elf kita hendak mengantarkan kami dari Sendang Biru  menuju Bromo. Haduhhhh ini sopir membuat saya jadi deg-degan selama perjalanan. Bukan hanya masalah yang katanya ‘per mobil rusak’, tapi cara sopir mengemudikan elf pun membuat jantung saya mau copot. Jalan yang berliku-liku dan curam ditambah dengan supir yang ugal-ugalan sungguh adonan yang sempurna bukan? 😦 Tempat duduk sempit dan licin membuat posisi duduk sering merosot-merosot ke bawah juga menambah ‘nikmat’ nya perjalanan malam itu. Arghhhhh…

Sekitar pukul 21.00 kami meminta supir elf untuk membawa ke tempat makan, karena banyak dari kami yang mulai kelaparan. Tapi bukannya membawa kami ke tempat makan, elf malah membawa kami ke sebuah sudut kota malang yang sepi, gelap dan tak ada pedagang makanan satu pun yang terlihat, yang ada hanya dua atau tiga penjual kopi. Tiba-tiba ada elf lain yang mendekat, para supir sempat beradu mulut sebentar, suasana semakin horor saja. Lalu kami ‘dipaksa’ untuk pindah elf dengan alasan yang tidak jelas. Kami memindahkan sendiri barang-barang bawaan kami, bukan hanya itu supir elf juga meminta tambahan biaya dari yang sudah disepakati semula. Kami benar-benar dibawa ke ‘kandang macan’ dan dibuat tidak memiliki pilihan selain menuruti permintaan mereka untuk menambah biaya sewa elf. Banyak sekali ketegangan malam itu meskipun tidak sampai terjadi kekerasan.

Meskipun banyak menemui permasalahan dan kendala, tapi akhirnya sekitar pukul 01.00 dini hari kami sampai juga di Bromo. Udara sangat dingin sampai menusuk tulang, bulan menggantung di langit dengan santainya. Saat yang lain sibuk berfoto-foto dan belanja syal juga kupluk, saya memilih untuk berdiam di dalam elf. Rasa kantuk dan dingin sulit sekali dikalahkan malam itu.

Pos sebelum nanjak

Barang-barang bawaan kami tinggalkan di elf, karena kami tidak menyewa penginapan. Dan sekitar pukul 04.00 dini hari kami melanjutkan perjalanan memasuki kawasan Bromo untuk menyaksikan sunrise menggunakan Colt bak terbuka. Semula saya fikir perjalanan memasuki kawasan Bromo hanya bisa ditempuh dengan menggunakan Jeep, ternyata ada juga Colt bak terbuka, dan bahkan pengendara motor pun banyak yang dapat mencapai puncak kawasan bromo. Pemandangan hamparan perbukitan dan jurang di sepanjang perjalanan lebih bisa dinikmati dengan leluasa jika menggunakan colt bak terbuka. Meskipun udara cukup dingin tapi tidak begitu terasa, karena mata dan fikiran saya lebih fokus pada pemandangan taman langit jdan uga pemandangan di kanan kiri jalan. Selain itu dengan menggunakan Colt bak terbuka lebih dapat menghemat ongkos, karena kendaraan ini bisa menampung 10 – 15 orang.

Brrrrrr.... Di atas Colt bak terbuka

Mengejar matahari dengan colt bak, lebih nikmat daripada naik jeep.. 😀

Pukul 04.30 kami sudah sampai di spot tempat biasa orang-orang biasa menyaksikan sunrise. Sudah saya duga pengunjung hari itu benar-benar membludak, karena bertepatan dengan acara Jazz Bromo yang diselenggarakan pada malam sebelumnya. Hampir tidak ada tempat untuk sekedar berdiri di depan pagar pembatas, karena di sekitar pagar yang merupakan tempat paling nyaman untuk mengabadikan sunrise sudah dipenuhi dengan orang-orang, ada yg berdiri, ada yg duduk, bahkan ada yang berbaring. Diantara ratusan orang-orang yang sibuk dengan kamera untuk mengabadikan sunrise ternyata saya melihat sosok yang tidak asing lagi, yaitu TOMPI.  Dan ada satu lagi keberuntungan saya malam itu, yaitu saya termasuk salah satu orang yang bisa menyaksikan fenomena bintang jatuh yang waktunya begitu singkat.

With Tompi

Ketemu artis Tompi setelah acara ‘Jazz gunung’

Jangan khawatir bagi yang belum sarapan, karena di sekitar tempat tersebut banyak pedagang yang menjajakan makanan dan minuman hangat. Yang paling banyak dijual adalah pop mie dan kentang goreng yang ditusuk seperti sate. Banyak penjual kentang karena memang banyak penduduk yang menanam kentang di sekitar kawasan Bromo. Meskipun hanya kentang goreng tanpa ada rasa asin atau gurih tapi lumayan untuk menambah energi. Pedangan syal, kupluk, dan baju pun juga ada banyak disana.

Tanda-tanda kemunculan Sang Matahari

Jingga

Awan tumpah

Pemandangan menuju kawah

Setelah semuanya berkumpul kami pun langsung kembali menaiki Colt bak dan segera meluncur menuju penanjakan. Jalan menuju penanjakan cukup curam dan mengerikan. Jalanannya masih berbatu, tikungan curam dan jurang yang sangat dalam di sisi jalan cukup membuat jantung berdetak kencang. Tapi lagi-lagi pemandangan yang sungguh luar biasa bisa mengalahkan semua rasa ketakutan saya. Dan ini lah salah satu keuntungan lagi dengan menaiki mobil Colt bak terbuka, yaitu saya bisa berdiri dan mengabadikan pemandangan di sepanjang jalan menuju penanjakan yang sulit dilakukan jika naik jeep. Saya bisa menikmati seluruh pemandangan tanpa terhalang apapun. Dan yang lebih nikmat adalah sinar matahari bisa mengenai seluruh tubuh yang tadi hampir beku. Perjalanan dari spot menunggu sunrise menuju penanjakan memakan waktu sekitar 30 menit.

IMG_3242

Negeri di atas awan

Wedus gembel

IMG_3229

Bromo

Luar biasa bentuk perbukitan begitu teratur dikelilingi awan putih yang tebal, sungguh bagai negeri diatas awan. Setelah kurang lebih 20 menit melewati pemandangan perbukitan hijau dan awan putih, akhirnya sampai juga di kawasan sekitar penanjakan. Nah kalau sudah ketemu tanah berdebu berarti sudah hampir tiba di penanjakan. Kendaraan roda empat tidak bisa mendekati tangga penanjakan. Area parkir sangat luas, karena itu ingatlah dengan jelas di mana tempat parkir kendaraan yang anda pakai agar tidak tertukar. Untuk menuju penanjakan bisa ditempuh dengan jalan kaki, sewa kuda, atau naik ojeg motor. Jika ditempuh dengan jalan kaki kira-kira akan memakan waktu sekitar 15-20 menit. Ini baru sampai di bawah tangga penanjakan, sedangkan untuk mencapai puncak kawah harus dilalui dengan menaiki sekitar 250 anak tangga. Di sekitar penanjakan tepatnya di sebelah kiri tempat parkir kendaraan ada fasilitas toilet yang bersih dan cukup nyaman. Banyak juga penjual makanan sehingga tidak perlu takut kelaparan bagi yang tidak sempat sarapan.

Penanjakan tampak dari area parkir

Penanjakan tampak dari area parkir

Masih di dekat penanjakan

Masih di sekitar penanjakan

Cantikkkk orang dan langitnya :D

Dunia Rahmi…!

 

Penanjakan

Sampah oh sampah

Penanjakan padat merayap

Penanjakan padat merayap

Pemandangan dilihat dari penanjakan

Pemandangan dilihat dari penanjakan

Penampakan setelah turun dari kawah

Penampakan setelah turun dari kawah

Pukul 10.00 rombongan backpacker yang akhirnya kita namakan “Joy Bromo” akhirnya bersiap-siap meninggalkan penanjakan dan kembali ke Desa Wonokitri. Meskipun masih banyak tempat di kawasan bromo ,seperti hamparan pasir yang dikenal lewat film Pasir Berbisik dan Gurun Savana, yang tidak sempat kami kunjungi karena keterbatasan waktu. Tiba di Wonokitri kami langsung naik elf dan kembali ke Stasiun Kota Baru Malang. Sebenarnya dalam perjalanan menuju stasiun pun kita masih “dikerjain” oleh supir elf yang berujung dengan “UANG”. Setelah mengecek barang barulah disadari ternyata banyak terjadi kehilangan, mulai dari baju, jaket, camera, makanan, dan juga dua buah matras yang kami sewa. Terpaksa harus bayar ganti rugi atas kehilangan tersebut, dan menurut pemilik penyewaan matras kasus kehilangan seperti ini cukup sering terjadi. Karena itu WASPADALAH.. WASPADALAH.. Jaga barang-barang bawaan anda dengan benar, agar kejadian seperti ini tidak terus berulang.

Rincian Share cost:

  • Elf 2 unit Sendang Biru – Bromo – Malang :  Rp. 1.926.000,-
  • Sewa Colt bak 2 unit : Rp. 800.000,-
  • Denda penyewaan alat camping  : Rp. 250.000,-
  • Tiket masuk Bromo : Rp. 50.000, – (kena tipu, seharusnya tidak perlu bayar)
  • Total share cost :  Rp. 3.026.000,-
  • Biaya per orang : Rp. 121.040,-

Camping at Segara Anakan, Sempu Island

Cagar Alam Pulau Sempu adalah kawasan alam yang berada di bawah naungan Balai Konservasi Sumberdaya Alam (BKSDA) Provinsi Jawa Timur. Pulau ini memiliki luas sekitar 877 hektar, berbatasan dengan Selat Sempu (Sendang Biru) dan berada dalam wilayah Kabupaten Malang, Jawa Timur. Selain Pulau Sempu, di Jawa Timur juga terdapat tempat wisata yang pasti sudah sebagian besar orang Indonesia tahu, yaitu Gunung Bromo. Gunung Bromo mempunyai ketinggian 2.392 meter di atas permukaan laut dan berada dalam empat wilayah, yakni Kabupaten Probolinggo, Pasuruan, Lumajang, dan Kabupaten Malang.

Tanggal 6 Juli 2012 kemarin saya mengunjungi kedua tempat wisata tersebut bersama anak-anak BPI (Backpacker Indonesia) Bandung, Jabodetabek, dan Surabaya. Total semua peserta yang ikut dalam perjalanan kemarin adalah 25 orang. Teman-teman yang berada di Jabodetabek berangkat dari Stasiun Senen Jakarta, sedangkan saya berangkat dari Stasiun Bandung menggunakan Kereta Api Malabar kelas ekonomi jurusan Bandung – Malang Kota Baru dengan tarif Rp. 115.000,- per orang. Kami berangkat dari Bandung pada tanggal 5 Juli 2012 pukul 15.30 dan sampai di stasiun malang pada pukul 07.30 keesokan harinya.

Setibanya di Stasiun Kota Baru Malang, saya langsung menghampiri warung makan yang pertama saya lihat ketika baru turun dari kereta, yaitu warung makan Bu Tawar. Saat itu saya memilih menu nasi kare yaitu nasi dengan campuran ayam santan bumbu kuning seharga Rp.12,000,-.

Sekitar pukul 08.30 rombongan dari Jabodetabek pun tiba di Stasiun Kota Baru Malang. Setelah perwakilan rombongan mengurus beberapa keperluan kami pun bersiap menaiki elf yang sudah disewa untuk membawa kami ke Pantai Sendang Biru. Kami menyewa dua elf, satu elf bisa memuat sekitar 15 orang. Satu rombongan langsung menuju Pantai Sendang Biru, sedangkan satu elf rombongan yang lain menuju malang untuk mengambil tenda, matras, dan peralatan camping lain yang sudah di-booking sebelumnya.

Bersama sebagian peserta dari Jakarta

Rombongan Joy Bromo

Sekitar pukul 13.30 kami pun tiba di Pantai Sendang Biru. Setelah tiba di sana, kami langsung mengurus perijinan masuk kawasan Pulau Sempu dan mengurus sewa kapal. Di kawasan Pantai Sendang Biru ini pun banyak pengunjung yang berwisata bersama keluarga. Sehingga tidak sulit untuk menemukan penjual makanan di sini.

Dalam perjalanan memasuki Pulau Sempu kami menyewa seorang pemandu yang akan memdampingi kami agar tidak tersesat. Karena banyak pula kasus rombongan yang salah jalan atau pun terpisah meskipun berangkat bersama dan sudah mengikuti jalan yang ‘terlihat’ biasa dilewati orang-orang.

 

Pantai Sendang Biru

Pantai Sendang Biru

 

Pantai Sendang Biru

Pantai Sendang Biru

 

Setelah semua urusan selesai dan peserta sudah berkumpul semua, saya dan rombongan pun bersiap menuju kapal yang akan membawa kami ke Pulau Sempu pada pukul 15.30. Satu kapal bisa memuat sekitar 10 sampai 15 orang dengan biaya PP Rp. 100.000 per kapal. Jangan lupa untuk mencatat no HP si pemilik kapal agar bisa dihubungi saat hendak pulang nanti. Menyeberang ke Pulau Sempu dari Pantai Sendang Biru, hanya menghabiskan waktu kurang dari 10 menit.

Menuju kapal

Bersiap menyebrang ke Pulau Sempu

Teluk  di pintu masuk menuju Pulau Sempu di kenal dengan Teluk Semut. Kapal mengantar kami sampai sini. Dan ini lah pemandangan Pantai Sendang Biru dan Teluk Semut yang sempat saya abadikan. Aroma di sekitar teluk ini agak sedikit bau anyir.

Mendekati Teluk Semut , akses menuju Pulau Sempu

Teluk Semut , akses menuju Pulau Sempu

 

Yuk semangat menuju Sempu

Yuk semangat menuju Sempu

 

Sebenarnya tempat yang jadi tujuan utama kami adalah Danau Segara Anakan yang terdapat di Pulau Sempu ini. Menurut banyak orang danau ini tidak kalah indahnya jika dibanding dengan danau yang ada di Pulau Phi Phi Thailand. Perjalanan menuju Segara Anakan lebih kurang satu jam (musim kemarau), menyusuri hutan tropis dataran rendah. Dan kami sangat beruntung karena menurut sang pemandu sudah dua minggu di pulau tersebut tidak turun hujan. Sehingga jalanan menuju Segara Anakan cukup kering dan bisa dilewati walaupun hanya dengan menggunakan sandal gunung atau sepatu biasa. Bahkan ada beberapa orang yang berjalan tanpa alas kaki. Tapi sebenarnya sangat tidak disarankan, karena banyak terdapat bekas potongan akar dan juga batu-batu karang yang tajam. Saat musim hujan perjalanan ke Segara Anakan bisa memakan waktu hingga 3 – 4 jam. Masuk akal memang, karena kondisi jalan akan sangat berlumpur saat musim hujan. Bahkan dalam kondisi dua minggu tidak turun hujan pun masih ada beberapa spot jalan yang sedikit berlumpur. Saat kondisi jalan berlumpur disarankan untuk menyewa sepatu yang ada di Sendang Biru cukup dengan haraga Rp. 10.000.  Secara garis besar sebenarnya tidak begitu sulit melewati jalan menuju Segara Anakan ini saat musim kemarau, hanya ada beberapa spot saja yang memang ada kalanya kita butuh uluran tangan orang lain. Misalnya saja saat jalan begitu menurun atau terlalu menanjak dan saat harus menerobos atau melompati kayu yang melintang di tengah jalan.

 

Semangattt Kaka, jalanannya cukup menanjak nihh..

Semangattt Kaka, jalanannya cukup menanjak nihh..

 

Sore hari menjelang pukul 6

Semangat!

 

Setelah melewati perjalanan yang cukup melelahkan, mulai melihat ada tanda-tanda kehidupan. Air laut mulai terlihat di sisi-sisi jalan. Saat sudah hampir sampai ini lah medannya sedikit agak berat. Saat melewati jalan ini perlu ekstra hati-hati terutama di malam hari, agar tidak terperosok ke dalam jurang yang kedalamannya sekitar 1 sampai 3 meter. Saya sempat mulai khawatir karena hari sudah mulai gelap dan langit pun mulai menurunkan tetesan-tetesan kecil air hujan. Saya membayangkan di mana nanti saya akan berteduh, tenda belum didirikan, tempat tujuan belum juga terlihat. Saya juga khawatir bagaimana jika hujan tidak berhenti, bagaimana perjalanan pulang besok jika jalanan menjadi berlumpur.

Sekitar 10 menit dari semua rasa khawatir itu tiba lah saya di Segara Anakan, dan di sana sudah ada beberapa tenda yang yang berdiri. Banyak pula rombongan yang baru mulai mencari tempat untuk berkemah. Rasa capek saya semakin terasa, karena saya tidak menemukan danau seperti yang ada di internet 😥  Yang saya lihat hanya lah hamparan pasir dan batu karang yang tidak terlalu besar. Ya sudah lah mungkin ada di sisi lain yang tersembunyi fikir saya mencoba menghibur diri. Tapi tetap saja yang ada difikiran saya bukan lagi bagaimana sebenarnya keindahan Segara Anakan, tapi bagaimana perjalanan pulang besok, apakah akan masih ada tenaga yang tersisa? Ingin segera pulang dan ingin segera tiba di Sendang Biru lagi. Dan ternyata ada beberapa teman juga yang memiliki fikiran sama dengan saya hahaha..

Setelah semua berkumpul kami pun mulai mencari tempat dan mendirikan tenda, dan mulailah ada ketenangan karena hujan tampaknya mulai reda. Setelah semua tenda (tujuh tenda) berdiri saya dan teman-teman pun mulai membereskan barang-barang bawaan kami. Setelah semua beres dan mendapatkan tenda, acara dilanjutkan dengan masak-memasak. Malam itu kami hanya makan mie rebus dan minum kopi hangat. Alhamdulillah cuaca semakin malam semakin membaik, di langit pun sudah mulai tampak beberapa bintang.

Laparrr

Akrabisasi

Samar-samar terdengar seperti air hujan yang mengenai tenda (ini serius), saya lihat jam sudah menunjukkan pukul 4 pagi. Saya mulai penasaran, apakah pagi ini hujan turun lagi? Berlahan tapi pasti saya buka pintu tenda, dan…. Subhanallah ternyata bukan suara air hujan yang beradu dengan dinding tenda, tapi suara angin dari sisi Segara Anakan. Dan saya semakin terpesona karena di samping bulan yang dengan gagahnya berdiri di tingginya langit, hamparan daratan pasir yang kemarin sore saya lihat kini sudah mulai terisi oleh air laut yang luar biasa jernihnya. Air Danau Segara Anakan ternyata berasal dari air Laut Samudera Hindia. Air itu masuk melalui lubang bulat besar di tebing bagian tenggara. Sehingga saat ombak masuk, air akan terlihat begitu indah tersembur sedikit demi sedikit melalui lubang itu seperti api yang keluar dari mulut naga. Dan semakin siang deburan ombak semakin besar dan kapasitas air yang masuk pun semakin  banyak.. Sungguh surga dunia.

Ngintip dulu yukk

Suasana Subuh di Segara Anakan

Setelah sholat subuh dan sarapan pagi saya pun tidak sabar untuk segera berjalan-jalan di sekitar Segara Anakan. Di pinggir danau sudah ada beberapa orang yang asyik berfoto, ada pula yang tampak menikmati aktifitas snorkeling. Di sudut lain ada banyak kera yang mulai bermunculan di pepohonan, tapi tenang saja karena kera-kera itu tidak mengganggu. Malah mungkin kita yang sebenarnya mulai mengganggu habitat mereka. Di atas tebing ada beberapa orang yang melakukan aktivitas memancing. Sementara yang lain ada pula yang sedang memasak.

Segara Anakan

Segara Anakan pagi hari

 

Lagi liatin yang masak

Muka Bangun Tidur

 

Ibu-ibu masak yukk

Masak Sarapan Dulu

Setelah menyusuri pesisir Segara Anakan, saya pun mulai tergoda untuk naik ke atas tebing dan mencari tahu apa yang ada di baliknya. Dari atas tebing di sisi Segara Anakan ini terlihat hamparan Samudera Hindia yang amat luas. Namun hamparan laut itu tak bisa tersentuh karena dalamnya mungkin ada sekitar 8 – 10 meter dengan ombak yang besar. Agak mengerikan memang jika berdiri terlalu dekat. Bila sampai terjatuh tidak akan ada yang bisa menolong selain Tuhan. Karena itu biasanya tidak diperbolehkan menaiki tebing tersebut. Dan dari semua itu saya hanya bisa bilang “Luar biasa keajaiban Tuhan yang disentuhkan pada Pulau Sempu ini.”

Ini tebingnya

Ini sebenarnya cukup tinggi

 

Samudera Hindia

Samudera Hindia

 

Mancing mania mantappp

Mancing Mania Mantapp

Dan yang juga luar biasa amazing-nya adalah pemandangan Segara Anakan yang dinikmati dari atas tebing.

 

Segara Anakan

Menjelang siang air semakin penuh

 

Cheeeeess

Segara Anakan dilihat dari atas tebing

Setelah puas berdiri di atas tebing, saya pun kembali lagi ke Segara Anakan. Karena semakin siang air semakin pasang, dan keindahaan danau itu pun semakin sempurna. Airnya yang bening membuat ikan-ikan kecil terutama ikan cucut terlihat dengan sangat jelas. Air yang dangkal dan bening ini membuat Segara Anakan memukau setiap pengunjungnya.

Pasir Putih

Pantai Segara Anakan

 

love this spot

Lubang tempat masuknya air dari samudera Hindia

 

Pukul 09.30 kami bersiap-siap untuk meninggalkan Pulau Sempu meskipun belum puas menikmati pesonanya. Padahal sebenarnya pada jam-jam tersebut keindahan Segara Anakan terlihat sempurna.

Diperjalanan pulang saya bertemu dengan banyak orang yang menuju Segara Anakan, bukan hanya orang dewasa, bahkan ada seorang Bapak yang mengajak anaknya yang masih balita. Selain wisatawan lokal banyak pula wisatawan asing yang sepertinya penasaran dengan keindahan Segara Anakan.

 Note:

Rincian share cost

Sarden 2 kaleng                                  : Rp. 84.000

Sewa Tenda dll                                   : Rp. 440.000

Air Mineral                                           : Rp. 240.000

Sewa Elf Malang – Sdg Biru PP         : 1.250.000

Minyak Tanah                                     : Rp. 15.000

Tiket Masuk Sendang Biru                 : Rp. 145.000

SIMAKSI                                             : Rp. 100.000

Kapal Sdg Biru – Teluk Semut PP     : Rp. 200.000

Sewa Guide 2 hari                              : Rp. 250.000

Jasa penitipan barang                        : Rp. 20.000

Total  : Rp. 2.744.000 => @ Rp. 109.760

 

Tips

  1. Jika ingin menyewa elf /mobil dari Malang ke Sendang Biru,  cari lah di biro travel yang jelas dan terpercaya. Berhati-hatilah terhadap supir elf ‘liar’! Lebih baik sewa angkot daripada elf!
  2. Bawalah air mineral lebih jika ingin menginap di Pulau Sempu, karena di sana tidak terdapat air tawar.
  3. Pisahkan barang-barang berharga dalam tas kecil dan bawalah kemana saja anda pergi, karena ada beberapa kasus kehilangan barang.
  4. Yang sebaiknya dibawa adalah obat-obatan pribadi, senter, makanan ringan penahan lapar, pop mie, dan coklat (katanya bisa mencegah buang air besar, karena di sana tidak ada toilet.
  5. Tidak ada salahnya membawa jas hujan yang tipis, jika anda ke Pulau Sempu saat musim hujan.
  6. JANGAN membuang sampah sembarangan.
  7. Dan yang tidak kalah penting yang harus dibawa adalah Kamera

Find more photos https://www.facebook.com/media/set/?set=a.3951568040985.151269.1633665380&type=3

H-3 BackPacker Pulau Sempu & Bromo

H-3 BackPacker Pulau Sempu & Bromo

Wah makin gak sabar nih nunggu hari kamis. It’s time to visit Pulau Sempu dan Gunung Bromo. Kali ini saya akan melakukan perjalanan ‘seperti biasa backpacker murah meriah’ bersama anak-anak Backpacker Indonesia. Awalnya saat rencana trip ini dibuka, ada 30 orang peserta yang ikut gabung. Seiring waktu berjalan akhirnya hanya ada 26 orang yang insyaAllah positif ikut dalam trip ini, 17 orang peserta dari Jakarta, 7 orang dari Bandung, 1 orang dari Surabaya, dan 1 orang dari Jogja. Kenapa saya memutuskan ikut dalam trip ini ada 2 alasan, yang pertama karena memang saya sudah sangat ingin menikmati keindahan Bromo beserta perkampungannya, dan yang kedua adalah karena inisiator/ketua perjalanan kali ini berdomisili di Bandung.

Itinerary adalah sebagai berikut:

DAY 1 (Jum’at, 6 Juli 2012)
07.00 – 09.00 Meeting point dan persiapan camping
09.00 – 11.30 Perjalanan menuju Pantai Sendang Biru
11.30 – 13.00 Istirahat (Sholat Jum’at)
13.30 – 14.00 Menyebrang menuju Pulau Sempu
14.00 – 16.30 Tracking menuju Segara Anakan
17.00 – selanjutnya nge-Camp (bagian ini yang paling menyenangkan )

DAY 2 (Sabtu, 7 Juli 2012)
06.00 – 09.00 Basah2an di Segara Anakan, hunting2 photo (bagian ini juga tak kalah menyenangkan )
10.00 – 12.30 Tracking pulang menuju dermaga penjemputan kapal
13.00 – 13.30 Menyebrang menuju Pantai Sendang Biru
13.30 – 15.00 Istirahat (bebersih)
15.00 – 17.30 Perjalanan menuju Malang
18.30 – 21.00 Perjalanan menuju Bromo
22.00 – selanjutnya Istirahat di Homestay/Hotel/Villa

DAY 3 (Minggu, 8 Juli 2012)
03.15 – 04.30 Perjalanan menuju Penanjakan (Sunrise View Point) menggunakan Jeep
04.30 – 06.00 Menikmati Sunrise
06.30 – 09.00 Menuju destinasi lain (Explore Lautan Pasir / Savana)
09.00 – 10.00 Kembali menuju Homestay/Hotel/Villa
10.30 – 13.00 Perjalanan kembali menuju Kota Malang

Estimasi pengeluaran Malang – Pulau Sempu
 *Perhitungan ini untuk 29 orang, karena perhitungan ini dibuat sebelum tiga orang mengundurkan diri.
1. Sewa Tenda : 25.000 x 8 unit x 2 hr : 400.000,-
2. Sewa Matras : 1000 x 29 unit x 2 hr : 58.000,-  
3. Sewa Kompor : 25.000 x 2 unit x 2 hr : 100.000,-
4. Beli Gas : 25.000 x 2 pcs : 50.000,-   
5. Tip Pemandu   : 100.000 x PP : 200.000,-
6. Aqua botol : 3000 x 63 btl : 189.000,- (29 org x 2btl + 5 btl u/ msk)
7. Angkot Malang Sendang Biru PP x 3 unit : 1.800.000,-
8. Ijin Masuk sendang biru : 50.000,-
9. Tiket Masuk Sempu 6000 x 29 org : 174.000,-    
10. Sewa Kapal 100.000 x 3 unit : 300.000,- 
11. Belanja DLL  : 150.000,-
Estimasi pengeluaran Malang – Bromo
1. Sewa Elf 700.000 x 2 unit PP : 1.400.000,- 
2. Sewa Penginapan 400.000 x 2 unit : 800.000,-
3. Sewa Jeep 300.000 x 4 unit : 1.200.000,-
4. Tiket Masuk Bromo 6000 x 26 org : 156.000,-
 
Grand Total Biaya Sempu & Bromo : Rp. 7.027.000
Jadi perkiraan biaya yang dikeluarkan per orang adalah Rp. 257.000
 Nanti saya akan share lagi cerita perjalanan saya dan teman-teman Backpacker Indonesia. Semoga perjalanan kali ini menyenagkan dan lancar. Aminnn…
Peserta Regional Bandung

Backpacker Ke Pulau Tidung

Jembatan Cinta di pagi hari

Jembatan Cinta di pagi hari

Selamat Siang Semangat Pagi..

Kali ini saya akan bercerita mengenai perjalanan saya menuju ke Pulau Tidung. Sedikit info Pulau Tidung adalah salah satu kelurahan di kecamatan Kepulauan Seribu Selatan, Kabupaten Kepulauan Seribu, Jakarta, Indonesia. Dari kepadatan kota Jakarta dan dengan segala masalahnya, ternyata Jakarta masih memiliki tempat wisata yang jauh dari asap, macet, dan sampah.

Langsung saja saya akan bercerita mengenai kronologis perjalanan kami menuju ke Pulau Tidung. :^_* Hari itu tepatnya tanggal 31 Maret 2012 yang lalu saya bersama tiga orang teman bertolak dari Bekasi Timur menuju Pulau Tidung menggunakan taksi Primajasa yang sudah  dipesan dari malam sebelumnya. Saya berangkat dari Bekasi pukul 05.00 setelah sholat subuh dan pukul 06.00 lebih kami sudah sampai di Dermaga Muara Angke Baru dengan argo taksi menunjukkan nilai Rp.127.000.

Penampakan Dermaga

Dermaga Muara Angke Baru

Meskipun dermaga ini baru diresmikan beberapa bulan yang lalu oleh Gubernur Jakarta, namun kondisi dermaga sangat mengenaskan. Bangunan tidak terawat dan kosong tanpa fasilitas apapun. Tidak ada mushola dan kamar mandi yang tidak bisa digunakan karena tidak ada air dan kondisinya yang sangat jorok. Tapi semoga sekarang kondisinya sudah lebih baik, aminn.. ^_^ Dan satu lagi bau khas ikan asin tercium sangat tajam, jadi saran saya gunakanlah masker.. hehe.. Sebenarnya ada juga dermaga Muara Angke Lama yang berada tidak jauh dari dermaga Muara Angke Baru. Di sana banyak terdapat kapal nelayan yang juga melayani keberangkatan ke Pulau Seribu.

Sambil menunggu loket di buka, kami berjalan-jalan disekitar dermaga. Loket di buka sekitar pukul 7, dan jumlah pengunjung pun sudah membludak.
Tas diletakkan bederet sebagai tanda nomor antrian.. 😀

Tas diletakkan bederet sebagai tanda nomor antrian beli tiket.. :D

Tas diletakkan bederet sebagai tanda nomor antrian beli tiket..

Pemandangan sekitar dermaga

Pemandangan sekitar dermaga

Pemandangan sekitar dermaga

Kapal menuju Pulau Seribu

Setelah mendapatkan tiket dengan harga Rp. 32.000 kami pun menunggu lagi untuk mendapatkan giliran naik kapal. Ada satu kapal Lumba-lumba dan beberapa kapal Kerapu yang berangkat hari itu. Kapal kerapu ukurannya kecil dan hanya memuat 15 orang. Sedangkan kapal Lumba-Lumba yang ukuranya lebih besar memuat sekitar 25 orang. Kami sendiri memilih menaiki kapal Lumba-lumba yang terlihat lebih nyaman karena ukuran kapalnya yang lebih besar. Di dalam kapal Lumba-Lumba ini dilengkapi dengan fasilitas toilet, tv dan full music. Penumpang juga diberi makanan ringan dan minuman cuma-cuma.

Pukul 08.00 lebih kapal baru beranjak meninggalkan dermaga. Perjalanan dari Muara Angke menuju Tidung menghabiskan waktu sekitar 2.5 jam. Selain di pulau Tidung ada beberapa penumpang yang turun di pulau-pulau lain. Pulau Tidung merupakan tempat pemberhentian terakhir.

Nonton film Si Pitung di dalam kapal

Nonton film Si Pitung di dalam kapal hihi

Sekitar pukul 10.30 kami tiba di dermaga Pulau Tidung. Dan di sana kami sudah ditunggu oleh Pak Haji Mid yang memiliki penginapan ‘Lima Bersaudara’. Setelah bertemu dengan Pak Haji Mid, kami langsung diantar menuju penginapan yang letaknya sekitar 300 meter dari dermaga. Di depan penginapan sudah disediakan sepeda yang yg akan kami gunakan untuk berkeliling di Pulau Tidung. Harga sewa sepeda adalah 15ribu per sepeda selama 2 hari 1 mlm kami disana.

Penginapan Pak Haji sangat nyaman, dilengkapi dengan 3 tempat tidur full AC, TV, dispenser lengkap dengan air mineralnya, dan juga meja rias yang sangat diperlukan oleh wanita untuk dandan hahaha.. Di belakang penginapan terdapat saung untuk bersantai sambil memandang lautan yg tak terlihat batasnya. Benar-benar bisa membuat fikiran menjadi fresh dan melupakan sejenak rutinitas kerja yang kadang membosankan.

Foto bersama Bpk. Haji Mid

Foto bersama Bpk. Haji Mid

Pemandangan belakang penginapan

Pemandangan belakang penginapan

Pemandangan belakang penginapan

Pemandangan belakang penginapan

Setelah beristirahat sejenak, kami pun mulai bersepeda ria menyusuri jalan menuju pantai dan Jembatan Cinta. Nikmat sekali bersepeda ditemani semilir angin yang berhembus dari pantai sepanjang jalan. Yang saya rasakan waktu itu agak sulit menemukan tempat makan di sana, ada beberapa rumah makan tapi sudah gulung tikar tampaknya. Agar tidak kelaparan seperti yang saya alami sebaiknya pesan penginapan sepaket dengan makan. Ada beberapa penjual gorengan di pinggir jalan, namun rasanya jauh dari kata enak. Akhirnya ketika hampir sampai di Jembatan Cinta kami menemukan satu rumah makan padang. Saya pun makan dengan lauk ayam sayur seharga 8000 rupiah, meskipun rasanya tidak seenak rumah makan padang Simpang Paris di Bandung tapi lumayan daripada tidak samasekali. Di belakang rumah makan padang ini merupakan tempat tepat bagi yang ingin ber-camping. Tempatnya sejuk langsung menghadapa pantai yang bisa dijadikan tempat untuk bermain poli pantai dan banyak pepohonan yang bisa dijadikan tempat ayunan, selain itu juga ada beberapa saung untuk bersantai.

Mari camping di sini

Mari camping di sini

Perjalanan dari Penginapan menuju Jembatan Cinta memakan waktu sekitar 15 – 20 menit. Setelah memarkirkan sepeda dengan biaya 2000 rupiah kami langsung berjalan menyusuri jembatan menuju Pulau Tidung Kecil. Jembatan yang terbuat dari kayu memang agak sedikit mengerikan, karena sudah banyak bagian kayu yang lapuk dan berlubang. Tapi Tidak perlu khawatir, karena sebagian jembatan telah mulai direnovasi menggunakn semen. Cuaca sangat panas, tapi tidak terasa karna kita bisa menikmati pemandangan ikan-ikan kecil yang ada di bawah jembatan. Ingin rasanya turun dan menangkap ikan-ikan itu, tapi sayang banyak bulu babi 😀

Sebelum tiba di Tidung saya sempat bertekat setengah bulat untuk menguji nyali dengan terjun dari jembatan cinta seperti yang banyak saya lihat di foto-foto orang lain, tapi ohh ternyata jembatan itu sangat tinggi dan saya sungguh tidak punya nyali. hahaha hiksss.. Dan memang tidak banyak orang yang berani melakukannya. 😀

Welcome

Welcome

Tandai sepedamu agar tidak tertukar

Tandai sepedamu agar tidak tertukar

Menuju Tidung Kecil

Menuju Tidung Kecil

Lanjut jalan lagi

Lanjut jalan lagi

banana boat

banana boat

sejauh mata memandang

sejauh mata memandang

boleh dicoba nih

boleh dicoba nih

Sore harinya setelah kembali dari Pulau Tidung Kecil kami langsung menuju bagian barat pulau untuk mengejar sunset. Meskipun bagian barat pulau ini tidak seramai bagian timur dan cenderung dipenuhi dengan pohon dan semak belukar, tapi tidak perlu khawatir tersesat karena jalan setapak jelas terlihat. Jika kita terus mengayuh sepeda ke arah barat, setelah melewati semak belukar, kita akan menemukan lapangan sepak bola, gedung sekolah, dan saung-saung di pinggir pantai yang bisa kita gunakan untuk bersantai sambil menunggu matahari terbenam. Di tempat ini lah banyak orang asing yang bermain sepak bola bersama anak-anak kecil penduduk setempat.

Sunset

Sunset

Sunset

Sunset

Menikmati sunset

Menikmati sunset

Malam hari kami sudah kelelahan, jadi kita tidak melakukan aktifitas apa-apa selain tidur.. Padahal saya sangat ingin memancing ikan di jembatan cinta. Malam hari kami hanya makan nasi goreng, padahal saya berharap menemukan rumah makan yang menyediakan udang atau cumi bakar, hehehe..

Pagi setelah sholat subuh saya langsung menu Jembatan Cinta lagi untuk mengejar Sunrise.. Pukul 05.00 pagi di sana sudah ada beberapa orang yang siap dengan cameranya untuk mengabadikan sang Sunrise..  Yukk hunting photo lagi sebelum pulang.. 😀

Sunrise

Sunrise

IMG_1393

Pukul 09.30 kami sudah siap-siap berkemas untuk meninggalkan Pulau Tidung.. Dan tepat jam 10.00 kapal Lumba-Lumba sudah siap membawa kami pulang. Karena merasa belum puas dengan wisata kali ini, saya berencana untuk kembali lagi ke Pulau ini suatu saat nanti… 😀

Rincian Biaya:
Taxi : Rp. 127.000 = @ Rp. 31.750
Kapal PP : Rp. 64.000
Penginapan : Rp. 400.000 = @ Rp. 100.000
Sewa Sepeda : Rp. 15.000
Makan 3x : Rp. 35.000
DLL : Rp. 20.000
Total Biaya per orang (tanpa biaya dr muara angke ke rumah masing) sekitar : Rp. 265.750

No. HP Bpk. Haji Mid.  : 0858 8874 2129